Salah satu ujian sebagai Kakak Smipa yang saya rasakan akhir-akhir ini ialah rendah hati. Mungkin semua Kakak, fasilitator, atau guru, bahkan semua orang memang seyogyanya memiliki dan menerapkan sifat ini. Rendah hati. Bukan sekadar untuk berani mengakui kekeliruan alih-alih menyalahkan jawaban karena artikulasi atau pengeras suara seperti dalam sebuah lomba yang sempat viral di media sosial, tetapi juga untuk tidak segera "merasa paling". Terlebih ketika melihat di luar sana, sekarang terdapat banyak sekali konten pendidikan yang dibuat oleh seorang guru, murid, psikolog, penulis buku anak, aktivis pendidikan, dan berbagai elemen lain.
Semisal siang ini, tetiba algoritma youtube membawa saya kepada sebuah podcast yang di dalamnya ada Raditya Dika, Abdur, dan Mba Ela atau Najelaa Shihab (pendiri CIKAL). Di dalam percakapannya, banyak terlontar nilai, konsep, hingga praktek-praktek dan cerita tentang "ideal"nya pendidikan, yang mana itu juga sudah berjalan dan bahkan menjadi hal keseharian di Smipa. Begitu pula pada konten-konten di media sosial lainnya, di instagram, facebook, youtube short, bahkan tik-tok, yang juga membagikan cerita-cerita serupa. Sementara di Smipa, kita tidak bisa atau jarang menjadikannya konten di media sosial. Sehingga banyak yang menganggap atau bahkan tidak tahu, "di Smipa tuh anak-anaknya ngapain aja."
Nah, di sini poinnya. Kita, atau saya sebagai Kakak Smipa perlu rendah hati, ketika cukup sering juga cerita atau (konten) serupa bukan datang dari media sosial, tetapi dari teman sendiri. Rendah hati untuk tidak segera menjawab, "Ah, kalau itu mah di Smipa juga ada, hal biasa, sudah sering!" Meski memang banyak yang sudah dilakukan, diterapkan, atau memiliki kesamaan prinsip dan nilainya. Mari renungkan dan mencoba untuk lebih terbuka, bahwa Smipa itu "SALAH SATUnya", bukan SATU-SATUnya. Juga bahwa seringkali konten pendidikan serupa bisa menjadi referensi atau bahan refleksi. Sudahkah kita menjalankan itu dengan prinsip atau nilai-nilai yang jernih, holistik, dan untuk sebesar-besar kepentingan anak? Sebab, mengutip mba Ela, "Pendidikan itu manusianya."
Tautan podcast: https://youtu.be/hN-V0YYDSak?si=NgRRr7d5ZBdog0QQ