AES 1079 Alive or Living
joefelus
Wednesday May 8 2024, 4:34 AM
AES 1079 Alive or Living

"My wife and I finally can go on vacation. The first vacation ever since we got married!" Kata Dokter Hoenig ketika kami hari ini datang untuk check up.

"Congratulations! Where are you going?" Tanya Nina

"We are going to spend 2 weeks in Spain, first we go to Madrid and next we will spend along the coast line." Jawab dokter

Lalu percakapan kami beralih ke dinamika hidup berkeluarga, tentang anak, biaya hidup dan seterusnya.

Dokter ini bagi kami berdua adalah dokter yang paling hebat di dunia. Seseorang yang mencurahkan seluruh perhatiannya pada pasien, mengerti seluk beluk masalah kehidupan, hidup dan mati dan masalah keluarga. Kami memang hampir sama usianya sehingga asyik sekali ngobrol setiap saat kami berjumpa di ruang praktik.

"When we die, we will have to leave everything behind. I have 4 kids and they will fight to get what I left behind. So there is no point to pile up stuffs" Katanya lagi

"We do not have much. But we have stories, adventures and memories." Kata Nina menimpali cerita dokter yang seumur hidup hampir tidak pernah pergi berlibur karena sibuk dengan pekerjaan dan keluarga.

Obrolan kami menjadi agak berat yang mau tidak mau membuat saya terus merenung tetang perjalanan hidup yang sudah saya lalui hingga saat ini.

"It’s one thing to be alive, but it’s another to actually be living."

Seseorang pernah berkata demikian. Kalimatnya sangat sederhana. Hidup itu sesuatu, tapi menjalani hidup adalah satu hal yang lain lagi. Mungkin kira-kira itu maksudnya. Untuk hanya sekedar hidup saja, bernapas, dapat bergerak dan merasai kehidupan, itu sudah merupakan sesuatu. Jika kita melakukan hal yang lebih dari hanya sekedar hidup, itu akan menjadi sesuatu yang luar biasa.

Sebagai manusia, kita mempunyai pilihan dalam menjalani hidup mengarungi gelombang perasaan, menyaksikan waktu bergerak, hari demi hari yang terlewatkan, atau kita juga dapat merangkul kehidupan yang ada disekitar kita. Sangat mudah sekali untuk jatuh ke dalam rutinitas dan hanya sekedar menjalani hari demi hari. Tapi apakah kita memang dengan sungguh-sungguh memilih itu?

Kita bisa saja bangun pagi lalu langsung menjalani rutinitas, ke kamar mandi, bersiap-siap, masak air, membuat kopi sambil memanggang roti di sebuah toaster yang seringkali lupa kita bersihkan. Lalu mulai mengoleskan selai sambil menghirup kopi panas dan bergegas ke tempat kerja. Dalam perjalanan pikiran kita sudah mulai dipenuhi dengan segala beban kerja yang akan segera menghiasi menit demi menit di kantor hingga saatnya usai di sore hari.

Sekarang bandingkan dengan ini. Kita membuka mata lalu jeda sejenak menikmati suara nyanyian burung dan desiran angin di musim Semi yang masih sangat sejuk. Menghirup udara segar sambil merentangkan tangan penuh kebahagiaan karena sudah diberi kesempatan untuk menikmati hari baru, lalu duduk di atas pembaringan sejenak dan masuk kedalam suasana teduh dan bersyukur bahwa hari ini akan mendapat kesempatan baru untuk belajar, kesempatan baru untuk berpetualang dan kesempatan baru untuk tersenyum. Air hangat memanjakan seluruh tubuh yang sangat menyegarkan untuk memulai hari. Kebahagiaan tidak dapat tertahankan sehingga suara gemericik air ditemani dengan senandung lagu yang merupakan ungkapan rasa syukur yang mendalam karena semesta masih menyediakan kenikmatan. Sambil berjalan kaki masih terus bersenandung sambil sekali-kali diselingi dengan menghirup kopi, menelusuri jalanan yang sepi dikelilingi rumput-rumput yang sudah hijau dan bunga-bunga musim semi yang bermekaran sangat Indah. Keharuman bunga-bunga serta suara nyanyian burung-burung menghiasi pagi yang menyegarkan ini seolah-olah bagai sebuah simfoni semesta yang bergema menyambut hari baru. Dan yang paling indah adalah: kita merupakan bagian dari itu semua, tidak terpisahkan tapi menjadi satu kesatuan sebagai sebuah keajaiban yang terus menerus terjadi tanpa henti. Keajaiban semesta!

Kita punya pilihan, bukan? Kita dapat memilih to be actually living atau just to be alive! Kita seringkali lebih pandai mengubur diri sendiri dengan segala bentuk kerumitan dan masalah. Banyak menghabiskan waktu dengan mengejar kesia-siaan sehingga lupa to be actually living.

I see trees of green
Red roses too
I see them bloom
For me and you
And I think to myself
What a wonderful world

(What A Wonderful World, verse 1, 1967)

Foto credit: Quora.com

You May Also Like