AES 1142 Building A Home?
joefelus
Thursday July 11 2024, 9:50 PM
AES 1142 Building A Home?

Sepertinya sekarang saya mempunyai rutinitas baru di pagi hari. Sesudah membersihkan diri, saya duduk di meja makan di lantai bawah menghadapi laptop, menikmati kopi espresso yang disiapkan oleh sahabat saya dan menunggu saat berangkat ke kantor bersama sambil memikirkan akan menulis apa hari ini.

Pagi ini saya agak lelah karena baru bisa memejamkan mata hampir tengah malam dan terbangun beberapa jam kemudian karena mengalami masalah pencernaan, seperti keracunan makanan. Agak aneh sebab saat makan malam saya menikmati santapan yang sama seperti mas Aris, tapi dia tidak mengalami apa-apa. Jadi entahlah, mungkin ada makanan lain yang membuat pencernaan saya morat- marit begitu.

Eniwei, terus terang saya merasa begitu dimanja tinggal di tempat sahabat saya ini. Tidak terasa sudah lewat 1 minggu Nina dan saya tinggal di sini. Rumah yang menurut saya sangat ideal, memiliki segala amenities yang diperlukan, bahkan bagi saya agak terlalu mewah. Pendek kata saya tidak mempunyai keluhan apapun, kecuali memang ini buat kami berdua bukan "home", hanya tempat tinggal sementara walau amat sangat nyaman dibandingkan dengan apartemen kami yang dulu.

"I kinda miss my old apartment." Kata saya pada mr.G. rekan sekantor.

"I bet!" katanya.

"It's not that Aris' house is not nice, it is actually very nice, too nice, and too beautiful. But it is not a home for me. Plus it is far and during the hybrid day like today, I cannot just walk home and do stuff from there." Kata saya lagi

Itu percakapan saya kemarin dengan Garret, rekan satu cubical di kantor. Memang harus saya akui rumah dimana saya saat ini tinggal sementara sangat besar dan indah. Berada di lingkungan yang sangat bersih, rapih dan mahal. Perlengkapan rumah serba lengkap, peralatan dapur semua tersedia, bahkan melebihi yang saya impikan. Ada mesin espresso, ada grill yang bagus di luar ada jacuzzi, pokoknya buat saya ini sangat luar biasa. Daerah pemukiman ini juga sangat damai, hampir tidak mendengar apapun. Pokoknya ini tempat tinggal yang sempurna.

Tapi bangunan rumah yang sempurna tidak berarti otomatis menjadi home! Saya sulit sekali menemukan padanan kata yang tepat untuk home. Kata ini memiliki ikatan emosional dan rasa kepemilikan yang dalam.

Dari sini saya mulai banyak merenung. Terus terang, selama ini saya tidak pernah, atau belum pernah menciptakan home yang permanen. Memang betul saya memiliki rumah yang saya bangun dari nol, dari sebidang tanah yang dulunya merupakan kebun dan sebuah sumur yang dimiliki penduduk desa menjadi sumber air bagi mereka. Tapi selama itu saya tidak pernah berusaha mengisinya dengan benda-benda yang akan saya nikmati selamanya. Semua benda yang ada adalah untuk sementara, yang murah meriah, bukan yang akan saya gunakan untuk selamanya yang berkualitas baik. Aneh sekali! Bahkan saya sama sekali tidak keberatan kehilangan benda-benda itu. Kecuali justru benda-benda kecil yang memiliki nilai emosional karena related, terkait dengan sejarah perjalanan hidup, sementara benda-benda lain seperti meja, lemari, bahkan peralatan dapur tidak memiliki arti apa-apa bagi saya. Selama ini saya belum pernah berusaha menciptakan home. Alasannya sederhana, karena selama ini saya selalu menganggap bangunan-bangunan itu hanya sebagai tempat perlintasan. Saya tidak pernah berniat untuk menetap di sana! Dan sejauh ini semuanya itu benar, hanya sementara.

Pertanyaan saya sekarang adalah, apakah kali ini akan menjadi home, tempat saya menetap yang merupakan ujung dari sebuah perjalanan? Bahwa akhirnya saya akan berusaha menciptakan home? Kenapa begitu? Karena saya merasa semua tujuan-tujuan dalam hidup yang selama ini saya canangkan sudah tercapai sehingga apakah mungkin sekarang adalah saatnya beristirahat dan menetap? Satu hal, tapinya, saya masih ingin bertualang! Jadi lagi-lagi jawabannya masih mengambang.

Foto credit; thespruce.com