Hari ini adalah hari pertama musim semi. Musim semi saya yang ke-8, hanya saja kali ini diwarnai dengan perasaan bittersweet. Sweet karena segala bentuk perjuangan, terutama bagi Nina yang sudah mencoba selama bertahun-tahun akhirnya hampir mencapai garis finish. Sweet karena rencana besar yang kami canangkan untuk masa depan Kano pun berhasil dengan gilang gemilang. Bitter, karena saya akan patah hati!
Seandainya saja saya pandai berpuisi, maka saya akan menciptakan sesuatu yang penuh dengan keindahan, kebahagiaan dan bercampur dengan airmata. Seandainya saja saya mampu menciptakan sebuah musik yang Indah, saya akan berusaha mengkomposisikan sebuah alunan seperti the swan song, sebuah cerita metafor Yunani kuno yang indah sekaligus merintih-rintih karena bercerita tentang seekor angsa putih yang sangat indah yang bernyanyi menjelang kematiannya.
Sayang saya tidak bisa melakukan itu semua, dan kemampuan menulispun masih sangat terbatas. Satu-satunya yang bisa saya ceritakan adalah tentang bunga daffodil, bunga khas musim semi yang merupakan native flower dari Amerika Utara dan Eropa, bunga yang berbeda family dengan tulip tapi masih 1 genus. Kalau saya katakan mirip dengan keluarga lily, juga salah karena justru tulips yang menjadi anggota keluarga lily.

Daffodils merupakan simbol dari pertemanan tapi juga merupakan simbol dari permulaan yang baru, the new beginning. Sangat masuk di akal sebab musim semi merupakan awal dari segala sesuatu yang tumbuh setelah sekian lama padang-padang mengering dan tanaman sebagian besar mati atau hibernasi. Musim semi merupakan awal dari kehidupan. Lagi-lagi buat saya memberikan perasaan bitter sweet. Sweet karena tunas baru tumbuh dalam kehidupan yang mulai mendewasa, bitter karea permulaan yang baru ini bisa juga berarti akhir dari proses penyemaian. Sangat metaforik memang, karena saya tidak mau terlalu mengumbar detail walau sebetulnya sudah bisa diketahui dan diyakini kondisinya.
Awal musim semi ini saya mulai sibuk mencari apartemen untuk Kano tinggal, yang dekat kampus tapi dengan harga terjangkau. Ternyata sulit sekali. Sekarang saya baru menyadari bahwa biaya hidup dan kuliah para mahasiswa di sini sangat tinggi. Bayangkan saja, apartemen rata-rata mencapai 3 angka nol! Belum lagi ditambah biaya hidup sehari-hari dan biaya kuliah. Bukan main! Untungnya anak semata wayang saya ini sudah memiliki penghasilan yang baik sehingga dia akan bisa hidup dari pendapatannya, lalu biaya kuliah gratis. Makan dia bisa di tempat kerja. Dia masih bisa menabung dan menggunakan sedikit penghasilannya untuk menikmati jerih payah pekerjaannya untuk sesuatu yang menyenangkan.
Ya, seperti daffodils yang merupakan simbol dari the new beginning, begitulah hidup kami di masa-masa mendatang.
To Daffodils
Fair Daffodils, we weep to see You haste away so soon;
As yet the early-rising sun Has not attain’d his noon.
Stay, stay, Until the hasting day Has run But to the even-song;
And, having pray’d together, we Will go with you along.
We have short time to stay,
as you, We have as short a spring;
As quick a growth to meet decay,
As you, or anything.
We die As your hours do,
and dry Away, Like to the summer’s rain;
Or as the pearls of morning’s dew,
Ne’er to be found again
(Robert Herrick)
Foto credit: mumsinthewood.com