Petualangan saya yang baru untuk hari ini, disamping bergumul di jalan dengan kepadatan lalu lintas dan tingkah laku para mengguna jalan yang ajaib, adalah berburu kopi!
Selama ini ketika saya ingin minum kopi, hampir tidak ada halangan sama sekali. Saya bisa pergi ke mana saja tanpa mengalami banyak kesulitan, jika satu tempat tidak tersedia area parkir saya akan dengan mudah memilih tempat lain. Nah di Bandung ceritanya berbeda sekali. Padahal menurut data statistik di kota Bandung ada lebih dari 350 kedai kopi. Wah bukan main! Tapi apakah angka itu akurat saya juga tidak tahu karena laman biro pusat statistik menurut saya sangat ribet dan tidak ramah untuk pencari data. Saya terlanjur malas untuk menggali karena dilempar kesana-kemari padahal yang saya butuhkan sangat simpel.
Eniwei, saya meninggalkan kantor Nina menjelang jam tutup kantor. Para mahasiswa baru yang sedang menjalani masa orientasi masih sibuk dan saya berusaha mendahului sebelum mereka bubaran karena tidak berniat berada ditengah-tengah kemacetan arus pulang para mahasiswa. Sejak jaman saya kuliah, waktu dulu bubar penataran P4 (haha.. terlihat sangat jadul ya.. masih ada penataran P4) jalan Ciumbuleuit menuju Gandok ketika jam pulang padatnya luar biasa, itu puluhan tahun yang lalu, saat ini luar biasa menakjubkan macetnya.
Iseng saya mengemudi ke atas untuk melihat kedai-kedai kopi. Memang bertebaran dimana-mana, ada yang area parkirnya luas tapi itu kedai kopi Amerika yang saya sama sekali tidak tertarik. Saya ingin menikmati segala jenis kopi lokal, sebab yang gaya Amerika saya sudah puas hampir menikmatinya setiap hari selama hampir 8 tahun. Cukup sudah. Sekarang saatnya minum kopi produksi lokal yang patut dibanggakan.
Selama 2 minggu terakhir ini saya banyak sekali mencoba berbagai kopi dari berbagai lokasi. Ini menjadi semacam hiburan tersendiri bagi saya karena melihat kecenderungan masyarakat yang ingin menikmati makanan dan minuman berkelas. Jadi begini, jika di Amerika, saya mengerti seluk beluk kopi yang disajikan di kedai-kedai. Ada 2 jenis yang paling populer yaitu drip coffee dan espresso. Sebetulnya ada lagi yang lain yang mulai menanjak kepopulerannya misalnya nitro coffee yang merupakan kopi yang diinfuse dengan nitrogen dan cold brew, yaitu kopi yang dibuat menggunakan air dingin dengan melalui proses yang lama, biasanya kalau di rumah prosesnya semalam suntuk. Di Amerika tidak ada kopi tubruk yang merupakan cara menikmati kopi tradisional tanah air sebelum masyarakat terpengaruh cara dan kebiasaan dari luar.
Nama-nama kopi yang ada di menu memang keren-keren walaupun sebetulnya pada intinya hampir sama. Seperti kalau gaya Perancis ada cafe au lait, yang merupakan kopi dicampur dengan steam milk. Coffee Latte itu gaya Italia dimana espresso, yaitu kopi yang kuat karena menggunakan mesin espresso, lalu diberi steam milk dan milk froth alias susu yang dikocok hingga berbuih, cara mengocoknya bisa menggunakan frother atau menggunakan uap panas. Nah semua itu sebetulnya adalah kopi susu dengan cara pengerjaan yang berbeda-beda. Pada akhirnya nanti ketika susu dan buih sudah bercampur dengan kopi ya sama saja dengan kopi susu. Bedanya lagi kalau kopi susu tradisional hanya 4 ribu rupiah sementara coffee latte atau cafe au lait harganya 35 ribu, karena namanya jauh lebih keren! hahahaha..
Jangan salah, saya juga korban dari trend masyarakat. Saya sudah kepingin menikmati cappuccino di awal tahun 90-an gara-gara menonton film Hudson Hawk yang dibintangi Bruce Willis. Terlihat sangat keren menikmati kopi di sebuah kedai yang keren lalu ketika mencicipi kopi buihnya menempel dibibir. Itu awal dari kecintaan saya pada kopi keren walau saat itu hanya mampu menikmati kopi kapal api diberi gula yang saya beli dari warung. Gulanya dibungkus plastik seperempat kiloan dan dapat bertahan selama seminggu lebih.
Eniwei, semua lokasi kopi penuh sesak, saya tidak menemukan tempat untuk parkir sehingga terpaksa saya turun dari Ciumbuleuit sambil bermacet-macetan dan berusaha mencari tempat lain ke tengah kota. Perjuangan mencari kopi itu memakan waktu sangat lama, berputar-putar dari jalan Cihampelas hingga berbelok ke arah Gedung Sate. Saya yang tahu jalan tapi tidak hapal arah lalulintas beberapa kali kecele. Kalau dulu boleh belok sekarang tidak lagi, kalau dulu 2 arah sekarang hanya satu arah, dan lebih parah lagi yang tadinya arahnya ke atas sekarang ke bawah. Kacau! Saya berputar-putar hingga akhirnya menemukan jalan Progo yang tentu saja tidak ada parkir. Jalan Riau tidak kalah padatnya. Begitu hebatnya kah animo masyarakat untuk menikmati kopi dengan nama keren? Luar biasa.
Sebelum saya ke Colorado, memang kopi sudah mulai naik daun. saya sudah mulai mengunjungi beberapa tempat yang nyaman untuk menikmati kopi sambil membaca buku atau bekerja dengan membawa laptop. Saat ini jauh lebih hebat l;agi. Warung kopi dimana-mana dan tidak ada yang sepi. Semua tempat parkir penuh, hingga akhirnya sesudah 1,5 jam berkeliling saya menemukan tempat parkir di jalan Naripan. Lagi-lagi menunya menggunakan nama keren seperti caramel latte, cappuccino dan lain-lain. Satu yang sama, semua kopi yang sudah saya nikmati selama ini kurang kuat, saya harus selalu minta double shot espresso. Nah khan? Saya sudah jadi korban kopi keren? Ya begitulah. Bukan karena ingin gaya-gayaan, selama belasan tahun total tinggal di rantau kopi menjadi minuman saya hampir setiap hari dan jika dibandingkan dengan penghasilan ketika di rantau, kopi ya setara dengan kopi di warung di Bandung seharga 3 atau 4 ribu rupiah. Itu perbadingan antara harga kopi dengan penghasilan. Nah bedanya di tanah air, harga kopi keren selangit sementara penghasilan tidak memadai. Kalau gaji di tanah air dan saya terus menerus minum kopi keren, maka dalam waktu 2 minggu saya tidak punya sisa uang untuk makan! Kopi yang biasa jadi minuman sehari-hari di tanah air jadi barang mewah!
Foto credit: kompas.com