Wah... jadi bengkak ternyata. Pagi ini saat bangun kudapati mataku bengkak sebelah. Semalam selesai menulis pun wajahku sudah aneh, bentol-bentol menyebar rata di sekitar mata hingga ke pipi. Sekarang bentol-bentol itu meski masih ada, syukurlah sudah mengecil.
Aku lalu menerka-nerka apa penyebabnya sembari membereskan dapur. Kemarin sore setelah misa di stasi aku lanjut ke Dustira untuk menghadiri misa requiem seorang kerabat. Selesai acara kami diberi bubur yang sudah disiapkan dalam wadah untuk dibawa pulang. Bubur itulah yang kumakan sesampainya di rumah karena selain lapar, sayang juga kalau tidak dimakan.
Tidak ada yang aneh sebetulnya dengan bubur itu, biasa saja seperti bubur pada umumnya, kecuali bungkus plastiknya yang banyak.
Aku memang punya alergi dengan daun basil atau kemangi, reaksi alerginya berupa angioedema yaitu pembengkakan yang terjadi di bawah lapisan kulit. Tidak ada rasa gatal, biasanya terjadi di area mata dan bibir namun pernah terjadi pula di lidah dan tenggorokan sehingga menyebabkan kesulitan bernapas.
Saat pertama kali mengalami angioedema, tentunya tidak langsung tau pasti apa penyebabnya seperti sekarang ini dan hanya menebak-nebak saja.
Maka sembari menyusun esai ini aku sedikit melakukan riset, barangkali jadi ada jawaban atas rasa penasaranku tentang alergi ini.
Di artikel yang kubaca dijelaskan bahwa sesungguhnya angioedema adalah 'maksud' baik dari tubuh untuk menyingkirkan benda asing yang berpotensi mengganggu tubuh. Saat itu terjadi tubuh melepas histamin ke dalam aliran darah. Histamin adalah senyawa kimia yang dibuat di dalam tubuh yang dilepaskan oleh sel darah putih ke dalam aliran darah saat sistem kekebalan melawan alergen potensial. Pada kadar normal, senyawa yang termasuk dalam sistem kekebalan tubuh ini akan melindungi kita dari berbagai penyakit.
Lalu aku pun penasaran, mengapa tubuhku bisa berlebihan histamin? Ternyata jawabannya adalah makanan yang tidak tercerna sempurna mengakibatkan berkembangnya bakteri sehingga terjadi produksi histamin yang berlebihan.
Wah..rupanya makan bubur di jam 9 malam itu lah penyebabnya.
Rasa penasaran ku pun berlanjut hingga menemukan daftar makanan yang memiliki kandungan histamin tinggi seperti alkohol dan minuman fermentasi lainnya, daging yang diproses, daging asap, keju tua, susu dan produk turunannya, buah yang dikeringkan, makanan fermentasi, alkohol, alpukat, kerang, terong, dan bayam.
Lalu ada pula makanan yang memicu tubuh melepaskan histamin dalam darah seperti alkohol, pisang, tomat, bibit gandum, kacang polong, pepaya, coklat, aneka jeruk, kacang-kacangan terutama walnut, mete dan kacang tanah, pewarna makanan dan zat aditif lainnya.
Wah.. kemarin pagi aku memang sarapan alpukat dan sore harinya sempat mencicipi tepache buatan Milo saat membuat video testimoni. Berarti dalam satu hari ada tiga paparan sekaligus yang menyebabkan kadar histamin jadi berlebihan dalam darah. Jadi bukan karena bubur semata kalau begitu.
Ternyata proses menulis esai ini membuatku jadi lebih tertata dan mau lebih runut serta lebih detail dalam mencari tahu sehingga informasi yang termuat tidak keliru.
Wah... berarti aku bisa mencoba lagi makan basil atau kemangi barangkali belum tentu alergi. Tapi harus dimulai dulu dengan menghentikan semua asupan makanan yang mengandung histamin tinggi maupun yang memicu tubuh memproduksi histamin, sesuai apa yang kubaca tadi.
Makanan tinggi histamin memang mempengaruhi kerja enzim DAO (Diamine Oxidase) selain bisa juga terjadi karena penyebab lain yang lebih serius seperti sindrom kebocoran usus yang meningkatkan jumlah bakteri dalam sistem pencernaan.
Oleh karena itu aku juga harus menambahkan enzim DAO yang berperan dalam memecah histamin dalam makanan dengan mengkonsumsi makanan tinggi lemak jenuh, lemak omega 3, mineral atau vitamin B, serta menjauhi makanan yang menghambat kerja enzim DAO seperti kopi, teh dan alkohol.
Selain dua faktor tersebut di atas, histamin dan DAO, satu lagi hal yang harus dikerjakan adalah menghindari lingkungan yang memberi potensi alerginya, seperti debu, polen dan bulu binatang.
Catatan lain yang kutemukan menyebutkan bahwa kadar hormon juga berpengaruh terhadap peningkatan histamin dalam darah. Hormon progesteron secara alami akan menurunkan histamin. Maka jika seseorang memiliki kadar esterogen yang tinggi maka secara otomatis pula kadar histaminnya akan meningkat.
Wah.. ternyata banyak penemuan baru yang seru. Kalau begitu mari dikerjakan dulu satu persatu. Terima kasih AES!
Sumber :
Terima kasih informasinya, sekarang saya mengerti mengapa reaksi terhadap alergi ditanggulangi dengan anti histamin. Semoga cepat membaik ya..
Sama-sama Bang Joe, Nuhun 🙏🏼 😁