AES 1062 Time Machine
joefelus
Sunday April 21 2024, 12:19 PM
AES 1062 Time Machine

"Everything we own is a time machine." Kata Christine Kell, seorang pakar decluttering. Setiap barang yang kita miliki hampir dipastikan merupakan sebuah "token" dari suatu peristiwa, kejadian, maupun pengalaman yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kita. Tidak hanya itu, kita juga senang sekali menghadirkan kembali masa-masa tertentu di masa lalu, terutama yang menyenangkan dengan misalnya memegang benda-benda tertentu.

Nah masalah melepaskan barang-barang saat ini menjadi hal yang menyulitkan bagi saya. Berbeda sekali ketika saya akan pergi merantau, hanya sedikit yang saya lepaskan dan sebagian besar bisa saya simpan. kali ini sebagian besar harus saya lepaskan dan hanya sedikit yang dapat disimpan. Alasannya sederhana, karena sulit membawanya.

Saya tinggal di tengah-tengah benua. Untuk membawa barang-barang dengan kargo, ada 2 masalah besar yang harus saya hadapi, yaitu pertama saya harus bisa membawanya ke pelabuhan, yang biasanya ada di pesisir. Itu butuh biaya. Kedua dari pelabuhan barang-barang saya akan dikapalkan dan dikirim ke tanah air. Itu juga biayanya besar karena dihitung berdasarkan bobot, apalagi jika dikirim lewat udara. Masalah seperti ini tidak saya alami dahulu ketika pindah dari Hawaii ke tanah air karena tempat dulu saya tinggal sangat dekat dengan pelabuhan, jadi hanya biaya pengiriman ke tanah air yang perlu saya tanggung.

Karena keterbatasan yang harus saya hadapi ini lah, maka saya harus mampu merelakan melepas banyak sekali barang-barang yang mempunyai nilai emosional. Buku-buku misalnya. Saya punya kebiasaan untuk membeli buku jika berpergian ke tempat-tempat tertentu. Di halaman depan buku itu biasanya saya tulis tanggal dan tempat dimana saya membelinya. Saya sangat sulit melepas buku-buku ini karena terus terang, saya belum selesai membacanya semua, kedua buku-buku itu sebenarnya adalah cendera mata dari setiap pengalaman perjalanan yang saya lakukan.

Banyak sekali benda-benda yang merupakan "saksi" dari berbagai pengalaman hidup. Saya setuju sekali dengan yang dikatakan oleh Christine Kell bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah mesin waktu. Buku A misalnya saya peroleh di sebuah toko buku tua di Dupont Circle di Washington DC. Bukunya sendiri sebetulnya tidak terlalu bernilai banyak, bahkan ada kalanya isinya tidak terlalu saya sukai, tapi bukan itu yang menjadikan saya berat melepaskannya, melainkan buku itu terkait dengan pengalaman saya di waktu tertentu yang berusaha sebisa mungkin untuk tidak dilupakan. Buku itu misalnya mengingatkan saya pada perjalanan kami bertiga, Nina, Kano dan saya yang harus berjalan kaki agak jauh menuju subway karena kami menginap di salah satu hotel di dekat Capitol Building, lalu saya harus dituntun Kano ketika naik dan turun escalator yang sangat curam di Dupont Circle. Ini salah satu escalator yang bagi saya sangat menakutkan karena ketika kita berada di atas hampir sulit melihat ujungnya di bawah karena begitu tinggi dan curam. Pada saat itu tangan saya berkeringat karena katakutan. Kano yang sambil tertawa-tawa menggoda saya mau tidak mau membantu saya dengan menuntun. Hahahaha. Nah rasa takut itu memang sudah saya alami sejak dahulu, perjalanan bersama NIna dan Kano merupakan kali yang kedua saya ke Washinton DC. Yang pertama saya lakukan puluhan tahun yang lalu hanya berdua bersama Nina dan saya mengalami hal yang sama. Saat itu malah kami menginap di salah satu hotel di Dupont Circle dan hanya 2 blok jauhnya dari kedutaan besar Indonesia. Nah itu salah satu contoh mengapa saya sangat sulit melepas buku A. Buku A bukan hanya sekedar buku tapi merupakan representasi dari waktu dan pengalaman yang saya hadapi di masa lalu. Salah satu bagian dari mesin waktu!

Jadi sekarang bayangkan saja. Betapa sulitnya saya melepas banyak barang. Contoh lain misalnya. Teman-teman pasti tahu kos jengkol berwarna hijau yng saya bawa adari tanah air. Kaos itu sudah menemani saya ke banyak tempat. Sudah pernah jalan-jalan ke Washonton DC, New York, San Fransisco, Las Vegas, Seattle, Hawaii, dan tempat-tempat lain yang sudah saya kunjungi. Lalu apakah dengan mudah saya melepaskannya? Kaos jengkol itu sendiri mengingatkan saya pada saat-saat seru di Smipa. Bayangkan saja, kaos itu sudah menjdi penada berbagai pengalaman yang sudah saya lewati selama bertahun-tahun. Ini lebih sulit lagi dilepaskan dibandingkan dengan buku A yang hanya mengingatkan saya pada 1 tempat dan 1 waktu tertentu, sementara kaos jengkol sudah menemai saya menembus berbagai peristiwa, waktu dan tempat!

Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Ternyata kaos Djengkol Wars ini legendaris sekali ya Joe? ☝🏼