Setiap orang di berbagai belahan dunia mempunyai kebiasaan masing-masing dalam menyajikan makanan di tahun baru Imlek. Sekali lagi saya tidak merayakan, tapi saya tahu beberapa jenis makanan yang sering dikonsumsi oleh teman-teman saya yang merayakan, terutama di masa kecil yang paling banyak memberikan kesan dalam perayaan hari spesial ini.
Saya banyak memiliki teman-teman yang masih mengikuti tradisi leluhur Tionghoa. Hampir di setiap rumah yang saya datangi memiliki meja besar untuk sebahyang dengan foto-foto kuno yang saya asumsikan sebagai leluhur mereka. Di meja yang besar dan lebih tinggi dari saya (di masa kecil tentunya) ada tempat pedupaan, berupa mangkuk atau seperti vas bunga berisi mungkin pasir. Mangkuk itu dari tembikar berbagai bentuk, ada yang berbentuk mangkuk kecil, tapi tidak sering juga seperti vas bunga yang tinggi dan berukir indah. Di mangkuk itu lalu ditancapkan semacam insense yang berbentuk seperti lidi dengan lapisan insense di sebagian besar batangnya lalu dibakar dan akan memberikan keharuman yang khas di seluruh rumah. Jaman kecil orang-orang menyebutnya "hio". Nah batang insense ini dibakar ketika mereka sedang bersembahyang. Ini tradisi yang tidak dikenal di keluarga saya sehingga setiap kali main ke rumah teman, saya sangat tertarik dan memperhatikan apa saja yang ada di atas meja.
Di atas meja itu selain pedupaan, juga ada berderet mangkuk-mangkuk kecil yang berisi air teh dan (katanya) juga arak, lalu ada mangkuk besar berisi buah-buahan, makanan kecil dan jika pada saat perayaan ada persembahan berbentuk berbagai makanan. Yang saya saksikan ketika mereka melakukan ritual doa, makanan dan minuman yang biasa disebut "suguhan" disiapkan, lalu membakar beberapa buah lidi insense lalu pendoa akan berdiri di depan meja sembahyang dan mengangkat lidi-lidi itu hingga lebih tinggi dari kepala mereka. Sungguh saya tidak tahu berapa kali mereka lakukan itu sebelum kemudian insense tadi ditaruh di mangkuk berpasir di sisi kiri dan kanan. Menurut teman saya, katanya disamping doa, mereka juga mengundang para leluhur untuk hadir dan menikmati makanan yang mereka persembahkan. Saya tidak tahu berapa lama mereka memberi kesempatan bagi para leluhur untuk menikmati makanan itu, lalu sesudah menunggu sekian lama, kemudian mereka akan berlutut di depan meja sembahyang dan melempar beberapa uang koin ke atas dan melihat kombinasinya. Sayangnya saya tidak pernah bertanya aturannya, tapi yang saya pahami katanya itu merupakan cara mereka untuk mengetahui apakah para leluhur sudah selesai menikmati hidangan persembahan itu atau belum. Jika belum, mereka akan menunggu lagi. Lalu dimulai lagi ritual melempar uang ke atas dan melihat kombinasinya, seperti coin toss untuk menentukan pemenang dalam olahraga, tapi untuk ritual sembahyang ini ada lebih dari 1 koin. Begitu ada tanda bahwa para leluhur sudah selesai menikmati makanan, baru keluarga yang merayakan hari spesial itu memulai pesta dan menikmati makanan yang mereka siapkan.
Nah makanan apa yang biasa disajikan? Yang selalu membuat saya terkesan adalah berbagai jenis makanan yang mereka taruh di meja sembahyang. Yang saya ingat adalah babi panggang, ikan kukus yang biasanya sejenis ikan bandeng atau kakap putih, entah dimasak apa, saya hingga saat ini belum pernah merasakannya. Dan favorit saya adalah pek cam kee atau ayam rebus. Untuk sembahyang ayamnya utuh dan dibentuk seindah mungkin, seringakali juga bebek yang digunakan, tapi bebek tentunya jauh lebih mahal sehingga ayam rebus ini menjadi yang paling sering saya lihat. Saya berusaha mencari resepnya dan akhirnya mengetahuio cara memasaknya, yaitu ayam direbus dengan jahe. Nah yang menarik yang sangat saya sukai ketika diundang makan di rumah teman adalah saos pencelupnya. Jadi bisanya makan dengan nasi lalu ayam dicelup kedalam saos yang berisi minyak, bawang putih, dan sepertinya kecap asin. Terus terang di masa kecil ini adalah makanan favorit saya yang tidak pernah saya nikmati di rumah sendiri sebab ibu saya tidak pernah membuatnya. Kemudian akhirnya saya tahu bahwa makanan jenis ini sangat populer di Singapura dan Malaysia yang disebut dengan chicken rice, sementara jika di Hawaii mereka menyebutnya cold ginger chicken. Di Hawaii ayam rebus jahe ini kemudian dipotong-potong lalu diberi banyak potongan kucai dan daun bawang lalu disiram dengan minyak panas. Makanan yang sangat simpel tapi sangat aromatik dan sedap. Kudapan tahun baru yang paling khas juga adalah kue keranjang. Ini sebenarnya mirip sekali dengan dodol, yang dibuat dari ketan dan gula merah. Disebut kue keranjang karena membuatnya dicetak di sebuah kerangjang lalu dikukus. Saya biasanya tidak langsung menikmatinya tapi menunggu hingga kue keranjang ini menjadi keras, butuh beberapa hari hingga menjadi keras, lalu dikerat kerat dicelup telur yang sudah dikocok dan digoreng. Cara lain yang saya sukai adalah saya potong-potong dadu lalu dikukus dan ditaburi parutan kelapa seperti ongol-ongol.
Tahun baru juga identik dengan musim jeruk mandarin dan kum kuat (kumquat). Saya dulu tidak pernah tertarik pada kum kuat karena menurut saya sangat masam rasanya, hingga baru-baru ini saya sadari bahwa menikmati dengan kulitnya malah terasa sangat manis. Saya menyesali diri bahwa kenapa tidak dari dulu-dulu saya mencobanya hahahaha.. Ada banyak lagi jenis makanan seperti misalnya sejenis bubur dengan 8 jenis igredients. Angka 8 memang merupakan angka spesial untuk manyarakat Tionghoa karena menyimbolkan kemakmuran dan kesuksesan. Saya ingat di jaman kecil ada sebuah pemakaman milik pribadi. Saya tidak ingat pemiliknya siapa, tapi saya yakin sangat amat kaya sehingga jalan menuju pemakaman keluarga itu menjadi sebuah taman dengan lorong yang panjang dan besar dan disamping lorong itu ada patung-patung dewa sejumlah 8 buah. Saya menyebutnya pemakaman 8 dewa.
Banyak lagi makanan yang dikonsumsi di tahun baru dan rata-rata memiliki simbol tertentu, seperti misalnya mie yang menandakan panjang usia, ada juga sejenis dimsum atau dumpling yang merupakan simbol kekayaan dan kemakmuran, lalu ada sejenis ronde atau bola-bola dari ketan yang berkuah yang menandakan kebersamaan dengan keluarga, dan lain sebagainya. Ya, makanan di tahun baru ini sepertinya bukan hanya sekedar makanan tapi juga merupakan tradisi, ritual, pengharapan, doa dan juga simbol keharmonisan dalam keluarga. Makanan ini melambangkan aspek-aspek kehidupan.
Foto credit: circledna.com