Dari dulu, ibuku selalu menanamkan petuah yang berasal dari turun temurun: “Tong sok kumaha ngke, tapi ngke kumaha?” (Jangan suka ‘gimana nanti’, tapi ‘nanti gimana?’). Niatnya memang baik sih petuah ini. Orang tua ingin anaknya tidak menyepelekan apa yang akan terjadi, tapi sebaiknya memiliki persiapan-persiapan dan rencana agar semua berjalan baik, bisa terhindar dari kerugian akibat hal-hal yang tidak terduga. Tapi akibatnya seringkali malah terjebak pada over analyzing, over thinking, menciptakan narasi dan skenario mental yang terus kita putar di kepala, resah berlebihan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Akhirnya kita selalu sibuk di kepala, terlempar dari momen saat ini yang benar-benar nyata. Tubuh kita ada— mungkin sedang melakukan sesuatu— tapi pikiran, hati, dan jiwa entah di mana. Tindakan kita serba auto pilot. Semua ini jadi kebiasaan, dan kita anggap normal. Saat mencuci piring, tangan kita mencuci tapi pikiran kita sibuk merencanakan menu untuk seminggu ke depan, atau memikirkan bagaimana supaya anak bisa lebih kooperatif, dan narasi mental lainnya yang bisa muncul.
Kita mengira memang begitulah diri ini. Pikiran dan perasaan adalah aku. Makanya kita jadi berupaya menghilangkan pikiran negatif, dan berusaha berpikir positif. Kalau ada pikiran negatif, takutnya jadi menarik hal-hal negatif. Itu yang kita dapat dari narasi-narasi di luar tentang Law of Attraction. Ada titik di mana aku pernah takut untuk merasa takut. Nanti kuceritakan kapan-kapan ya soal LOA ini.
Dari video yang direkomendasikan oleh kak Andy dalam esainya Meng’Atas’i Pikiran, dijelaskan dengan sangat lembut bagaimana pikiran kita bekerja. Reaksi mental adalah bagian dari sistem alami manusia, refleks yang membantu bertahan, memahami, dan merespons dunia. Pikiran bertugas untuk menjaga kita tetap aman. Tapi alarm bahaya itu kadang tidak berhenti berbunyi meski ancaman sudah tidak relevan. Tubuh kita jadi berada dalam posisi fight or flight terus menerus. Inilah mengapa manusia modern rentan stres dan depresi. Karena kita membiarkan pikiran mengambil alih kendali.
Masalah utamanya adalah pada identifikasi terhadap pikiran itu sendiri, jadinya kita melekat, tidak berjarak dengan pikiran. Padahal kita bisa menyadari pikiran, bisa “melihat” pikiran. Maka pikiran bukanlah “Aku” yang sejati. Dari sini, kita bisa berlatih untuk menyaksikan pikiran, melihat gerak pikiran di kepala tanpa larut dalam ceritanya. Kita jadi “mundur” dan memberi jarak dengan pikiran, memberi ruang. Ini sempat aku singgung juga dalam esai Ruang untuk Melihat. Dari ruang itu, pikiran tidak lagi memegang kemudi; kesadaran lah yang memimpin.
Namun selama bertahun-tahun “Aku” terbentuk lewat pola kebiasaan mental dan emosional, mengetahui bahwa itu ilusi pun tidak lantas otomatis mematikan momentum lamanya. Kadang kita masih tetap bisa terseret oleh aktivitas mental yang tidak pada tempatnya. Ini seperti Neo dalam film The Matrix. Ketika ia sadar bahwa dunia itu adalah simulasi, tubuh dan pikirannya belum langsung bebas. Ia masih berjuang dengan refleks lamanya, masih merasa takut, masih meragukan kemampuannya. Ia pun masih bisa terluka saat terkena lintasan peluru di dunia matrix. Baru setelah berulang kali melihat dari dalam kesadaran, bukan dari pikiran, ia mulai benar-benar bebas. Jadi memang selalu ada proses transisi. Yang penting bukan di “menghapus identifikasi”, tapi menyadari ketika itu terjadi.
Tulisan ini dibuat pun dalam rangka mengingatkan diriku sendiri agar tetap chill saat sadar bahwa sempat tidak sadar alias larut dalam cerita di kepala. Makanya mantraku sekarang adalah "Kumaha Ngke". Bukan tidak peduli dan apatis terhadap yang akan terjadi, tapi lebih membawa nuansa batin yang lebih rileks terhadap segala sesuatu. Tidak perlu dipikirkan sekarang semuanya. Berpikirlah pada waktunya, berencanalah pada saatnya. Tapi tidak di setiap saat. Ada waktu-waktu di mana kita hanya perlu “ada” dan menikmati momen. Dan ini termasuk momen di saat kita menggunakan pikiran kita. Jadi kesadaran yang menentukan kapan kita berpikir, bukan pikiran yang menentukan kapan kita sadar.
ah keren, bener bgt ini.. more awareness dalam menyikapi "kumaha ngke" yah. aku teh lagi berusaha namatin buku dr. Joe Dispenza yg Breaking The Habit of Being Yourself, bahas kurleb ttg si Neo yg walau udh nyadar hidup dalam simulasi tp blm bs otomatis switch/bebas dr reflek dia yg lama. Ini teh kudu kopdar sigana.. ☕️
Aku pengen ngupas film itu, tapi krn merasa bakal panjang, jd berat duluan. Nonton bareng trus diskusi kayanya lebih asik hahahaha
Ini bagus banget. Saya bersepakat. Saya punya tulisan yang sejajar dengan ini... 🙏🏼😊
https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/7534/aas776-selaras-dengan-semesta
Ngobras yuk kak...