Saya duduk sendirian di salah satu bangku di kelas ekonomi kereta Sancaka dari Solo menuju Surabaya. Gerbong terlihat lengang sehingga saya pindah tempat duduk agak ke belakang agar dapat memberikan ruangan untuk Nina yang sedikit kepanasan. Di indikator suhu gerbong, dikatakan saat ini suhu 24 derajat Celcius, tidak terlalu panas, tapi kami akan lebih nyaman bila suhu sekitar 20 derajat. Untung gerbong kosong, sehingga tidak terlalu sumpek.
Kami memang memilih kelas ekonomi sebab ingin menghemat, kereta eksekutif seperti yang 2 hari lalu kami tumpangi dari Jakarta ke Solo harganya lebih dari 2 kali lipat, dan jika hanya untuk perjalanan selama 3 jam, saya pikir sepadan dengan fasilitas yang disediakan walau hanya di kelas ekonomi yang fasilitasnya terbatas. Ruang untuk kaki jauh lebih sempit, tidak ada internet, tidak ada meja yang disediakan untuk menaruh gelas minuman atau untuk saya saat ini bisa digunakan untuk menaruh laptop sehingga saya dapat menulis dengan leluasa. Tidak apa, menghemat 200 ribu rupiah jauh lebih penting daripada memilih menggunakan meja.
Gerbong kereta sangat bersih, saya tidak melihat sampah sedikitpun tempat duduk sangat nyaman walau memang berguncang-guncang tidak seperti Woosh, kereta modern yang konon ketika bergerak tidak menyentuh tanah, hovering. Itu katanya dan bagi saya sangat masuk akal, karena ada gelombang magnetik yang memungkinkan kereta bergerak tanpa hambatan, tanpa ada friksi seperti kereta yang bergerak di atas rel yang saya tumpangi saat ini.
Barusan saya menghabiskan sebuah kotak besar berisi nasi, gudeg, telur, sepotong paha ayam, sepotong tahu bacem dan sambal goreng kerecek. Sudah sangat lama saya tidak menikmati gudeg seenak ini. sambil menikmati makan siang ditemani 2 buah kerupuk saya melamun. Nun jauh di sana dulu sekali saya menikmati makanan serupa, tidak seenak saat ini, dan jauh lebih sedikit karena berusaha dihemat sebab harganya lebih dari 10 kali lipat harga makanan yang sedang saya nikmati. Di sana semua memang serba mahal, juga harga tiket kereta api. 10 kali lipat jika dibandingkan dengan harga yang saya bayar untuk saat ini. Sudah saya ceritakan kemarin, kereta api di sini tidak kalah dibandingkan dengan yang di sana.
Saya raih segelas besar es kopi yang tadi saya beli di stasiun. Lagi-lagi saya tanpa sadar membadingkan dengan yang pernah saya nikmati di sana. Rasanya tidak kalah, lagi-lagi harga jauh lebih murah. Saya memandang keluar jendela. Sawah yang sangat luas menghijau menawarkan pemandangan yang menarik. Sekelompok petani sedang menanam padi, masih telihat tunas-tunas yang pendek-pendek tersusun berderet dengan sangat rapih. Sementara ada seeorang yang duduk di pematang mengenakan kaos merah, satu kaki ke bawah dan satu lainnya terlipat di atas pematang. Mungkin bapak ini sedang beritirahat makan siang. Saat ini sepuluh menit lewat dari pukul satu siang. Untuk sementara orang mungkin saat ini saat istirahat makan siang. Saya mulai sangat mengantuk. Penyakit sesudah makan siang, apalagi gudeg yang barusan saya habiskan sangat luar biasa rasanya. Hampir saja saya jatuh tertidur ketika kemudian dikagetkan oleh suara pengumuman yang lantang bahwa kereta akan tiba di stasiun Madiun. Masih sekitar 2 jam lagi hingga tiba di Surabaya. Sepertinya saya akan mengakhiri obrolan yang tidak jelas ini dan memutuskan untuk memejamkan mata sejenak.
Foto credit: bandungasyik.com