AES 993 Imlek
joefelus
Sunday February 11 2024, 1:23 PM
AES 993 Imlek

Saya memang tidak merayakan Tahun baru imlek (Lunar New year), bahkan saya sama sekali tidak mengerti maupun menggunakan lunar calendar, juga tidak pernah tertarik untuk mempelajarinya. Saya hanya tahu bahwa orang-orang merayakan tahun baru Imlek sekitar akhir bulan Januari atau awal Februari. Dulu malah saya tidak tahu sama sekali orang-orang itu merayakan apa. Yang jelas di jaman saya kecil, seringkali ada barongsay atau yang umum dikenal dengan Lion dance. Ramai sekali, apalagi saya tinggal di kota kecil yang memiliki kelenteng yang lumayan megah. 

Saya ingat sekali pihak pengelola kelenteng mendatangkan group barongsay yang memiliki ketrampilan akrobatik yang sangat luar biasa. Bagi saya setidak-tidaknya waktu itu mereka seperti orang sakti yang dapat melompat sangat tinggi untuk menggapai amplop yang diisi dengan uang. Bahkan penduduk menggantung amplop uang itu disebuah tiang yang tinggi di depan rumah mereka, lalu grup barongsay itu berkeliling kota sambil melakukan gerakan-gerakan akrobatik, berdiri dipunggung anggota penari lain membuat menara hingga mampu menangkap amplop yang digantung sangat tinggi. Luar biasa sekali. Yang paling "sakti" malah mampu melompati orang dewasa. Saya yang sejak jaman kecil sangat menyukai cerita silat, langsung terkagum-kagum dan mengira para jago akrobat itu memiliki ilmu ginkang atau ilmu meringankan tubuh sehingga dapat "terbang" Hahaha..   

Tidak hanya barongsay, pihak kelenteng seringkali menyelenggarakan pertunjukan wayang siang dan malam. Lengkap dengan musik gamelan tradisional. Jika siang mereka menggunakan wayang dari kulit, tapi kalau malam mereka menggunakan layar dan kita dapat menonton bayangannya (shadow puppets) Mereka tidak pernah berhenti melakukan pertunjukkan dan para penduduk dengan setia menonton siang dan malam. Selama ada pertunjukkan, selalu ada penjual dan penjaja makanan yang berjualan dimana-mana, sehingga para penonton tidak perlu pulang, mereka dapat membeli makanan jika lapar. Jaman kecil saya tidak terlalu tertarik pada wayang karena tidak mengerti, apalagi seringkali mereka menggunakan bahasa daerah yang semasa kecil tidak terlalu saya pahami karena di dalam keluarga kami tidak menggunakan bahasa daerah setempat. Wayang di kota masa kecil saya menggunakan bahasa Jawa, dan seringkali bahasa Jawanya yang halus bukan bahasa jawa pasaran. Keluarga saya berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan orang tua lebih sering menggunakan bahasa Sunda.

Itu cerita jaman kecil. Kerukunan beragama sepertinya juga sangat terjalin dengan baik. Di kota kecil itu ada beberapa gereja, Ada gereja Katolik dan gereja Protestan, Betel dan Pantekosta, Lalu ada masjid agung yang terletak di alun-alun, dan sebuah kelenteng megah di daerah pecinan berdekatan dengan rumah tinggal keluarga saya. Jika ada acara gereja, maka para penduduk berdatangan, tidak pandang bulu agamanya apa, terutama jika ada pertunjukan. Di luar seperti biasa banyak orang berjualan. Di Kelenteng dan Mesjid juga begitu. Semua rukun dan masalah agama sangat minim. 

Nah, hari ini juga saya pergi keluar kota bersama beberapa orang kawan. Ada teman kami yang merayakan thun baru dan mengundang kami untuk berkumpul. Saya senang saja, walau tidak ikut merayakan. Bagi saya, merayakan sesuatu itu harus benar-benar mengerti dan "mengimani" jika tidak, maka tidak perlu repot-repot merayakan. Nah hari ini karena diundang dan tentu saja undangan kumpul-kumpul orang Indonesia selalu berkaitan dengan makanan. Kapan lagi bisa menikmati makanan khas Indonesia? Walau salju turun sejak malam hari, itu tidak menghalangi kami untuk berpergian. Justru kami merasa "diberkati" karena konon katanya jika tahun baru imlek selalu ditandai dengan curah hujan. Itu artinya kami diberi berkah yang sangat baik diawal tahun. Nah karena berpetapan dengan musim dingin, di sini bukan hujan melainkan turun salju. Kota saya salju tidak teralu tebal hanya sekitar 5cm, tapi di kota yang kami datangi lumayan tebal, bahkan katanya hamoir 1 kaki (30.48cm)

Kami tiba di sana langsung disambut dengan makanan. Ada lontong sayur, nasi goreng, mie goreng, capcay, telur balado, acar,  cendol, kue-kue seperti bolu tape, tape singkong, bala-bala, martabak mini, dan sebagainya. Itu belum termasuk makanan kering seperti kue sagu, nastar dan sebagainya. Pesta orang Indonesia itu selalu berlimpah makanan. Bahkan ketika kami mengundang teman-teman kulit putih orang Amerika, biasanya membuat mereka terkagum-kagum sebab tidak ada seorangpun yang pulang dengan tangan kosong. kami selalu menyediakan kotak untuk mebawa makanan pulang! Sepertinya tradisi semacam itu tidak lazim diantara mereka sehingga memang mereka heran tapi juga senang karena tiba di rumah mereka punya banyak persediaan makanan. Nah, mereka sangat senang jika kami undang, bahkan ada teman yang sengaja membawa kantong belanja sehingga bisa membawa "banyak" hahahaha.. Serius loh!

Pesta orang Indonesia, tidak masalah untuk merayakan apa, pasti identik dengan kekenyangan! Siang atau sore tadi saya sampai sulit bernapas karena kekenyangan. Kapan lagi bisa menikmati makanan tanah air sepuas-puasnya? Tuan rumah tadi membuat tape (peuyeum). Ini makanan yang selama 7 tahun lebih di Fort Collins tidak pernah saya jumpai. Tentu saja tidak saya lewatkan, apalagi tuan rumah juga membuat bolu tape. Wow! Langsung ingat toko kue di jalan Martadinata langganan saya hahaha.. 

Foto credit: rejabar.republika.co.id

You May Also Like