AES005 Sepotong Cerita di Bis Damri
firdabilqis
Tuesday October 28 2025, 2:20 PM
AES005 Sepotong Cerita di Bis Damri

Sekitar 4 tahun lalu, saya adalah seorang yang sedang senang-senangnya mendengar podcast. Mulai dari yang bercanda seperti Podkesmas hingga yang serius seperti Thirty Days of Lunch, Parentalk, CurhatBapakIbu, Makna Talks, dan lain-lain. Menyenangkan mendengarkan orang mengobrol, bercerita, dan bertukar opini seolah saya sedang ada di tengah-tengah mereka. Memecah kesepian dari sunyinya kehidupan seorang ibu yang telah cukup lama resign karena ingin mengurus anak, di tengah pandemi yang membatasi mobilitas dan intensitas bertemu dengan teman.Β 

Perjalanan memilih episode mana yang ingin didengar setiap harinya membawa saya pada sebuah episode di channel Thirty Days of Lunch [sayangnya hingga saat saya tulis blog ini, episode ini belum saya temukan], dari seorang mantan petinggi bank ternama, yang memutuskan untuk sabbatical leave. Istilah yang kemudian baru saya mengerti maknanya. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan. Sebagian besar isi podcastnya ialah bagaimana narasumber itu senang membaca buku, mempelajari berbagai agama dan kepercayaan, mencari Tuhan.

Di saat yang hampir bersamaan, saya juga sedang mencari ketenangan, berusaha mengurai benang kusut tak kasat mata, dan meredakan suara-suara ribut di kepala. Memulai dengan membaca buku bertema stoic, terpapar dengan teori minimalism, sampai akhirnya mengenal mindfulness. Pada saat itu saya merasa timingnya sangat tepat, dan seperti connecting the dot dengan apa yang saat itu saya alami dan pertanyakan.

Ada kalimat dari narasumber tersebut yang membuat saya tertegun, hingga meneteskan air mata saat saya mendengarnya. Kurang lebih maknanya ialah, "Jika kita adalah penganut agama yang baik, khalifah Tuhan di bumi, mengapa kita tidak menjadi manifest Tuhan? Menjadi kepanjangan tangan Tuhan untuk berbuat baik, melakukan hal yang Tuhan sukai, dan membuat orang percaya bahwa Tuhan itu ada (melalui kebaikannya)?"

Sebuah kalimat yang terus menggema di kepala saya, hingga hari ini. Bahwa benar, kalau saya adalah penganut agama yang baik, dan saya percaya Allah itu baik, ya harusnya saya melakukan hal yang Allah senangi, dan yang Allah lakukan dong? Jadi baik, berbagi, bermanfaat. Satu yang juga saya selalu ingat ialah, "Kalau saya berbuat A, Allah senang gak ya? kalau saya berbuat B, Allah ridha gak ya?"

Sejujurnya semenjak itu saya rasa, untuk pertama kalinya saya bisa klaim bahwa saya lebih religius secara spiritual. Begitupun perjalanan dan pengalaman selanjutnya yang membuat saya akhirnya merasakan bahwa agama yang saya anut ini memang pilihan saya, bukan sekedar warisan atau tradisi karena orang tua dan leluhur saya melakukannya juga.Β 

Sepotong podcast yang saya dengar di bis itu, telah mengubah cara pandang saya melihat diri sendiri, orang di sekitar, dan kehidupan secara keseluruhan. Sepotong cerita yang selalu saya ulang-ulang pada banyak orang, supaya mereka juga merasakan pengalaman yang saya rasakan, mendengarkan pemikiran-pemikiran tersebut dan memaknai dalam kehidupannya. Sepotong cerita yang juga akan saya ceritakan kelak saat anak-anak sudah besar. Semoga saya masih ingat. Atau mungkin mereka bisa membaca tulisan mamanya di sini.

Andy Sutioso
@kak-andy   7 months ago
Waah ceritanya bagus amat Firda. Senang sekali membacanya. Nyambung ke tulis-menulis di sini juga ya. Nuhuun. Semoga berlanjut. πŸ™πŸΌπŸ€—β€οΈπŸŒ±
firdabilqis
@firdabilqis   7 months ago
Nuhuun Kak Andy dukungan dan apresiasinya :')