Ini adalah masa pemilu saya yang paling damai. Untuk pertama kalinya saya tidak tergaggu sama sekali dengan segala imbas perbedaan dalam pemilihan Umum. Sejak awal saya memang menjauhi ikut serta dengan debat soal pilihan, membatasi dan memfilter berita serta bacaan yang berkaitan dengan pemilu dan tidak ikut serta dalam berbagai obrolan. Ini bukan berarti saya mengabaikannya loh, sebagai warga negara saya tetap wajib ikut serta dalam menentukan pilihan Presiden dan wakil-wakil rakyat di parlemen, saya sama sekali tidak menutup mata dalam hal ini, tapi memang sengaja saya tidak mengikut sertakan emosi pribadi. Saya punya pendapat dan pilihan sendiri, dan saya menghormati pendapat dan pilihan orang lain tanpa perlu membanding-bandingkan, mendebat dan menentukan siapa yang lebih baik, sebab ketika kita mulai menilai pilihan orang lain, disitu bibit kekisruhan ditumbuhkan.
Selama di rantau kali ini, saya mengikuti 2 pemilu untuk Indonesia dan juga menyaksikan 1 kali pemilihan presiden di Amerika. Dari pengamatan saya tentang perpolitikan di Amerika ada pelajaran berharga yang saya peroleh. Politik itu penting, tapi saya harus tetap cerdas, memiliki bekal pengetahuan yang cukup serta bijak dalam mengamati. Ini yang saya peroleh berdasarkan segala peristiwa yang terjadi di Amerika.
Dari yang saya perhatikan, politik bisa memecah belah bangsa. Ini terjadi di segala lapisan masyarakat. Mereka yang tidak cerdas dalam menghadapi masalah perbedaan, seringkali akhirnya menjadi korban. Contoh yang sangat jelas adalah mereka yang akhirnya harus mendekam di penjara gara-gara berusaha "membela" keyakinannya dalam berpolitik tapi tidak cerdas. Apakah partai yang mereka bela itu akhirnya membantu mereka? Mungkin saja, tapi harus diingat yang menjadi korban bukan hanya diri sendiri tapi juga keluarga. Mereka yang ikut-ikutan membobol gedung Capitol di Washington DC akhirnya harus menelan pil pahit. Lalu mereka yang dibela ya ongkang-ongkang saja dan yang merasa menjadi patriot pembela keyakinan harus menikmati hari-hari mereka dibalik jeruji besi. Apakah ini cerdas? Apakah mereka bijak dalam menghadapi perbedaan? Silakan renungkan sendiri.
Yang lebih lucu lagi banyak kejdian-kejadian yang receh dan sepele, kemudian dikaitkan dengan keyakinan politik. Contoh sederhana, satu menit yang lalu saya melihat iklan untuk vaksinasi. Lalu ada seseorang yang berkata," I got all and booster." Lalu ada yang berkomentar, "Aren't you a good little liberal? You go, girl!" Apa hubungannya antara vaksin dengan kelompok liberal? Apa hubungannya kesehatan dengan kelompok kiri atau kanan? Kemudian diskusi semakin panjang, ada yang bilang "I want freedom!" Dalam hati saya bilang, "jaman gini, loh!" Memang dalam kenyatan banyak orang yang lebih mempercayai konspirasi tanpa bukti daripada sains. Nah di sini lalu kita mulai bertanya-tanya, seberapa efektifnya sistem pendidikan di negara adidaya ini, sehingga faktor kecerdasan intelektual mereka masih dipertanyakan.
Politik itu bagus, tanpa politik maka negara juga tidak akan bisa baik. Yang penting adalah kecerdasan dalam berpolitik, kebijakan dalam menghadapi berbagai perbedaan. Saya sering ngobrol tentang politik dengan Kano. Nah ini yang saya kagumi dari dia. Suatu waktu Kano pernah berkata,"Some of my best friends are pro Trump. Greyson is a republican. But he is still my best friend. I don't care if he is republican or democrat, that is his freedom to choose. I have my own thing and there is nothing to do with my friend's." Lalu saya berpikir, kenapa setiap orang tidak bisa seperti itu? Bukankah ini bijak dalam berpendapat dan menerima perbedaan?
Debat yang tidak cerdas selalu mengganggu saya, oleh sebab itu saya menghindari debat dalam hal mempertahankan pendapat atas pilihan yang setiap orang tentukan. Buat apa mendebat pilihan orang lain? Itu hak mereka, dan saya punya hak untuk memilih sendiri. Jika berbeda maka itu adalah fakta dan kondisi yang ada dan tidak perlu semua pilihan sama. Lalu apakah jika berbeda maka kita tidak bisa saling berteman dan bekerjasama? Kalau Kano yang masih belasan tahun bisa melihat itu, kenapa banyak orang dewasa yang saling berkelahi karena berbeda? Nah sampai di sini saya punya alasan kuat untuk menghindar segala bentuk perdebatan yang tidak cerdas seperti ini, sebab hanya membuang-buang waktu.
Hari ini di tanah air sedang menjalani pemilu. Saya sudah menentukan pilihan dan mengirimkan surat suara yang saya terima beberapa minggu yang lalu. Mudah-mudahan saja msyarakat Indonesia memilih yang terbaik untuk menjadi pemimpin yang dapat memajukan negara kita. Itu harapan saya. Mudah-mudahan juga presiden yag terpilih akan mempu mengemban amanahnya untuk benar-benar memajukan negara tercinta.