AES 1202 St. Peter
joefelus
Wednesday September 18 2024, 10:23 PM
AES 1202 St. Peter

Katanya hari ini di Bandung ada gempa, bahkan masuk di berita suratkabar. Saat itu saya sedang mengendarai sepeda motor sehingga sama sekali tidak aware bahwa ada gempa yang katanya sekitar skala 4.5. Ketika saya tiba di rumah pun tidak ada yang membicarakannya padahal ada sekitar 6 orang yang bekerja mengebor untuk mencari air.

Karena berbagai kesibukan, pagi ini lewat begitu cepat. Nina dan saya harus bergegas karena akan segera melakukan perjalanan seminggu menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Adik saya menjemput lalu mengantarkan kami berdua menuju stasion kereta cepat, Woosh. 30 menit perjalanan menuju stasiun hanya untuk mengetahui bahwa kereta kami dibatalkan karena sedang dalam proses safety check. "Karena gempa!" Kata salah seorang petugas. Untuk keselamatan dan kenyamanan, pihak pengelola kereta Woosh ingin memastikan bahwa pengoperasian kereta aman. Mereka membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk melihat apakah semua rel dalam keadaan laik untuk dilalui. Saya mengerti, lalu sesudah proses pengembalian uang tiket kami memutuskan untuk pergi ke stasion kereta biasa.

Kembali saya harus menghadapi pengalaman yang menarik. Indonesia negara yang dikuasai oleh aplikasi berbasis internet. Tiba di stasion kereta, saya tetap harus memesan tiket menggunakan aplikasi. Karena tidak terbiasa dan juga aplikasi begitu membingungkan serta masih banyak bugs-nya. Setelah sekian kali mencoba, saya tetap gagal. Kami memutuskan menggunakan kios untuk memesan tiket yang tersedia di lobby. Berlama-lama kami harus melakukan itu sebab harus memasukkan nomor identitas dan sebagainya hingga kemudian didekati seorang petugas keamanan.

"Ingin naik kereta jam berapa, Pak?" Tanyanya

"Jam 3, mas kalau bisa." Jawab saya

"Bapak ke sana saja, memesan di ujung." Katanya lagi sambil menunjukkan tempat untuk membeli tiket.

Kami berdua akhirnya berjalan ke sana, saya pikir akan ada loket untuk pembelian tiket, ternyata kami malah kesasar ke tempat orang-orang yang akan naik feeder menuju stasion Padalarang untuk naik Woosh. Ternyata Woosh sudah beroperasi kembali. Kami akhirnya dibantu seorang petugas dan diperkenankan naik feeder walaupun belum memiliki tiket Woosh.

Jika sesuai dengan rencana semula, seharusnya pada saat itu kami sudah sampai di Halim. Saat itu kami masih dalam perjalanan menuju Padalarang di dalam kereta feeder.

Tiba di Padalarang tetap kami harus membeli tiket secara online. Tidak terlalu sulit hingga akhirnya kami harus membayar. Sampai di situ kami menghadapi masalah baru. Tidak ada pilihan membayar dengan kartu kredit atau debit, melainkan ada sebuah QR dan kami tidak mengerti harus bagaimana. Ada sepasang anak muda yang kemudian memberi tahu kami. "Harus pakai Qris" Katanya. Saya semakin bingung karena tidak mengerti dan nama yang dia sebutkan tidak saya kenal. Untungnya Nina pernah tahu, sebab ada beberapa orang mahasiswa yang membeli batagor dan membayar dengan menggunakan Qris itu.

"Ya Tuhan... begitu canggihnya kah Indonesia sehingga beli batagor di pinggir jalan dan si emang yang menjual menerima pembayaran dengan menggunakan QR? Dan betapa ketinggalan jamannya saya yang tidak mengerti apapun tentang hal ini?"

Akhirnya dengan bantuan sepasang anak muda ini kami berhasil memperoleh 2 tiket untuk naik Woosh. Lalu kami memutuskan membeli kopi karena sepanjang hari simpang siur mencari cara untuk pergi ke Jakarta menggunakan kereta dan belum juga berhasil. Sesudah memesan kopi, lagi-lagi kami harus membayar menggunakan Qris. "Non-tunai, Pak!" Katanya. "Hadeeeeuhh" Pikir saya. Begitu banyaknya yang harus saya pelajari setelah melanglang buana sekian lama. Saya pikir AS asalah negara adidaya, tapi jika dibandingkan dengan Indonesia yang begitu sarat penggunaan peralatan berbasis internet, AS tertinggal jauh! Saya merasa seperti orang kampung yang tersesat ditengah kota besar!

Perjalanan menggunakan Woosh begitu menarik. Sangat senyap, sangat halus dan hampir tidak terasa ada goncangan. Jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan naik pesawat terbang! Luar biasa. Hanya saja karena baru saja terjadi gempa dan khawatir akan adanya gempa susulan, maka kereta Woosh dibatasi kecepatannya. Selama perjalanan dari Padalarang hingga mendekati Jakarta saya hanya melihat kecepatan maksimal 79 km/jam, baru sesudah mendekati Jakarta kereta ngebut dan kecepatan tertinggi 297 km/jam. Katanya itu belum menjadi kecepatan tertinggi. Butuh waktu selama hampir 1,5 jam hingga tiba di Halim. Sopir sahabat kami sudah menunggu sekian lama, namanya Simon Petrus.

"Oh My God! Saint Peter is waiting for us at the gate!" kata saya jahil

"Does it means we are going to heaven?" Sambung saya lagi

Nina dan saya tertawa riuh karena Simon Petrus adalah nama di Kitab Suci dari Santo Petrus yang memegang kunci sorga.

"Namanya Simon Petrus, tapi dia ke mesjid!" Kata sahabat kami

Hahahaha... ini memang hari yang seru!

Foto credit: en.wikipedia.org