"Gak bisa mikir. Capek banget! Sorry ya." Itu adalah kalimat yang akhir-akhir ini sering muncul. Tidak hanya itu, sumbu petasan emosi juga sangat pendek sehingga hal sepele bisa meledak menjadi suatu yang gegap gepita. Hahaha.. Ya bgitulah jika kita semua ada dalam sebuah tekanan. Sulit untuk membendung emosi terutama apalagi jika ditambah kelelahan yang bertubi-tubi.
Lelah memang obatnya adalah istirahat. Tapi jika eaktu istirahat tidak tersedia, ujung-ujungnya lari ke emosi. Silakan saja renungkan atau diingat-ingat, apakah kita sering merasa begitu? Lihat di jalan raya, kita mudah sekali terjerat kekesalan dan kemarahan karena tingkah laku orang lain. Tapi jika seandainya kondisi emosi kita baik, orang mau jungkir balik bahkan menyenggol kita ketika sedang berjalan kaki di trotoar cuma kita belas dengan senyuman, tapi jika kita dalam kondisi tertekan, banyak masalah, akhirnya akan berbeda. Kita langsung melotot dan bersumpah serapah, padahal hanya disenggol loh! Tidak sengaja pula, kenapa kok jadi pemicu kemarahan?
Ini yang banyak saya alami akhir-akhir ini. Cuma ingin bertanya apakah sepatu butut ini akan dibuang, disimpan, dibawa pulang atau didonasikan. Ujung-ujungnya urat leher mengeras lalu terjadi huru harta. Alasannya sederhana, lelah, dan sepatu butut dan sudah sedikit jebol itu mengingatkan pada peristiwa-peristiwa indah, tapi sekarang harus dicampakkan. Ini sesuatu yang besar! Mencampakkan sepatu bodol itu mudah dan sepele bukan? Tapi jangan salah, implikasinya sangat luar biasa kare na mencampakkan sepatu jebol itu mengingatkan bahwa hal-hal yang indah itu akan berakhir, akan tercampakkan. Sepatu hanya simbol!
"Dad, can you help me to take this AC to the bathroom? I need to drain the water." Kata Kano
"Of course!" Kata saya
Lalu kami berdua bersusah payah menarik AC yang berat ini ke kamar mandi. Tersenggol sedikit airnya melimpah dan menetes kemana-mana. Untungnya di bagian bawah perangkat AC ini saya sediakan semacam nampan besar untuk menampung air jika ada kebocoran, jadi tidak banyak yang tumpah. Tapi begitu sudah di kamar mandi dan nampan iu akan saya kosongkan, air tumpah kemana-mana dan lantai menjadi penuh genangan. Kano mulai terganggu emosinya, dia memang sudah kelelahan bekerja sepanjang hari dan saat ini yang dia inginkan agar AC segera hidup dan dia bisa mendi lalu menikmati sisa malam dengan nyaman.
"Sorry Dad for raising my voice! I am very tired. " katanya sesudah dia mulai tenang dan AC hidup kembali.
"It's ok. Somebody needs to stay as a grown-up. If both of us got angry, it would not solve any problem. Because I did not react to your anger, everything was fine. Can you imagine if I also raised my voice?" Kata saya.
"I know." Kata Kano yang mengerti.
Mudah-mudahan saja dia beljar dari hal ini. Ketika dia nanti hidup sendiri dia belum tentu menghadapi oang yang mempunyai tingkat toleransi seperti keluarganya. Teman boleh saja sangat baik, tapi mereka bukan anggota keluarga sehingga ketika dia dibentak-bentak belum tentu diam dan tidak bereaksi seperti ayahnya.
AC banjir atau sepatu bodol itu hanya sebagai objek yang menyertai kita dalam menghadapi berbagai konflik. Sekali lagi, hal sepele dan kadang-kadang menjadi penyebab letusan yang dahsyat. Bukan hal sepelenya, tapi karena tekanan yang kuat yang menerobos seluruh saluran emosi kita menjadi sebuah ledakan. Bayangkan balon, jika udara di dalamnya tidak banyak, maka hanya akan kempis dan tidak meletus, tapi jika tekanannya sangat tinggi karena udara didalamnya sangat penuh, jarum kecil yang menggores akan menjadi stimuli yang mengakibatkan tekanan itu pecah dan meletus. Begitu ilustrasinya. Entah kalau dibahasa secara saintifik bagaimana, saya sih awam, hnya berandai-andai dengan pola pikir sederhana saja.
Foto credit: marathonhandbook.com