Badai di luar tiba sesuai dengan yang diramalkan. Seluruh kota sudah bersiap-siap seperti menutup jendela dengan papan sehingga kaca tidak akan pecah terlanda badai. Kantong-kantong berisi pasir sudah disiapkan untuk menahan air agar tidak masuk ke dalam rumah. Hujan deras mulai turun, dan rumah tua dengan atap yang sudah mulai kurang baik mulai bocor. Orang tua bersama anak-anaknya langsung sibuk menyiapkan segala macam peralatan dapur untuk menampung air yang menetes dari langit-langit rumah.
Itu adalah sebuah fragmen yang saya saksikan dari sebuah film pagi ini. Akhir pekan yang bagi saya adalah saat untuk beristirahat karena hari ini sama sekali tidak harus keluar rumah, tapi menikmatinya dengan tidak melakukan apa-apa. Tapi film ini mengajak saya kembali ke masa-masa kecil puluhan tahun yang lalu, kembali ke detail yang ingin saya lupakan karena saya hanya ingin mengingat yang patut dikenang saja, yang menggembirakan dan yang membahagiakan. Tanpa perlu disuruh serabut-serabut di dalam otak saya langsung tergetar dan mengingatkan kembali suara-suara panci, rantang, bahkan ember yang dihantam oleh tetesan air dari langit-langit. Kadang suara-suara ini membuat saya sulit tertidur di malam hari apalagi diselingi suara guntur dan halilintar yang kadang-kadang terasa getarannya. Ini memory yang sudah lama terlupakan tapi tanpa dapat dibendung hadir kembali dalam ingatan saya.
"Nature can be powerful, but so are you!" Itu salah satu dialog dalam film tadi dan membuat saya kembali merenung. Kita sering melupakan kekuatan diri. Kita selalu menuntut yang ada di luar kita untuk berubah dan berusaha mengkambing hitamkan segala sesuatu yang ada di sekeliling ketika kita menghadapi situasi yang kurang baik, ketika kondisi yang kita hadapi tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
Tadi siang saya sekeluarga keluar rumah, hanya sekedar untuk melepas lelah dan ingin menikmati makanan Mexico di luar kota. Jalanan tiba-tiba sangat macet. Ini jarang sekali kita jumpai selama hampir 8 tahun tinggal di Fort Collins.
"Mungkin kereta api." Tebak saya. Kereta api di sini, yang merupakan kereta barang yang membawa kargo dan barang-barang lain, bukan kereta penumpang, seringkali terdiri dari banyak sekali gerbong, pernah saya hitung lebih dari 100 gerbong, jadi memakan waktu lama sekali dan mengakibatkan lalu lintas macet. Nah ini terjadi.
"See, there is a reason why I always like to go earlier. If something happen like this, I will never be late."
"I know, Dad. You don't have to tell me." Kata Kano dengan suara yang menunjukkan kekesalan.
Saya mengatakan itu karena melihat sebuah kesempatan untuk "mengkuliahi" Kano yang (seperti ibunya juga, hehehe) selalu mepet waktu. Saya satu-stunya dalam keluarga yang selalu siap lebih awal karena itu saya hampir tidak pernah terlambat seumur hidup, kecuali tentunya jika melibatkan Nina dan Kano.
Situasi di luar kita memang merupakan kondisi yang tidak dapat kita atur. Nature can be powerful. Hujan dan badai tidak dapat saya atur, kemacetan lalu lintas bukan kuasa saya. Tapi saya juga punya kekuatan untuk mengubah diri saya dalam menghadapi situasi di luar!
"Can we turn around and take different route?" Tanya Nina dan juga Kano.
"We can, but we have to go across the railway track. So other routes will have the same situation. We just need to adapt, wait and be patient. It'll be over soon." Kata saya dengan tenang. Dan benar saja, tidak lebih dari 10 menit kemudian lalu lintas mulai bergerak walau sangat amat lambat.
Film yang saya saksikan tadi pagi sebetulnya biasa saja, hanya saja banyak kalimat-kalimat dalam dialog para pemerannya yang begitu dalam dan mengajarkan sesuatu tentang hidup. Seperti misalnya kekuatan pikiran yang diibaratkan bagaikan magnet. Jika kita terus berpikir yang negatif dan was-was akan keburukan yang akan terjadi, maka bisa jadi menarik hal-hal negatif mendekat bahkan menjadi kenyataan.
"The more you think about something, the more you draw it into you" atau hal yang sama juga diungkapkan dengan kalimat ini, "You have to be careful, because we get what we expect."
Hidup memang penuh dengan ketidak pastian. Itu saya yakini. Tidak pernah sekalipun saya dapat menyangka bahwa hidup akan seperti yang saya jalani sekarang ini. Di masa lalu apalagi jika saya mengingat saat-saat di musim hujan dimana rumah selalu bocor, apakah pernah bermimpi bahwa beberapa puluh tahun kemdian saya akan ada dibelakang kemudi bersama keluarga menuju sebuah kota untuk menikmati makanan Mexico? Apakah dulu pernah membayangkan akan menikmati perjanan di jalan raya dengan pemandangan pegunungan yang puncak-puncaknya tertutup salju? Saat itu justru yang saya bayangkan adalah rumah yang nyaman dan ketika hujan tidak perlu sibuk mencari panci dan ember untuk menampung bocoran air dari atap!
Kita selalu berusaha menterjemahkan atau menangkap pesan yang semesta sampaikan pada kita. Itu misteri kehidupan yang harus selalu kita hadapi. Apakah benar semesta berusaha menyampaikan sesuatu? Apakah benar ada komunikasi yang sangat unik antara semesta dengan kita? Jika benar ada, bagaimana kita berusaha menangkapnya?
Seringkali saya bingung ketika harus menghadpai sebuah situasi yang rumit. Banyak pilihan yang harus saya sambil. Banyak keputusan yang penuh risiko yang harus dipilih. Lalu kemudian berusaha bertanya dan mencari jawaban atas tanda-tanda yang disampaikan oleh semesta. Tidak pernah mudah untuk dimengerti. Dalam kondisi tertentu seringkali kesabaran bukan sesuatu yang nyaman untuk dipertahankan. Seringkali kita juga harus menunggu hingga segala sesuatu menjadi lebih jelas. Tapi semuanya itu sangat abstrak.
Hidup memang sangat dinamis. Beberapa bulan yang lalu saya sangat bersusah payah menghadapi berbagai kerumitan. Saya selalu meyakini bahwa pada saatnya semua akan menjadi baik. Dan memang lagi-lagi itu terbukti. Saat ini segala sesuatu terlihat sangat baik. Saya sudah melewati hal-hal yang sulit, menyesakkan bahkan menyakitkan. Itu harus saya syukuri. Mungkin di sini kuncinya, semesta sungguh-sungguh merupakan sebuah harmoni dengan kehidupan yang saya jalani. Hakikat semesta bukan merupakan sesuatu yang begitu saja mudah kita mengerti dan diresapi, karena jujur saja, saya tidak ingin hidup yang saya jalani itu mudah dan lancar, yang saya inginkan adalah hidup yang bermakna! Nah, mungkin ini ikatan harmonis antara manusia dan semesta. Sebuah misteri yang harus selalu kita upayakan untuk dimengerti.
Foto kredit: stock.adobe.com
Great post Jo. Thank you ππΌπ. And I am writing this comment in a traffic jam π