"Mas, kalo di Ekonomi pas sidang defense program doktor itu harus nyediain makanan, engga?" Tanya sahabat saya.
"Makanan? Buat apa?" Tanya saya tidak mengerti.
"Dulu waktu mas A sidang, dia nyediain makanan." Katanya lagi
"Makanan apa? Makan siang? Trus yang masak siapa?" Tanya saya penasaran.
"Aku lah yang masak. Aku bikin risoles, kue lumpur, dan lain-lain." Katanya.
'Nina sidangnya online kok. via zoom." Kata saya sambil terus berpikir apa gunanya makanan pada saat sidang.
Itu percakapan antara saya dan sahabat saya beberapa waktu yang lalu. Hingga sekarang saya masih tidak mengerti mengapa sidang semacam itu harus diikuti dengan makan-makan. Selama ini saya tidak pernah mengenal yang semacam itu. Namanya defense disertasi, yang akan sidang sudah stress berhari-hari, apalagi malam sebelumnya. Saya tidak dapat membayangkan jika semalam atau sehari sebelumnya masih harus mengurusi hal yang tidak penting, yaitu menjamu para profesor dan dosen. Bukannya sudah cukup lama menderita selama bertahun-tahun? Saya adalah saksi hidup, untuk mencapai saat ini harus melalui banyak perjuangan. Saya mengambil ilustrasi gambar kuda di atas hahaha...
Hari itu akhirnya telah tiba. Hari ini! Saya menemani Nina yang telah memesan sebuah ruangan di Perpustakaan. Kebetulan saya juga bekerja secara hybrid hari ini, jadi saya dapat menyempatkan diri "hadir" di persidangan, walau saya tetap bekerja dan duduk di luar, di gedung yang sangat sepi karena hampir seluruh mahasiswa libur musim panas.
Saya duduk di luar ruangan yang dikelilingi oleh kaca, jadi saya bisa melihat apa yang sedang Nina lakukan di dalam. Saya membawa laptop kantor dan tetap bekerja. Saya hanya dapat mendengar sayup-sayup dari luar. Kalaupun di dalam, saya mungkin hanya akan menganggu dan sama sekali tidak mengerti. Jadi saya memilih duduk di luar sambil bekerja dan makan siang berupa burrito ayam dan segelas es teh dari salah satu kedai makanan Mexico dekat kampus.

Saya tidak dapat konsentrasi bekerja. Dada ini berdebar-debar tanpa sebab. Ada sebabnya sih hahaha, ya menunggu sesuatu tanpa mengerti akan apapun merupakan kegiatan yang tidak menyenangkan. Apalagi ini adalah peristiwa penting, sangat penting untuk Nina dan saya. Kami sudah menunggu saat-saat ini selama hampir sepanjang usia pernikahan kami. Hari ini merupakan langkah yang paling jauh yang pernah dicapai. Terakhir, di usaha pertama, Nina hanya mencapai ABD yaitu singkatan dari Everything But Dissertation. Kali ini disertasi selesai, dan sedang disidangkan. 1 langkah lebih jauh dari sebelumnya dan merupakan langkah terakhir untuk mencapai tujuan. Nah, jelas ini merupakan peristiwa penting dalam hidup kami.
"Untung kamu di sini. Kalo di Indonesia, kamu harus pakai jas atau bahkan kebaya waktu defense disertasi." Kata saya sambil membayangkan apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu ketika salah satu teman kami yang juga kuliah di Colorado dan memutuskan untuk defense dari Indonesia karena sedang ada pandemi. Dari foto yang saya lihat, teman saya ini duduk di meja panjang berlapis beludru hijau dengan spanduk besar yang juga berwarna hijau yang jika diterjemahkan kurang lebih "Sidang Defense Disertasi..," dengan nama dia yang ditulis besar-besar, tanggal, nama universitas dan sebagainya dengan warna kuning. Persis seperti saat kita menghadiri sebuah seminar. Anehnya seminar di sini hampir tidak pernah saya melihat ada spanduk yang menjadi backdrop panggung hahaha..
"Oh dan nyedian makan!" Kata Nina.
"Beneran? Nyediain makanan buat siapa?" Tanya saya
"Ya buat yang hadir!" Kata Nina

Kami saat itu sedang berjalan menuju perpustakaan. Percakapan saya dengan Nina ternyata nyambung dengan percakapan dengan sahabat saya beberapa waktu yang lalu. Lalu saya mulai membayangkan peserta yang akan mempertahankan disertasinya yang sudah stress selama berhari-hari, lalu harus pergi pagi-pagi ke salon karena harus pakai kebaya, lalu sibuk juga memesan berbagai makanan seperti untuk pesta. Saya menggelengkan kepala. Lalu bagaimana kalau kemudian tidak dinyatakan lulus? Ini mah sudah direpotkan, stress eh malah gagal. Kacau! Lagi-lagi saya tidak mengerti mengapa harus begitu.
Ada beberapa pekerjaan masuk. Saya merasa sangat beruntung karena dengan demikian saya dapat melakukan sesuatu tanpa harus terus menerus memandangi Nina di dalam tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Nina terlihat sangat santai seperti sedang ngobrol. Saya tahu dia sedang presentasi. Ada sekian banyak slide Power Point yang saya bantu print di kantor. Sesekali saya melihat dia mengangguk dan tersenyum. Itu saya pikir sebagai pertanda baik (atau itu usaha saya untuk menghibur diri yang sedang tegang, hahaha). Lalu saya jadi ingat tentang peribahasa jaman sekolah di SD. Hilang kemarau setahun dengan hujan sehari. Walau tidak nyambung bahkan artinya berlawanan dari yang sedang saya alami saat ini, tapi bisa juga diartikan berbeda. Peribahasa itu sesungguhnya berarti kebaikan yang sudah dipupuk sekian lama, pupus hanya karena kesalahan sedikit. Peribahasa itu menimbulkan pertanyaan saya sejak dahulu, kenapa kebaikan diilustrasikan dengan kemarau? Bukankah kemarau merupakan sesuatu yang negatif? Hahaha... Metafor yang buat saya membingungkan. Mungkin lebih baik menggunakan rusak susu sebelangan karena nila setitik. Ya khan?
Eniwei. Tidak masalah dengan peribahasa itu. Yang ingin saya ungkapkan adalah kami sudah menanti-nanti saat itu selama periode waktu yang sangat lama. Akhirnya tiba pada saat ini, saat yang sangat penting dan mudah-mudahan hasil yang baik menunggu. Beberapa saat lagi, mungkin satu jam atau 2 jam lagi. Kita lihat saja nanti. Yang terpenting adalah, inilah saat yang ditunggu-tunggu. This is it!
Foto credit: linkedin.com
ini beneran terjadi sih di Indonesia, Kakak ipar yang ambil S2 kedokteran, saat sidang menyediakan makanan yang lumayan dari jumlah porsinya... tapi, sepertinya hal ini lebih ke 'kebiasaan', sebagai bentuk ungkapan terima kasih dan rasa syukur dari yang akan menjalani sidang kepada dosen penguji, pembimbing, bahkan kepada senior maupun junior yang sudah membantunya.
Mahal ya hahahaha....