Percaya Diri. Sering disebut-sebut. Tapi kita tahu ini bukan hal yang mudah. Contoh sederhananya, sangat sulit menemukan orang yang bersedia, pede maju untuk memimpin sesuatu. Sesederhana memimpin doa atau terlebih dahulu melakukan sesuatu. Atau, dalam konteks ruang penulisan ini bagimana kita bisa mendorong diri berbagi cerita lewat tulisan-tulisan kita 😊. Kita ga pede.Â
Kalau kita ga mengekspresikan diri, manis² aja, menjawab dengan senyuman, kita merasa aman-aman aja. Biarkan orang lain maju. Karena orang ga bisa menilai diri kita. Tapi di sisi lain menyembunyikan di di dalam kerangkeng kedirian kita juga membuat kita ga bisa berkembang sebagai individu.
Dulu saya juga bukan orang yang sangat ga pedean. Sampai hari ini saya sering berpikir apa penyebabnya... Kemungkinan besar adalah karena kita selalu membandingkan diri dengan orang lain. Orang lain lebih pandai berdoa, lebih bagus tulisannya, lebih pinter, lebih cantik atau ganteng dan seterusnya. Entah bagaimana mindset ini tertanam begitu kuat dalam diri kita. Ini menurut saya jadi penjara terbesar buat kita mengembangkan diri. Â
Mengembangkan diri, menurut saya adalah juga bagian dari cara kita mensyukuri hidup dan anugerah kehidupan yang kita terima dari Sang Pencipta. Jadi manusia dengan versi terbaik dari diri kita. Melakukan yang terbaik yang kita bisa sebagaimana Tuhan menciptakan diri kita.
Kalau dipikirkan, Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda. Unik, otentik. Jadi kita ga usah membandingkan diri kita dong ya. Ga ada perlunya kita membangun penjara diri lewat ke ga-pede-an kita. Ngapain juga ya?Â
Tulisan pendek terinspirasi dari kutipan yang ada di atas ini. Menarik kalau kita renungkan. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam.Â