Sebagai manusia, sangat biasa memiliki rasa suka atau tidak suka akan sesuatu. Jangankan manusia, binatangpun suka memilih-milih. Di kantor, kami seolah-olah mengadopsi beberapa ekor tupai, bahkan kami memberi mereka nama dan hampir setiap waktu kami memberi mereka makanan seperti kacang-kacangan. Boss saya malah membeli 1 blok besar makanan tupai, namanya squirrel's snack yang isinya kacang, almond, walnut, pecan dan jagung. Keren sekali hahaha sebab saya tahu di berbagai belahan dunia lain, pecan, kenari, walnut dan kacang bahkan jagung termasuk makanan yang tidak mudah dijumpai dan mahal harganya. Tupai-tupai ini memang kami manjakan, dan seringkali kami berdiri di balik jendela besar menonton mereka berpesta pora dan makan dengan lahap serta berebut dengan teman-temannya. Kami tertawa-tawa menyaksikan tingkah laku mereka. Nah yang saya perhatikan ketika makan, mereka memilih makanan yang mereka sukai terlebih dahulu, yang mereka habiskan adalah kacang dan pecan, sisanya jagung bertebaran di mana-mana. Baru sesudah makanan favorit mereka habis, jagung akhirnya dihabiskan. Binatang juga punya preferensi!
Nah kejadian akhir-akhir ini dalam hidup saya banyak menjumpai hal-hal yang kurang saya sukai, bahkan dalam waktu beberapa bulan ke depan kemungkinan besar saya akan mengalami suatu yang berat dan sama sekali tidak saya nanti-nantikan. Besar sekali keengganan saya untuk mulai menyiapkan diri untuk menghadapi situasi ini. Seperti tupai-tupai yang saya ceritakan barusan, saya lebih memilih hal-hal lain yang lebih menyenangkan daripada menghadapi sesuatu yang tidak saya sukai. Suatu hal yang wajar, dan masuk akal, walau tentunya bukan hal yang baik.
Saya pernah menulis di awal-awal ketika saya mengikuti kelompok atomic esai di mana saya harus menulis setiap hari. saya bercerita bagaimana anak saya, Kano, senang sekali melakukan penundaan, procrastination. Saat itu saya tidak mengerti mengapa dia melakukan itu, seperti orang yang tidak memiliki motivasi untuk menyelesaikan sekolahnya. Baru kemudian saya mengerti ketika kami melakukan diskusi dan dapat melihat kesalahpahaman tentang sekolah, tentang masa depan dia. Dia mengira segala sesuatu yang harus kerjakan sama sekali tidak signifikan dengan apa yang nantinya harus dia lakukan jika pada saatnya kembali ke tanah air. Dia menghindari hal-hal yang tidak dia sukai dengan melakukan penundaan.
Nah sekarang, apa bedanya dengan saya? Tidak ada! Tapi ini terjadi bukan karena kesalahpahaman, tapi karena saya tahu betul dengan apa yang akan saya hadapi nanti, dan saya sama sekali tidak menyukainya. daripada melakukan persiapan, justru saya banyak menunda dan melakukan hal lain yang lebih menyenangkan. Persis seperti yang dulu Kano lakukan.
Apakah ini sebagai suatu reaksi denial? Bisa saja! Siapa sih yang bersedia menghadapi hal yang tidak menyenangkan dalam hidup? Kalau bisa memilih, tentunya akan memilih yang menyenangkan. Sangat masuk akal dan normal.
Kemarin saya menulis tentang ketakutan saya akan perubahan. Itu saya sadari betul. Saya berusaha menanggulanginya dengan mencari banyak informasi. Itu sedikit membantu tapi tidak dapat disangkal bahwa semua informasi yang saya peroleh tidak menyenangkan, dan itu membuat saya enggan bergerak untuk mempersiapkan diri. Saya mulai menghitung berapa waktu tersisa, tidak banyak dan selama waktu yang pendek itu banyak sekali yang harus dipersiapkan. Tapi saya seperti berjalan di tempat dan begitu malas untuk melakukan apapun. Saya sadar bahwa ini hanya menunda-nunda dan pada saatnya nanti akan kelabakan karena banyak hal yang harus dikerjakan sekaligus. Saat ini saya memang cenderung giving in dan saya benar-benar menyadari itu dan lebih banyak bertindak secara impulsif. Ini memang harus segera ditanggulangi dan harus cepat sebab waktu tidak pernah berhenti bergerak.
Foto credit: manastha.com