AES 1050 Gerhana
joefelus
Tuesday April 9 2024, 10:49 AM
AES 1050 Gerhana

Ketika masih kecil, saya beberapa kali mengalami gerhana, baik gerhana Matahari maupun gerhana Bulan. Saya ingat betula mapalagi ketika gerhana Bula, orang-orang di kampung ramai membuat bunyi-bunyian. Apa saja yang ditemui dan bisa dijadikan bunyi-bunyian maka ditabuh sekencang-kencangnya. Ada [panci, tiang listrik, lonceng bahkan kotak sabun, semuanya dijadikan alat bunyi-bunyian. ramai sekali. Saat itu saya bertanya pada orang tua, apa maksudnya bunyi-bunyian itu. Orang tua mengatakan bahwa ada kepercayaan purba yang mengatakan bahwa bulan dimakan oleh buto atau raksasa, sehingga masyarakat membantu membuat raksasa itu ketakutan dengan membuat bunyi-bunyin sehingga melepeh Buland an tidak jadi ditelan. Begitu ceritanya. Bagi saya yang masih kecil, cerita semacam itu menjadi sebuah hal yang seru, sama seperti keprcayaan agar saya tidak duduk di atas bantal karena bisa bisulan atau memakai payung di dalam rumah karena dapat disambar halilintar hahahaha..

Sekarang saya melihat gerhana dengan pandangan yang jauh lebih filosofis. Saya melihat gerhana sebagai sebuah simbol, tidak hanya sebagai kejadian alam. Nah hari ini ada gerhana Matahari di benua Amerika bagian Utara, di kota saya hanya dapat menyaksikan Matahari tertutup bulan sebanyak sekitar 60% selama beberapa menit. Ini gerhana yang kedua yang pernah saya saksikan selama saya tinggal di Fort Collins. Yang pertama gerhana Matahari total di tahun 2017, kalau tidak salah waktu itu di musim panas.

Gerhana adalah gejala alami yang terjadi karena pergerakan Matahari, Bulan dan Bumi yang berbeda-beda. Pada saat-saat tertentu ketiganya berada dalam sebuah garis lurus dan mengakibatkan salah satu tertutup yang lain. Itu samasekali tidak dapat dihindari. Memang begitu kondisi alam semesta. Nah lalu bagaimana saya memandang gerhana secara simbolis dan filosofis? Iseng-iseng saja, seperti saya tadi katakan bahwa itu adalah gejala alam yang tidak dapat dihindari. Nah itu menjadi simbol bahwa dalam hidup banyak hal yang tidak dapat kita hindari. Perubahan itu konstan, kita harus dapat beradaptasi. Banyak hal dalam hidup yang tidak dapat kita ubah dan justru kita yang harus mampu mengubah diri dalam menghadapinya.

Ambil contoh, saya di sini dapat menyaksikan gerhana, lalu teman-teman di Indonesa tidak. Siapa yang mampu mengubah itu? Sama halnya dalam hidup. Kesempatan datang tidak pada waktu yang sama. Ada teman yang mendapat kesempatan dan saya tidak, lalu apakah saya mengutuk semesta dan dianggap tidak adil? Teman saya mendapat durian runtuh, sementara saya baunya saja tidak kebagian, misalnya. Lalu saya marah-marah dan mengutuk keadilan. Kecemburuan sosial juga terjadi karena hal seperti ini. Nah, kita tidak dapat mengubah itu. Saya dilahirkan di keluarga miskin, lalu saya marah-marah dan menuntut keadilan serta membenci mereka yang memperoleh kesempatan lebih baik. Semesta tidak seperti itu. Saya tidak dapat mengubah dimana saya dilahirkan. Yang saya patut lakukan adalah beradaptasi, menerima kenyataan dan make it worth it, make the best of it.

Gerhana juga menjadi semacam simbol bahwa pandangan kita tentang hidup dapat berubah. Kita melihat Matahari begitu perkasa menjadi sumber kehidupan. Bayangkan jika tidak ada matahari, seluruh kehidupan di bumi akan musnah. Bumi akan membeku karena kehilangan sumber panasnya, tidak ada lagi siang dan malam. tapi ketika terjadi gerhana, ternyata keperkasaan itu dapat juga sejenak diselimuti dengan kegelapan. Demikian juga hidup. Kita tidak bisa terus menerus perkasa. Sesekali kita menghadapi berbagai tantangan. Tapi jangan salah, tantangan justru menciptakan kesempatan! Tantangan menjadi kesempatan untuk mengevaluasi hidup dan melihat alternatif lain melalui persepsi yang berbeda. Dengan demikian kita akan mampu lebih mengerti dan memahami kehidupan, karena kita mampu melihat dari segi yang berbeda, dari sisi yang tidak selalu sama dan itu-itu saja.