AES 1306 Puisi
joefelus
Wednesday January 22 2025, 9:52 AM
AES 1306 Puisi

Baiklah, hari ini saya akan berusaha menjelajah sisi yang sepertinya hampir tidak pernah saya jamah, sisi yang kalau boleh jujur sekarang ini sudah tidak terlalu nyaman untuk disentuh, yaitu puisi.

Saya katakan tidak nyaman, karena walau menganggap diri saya sebagai pribadi yang sensitif dan "sedikit" memiliki empati, tapi untuk menggunakan kata-kata "indah" merasa begitu awam dan sejauh ini hanya bisa sedikit menikmati walau seringkali tidak mengerti, apalagi jika dalam bahasa Indonesia yang penuh dengan jargon dan kata-kata yang tidak saya kenal. Biasanya memang saya mencari tahu kata-kata yang tidak saya kenal itu, tapi kemudian menyerah karena terlalu banyak.

Nah pagi ini saya tertarik karena saya melihat salah satu unggahan di media sosial:

“I miss you.”
Lalu dalam puisi menjadi:
“I trace the shape of your absence in the spaces where your laughter used to linger, and let the echoes of you fill the hollow hours.”

Keren sekali bukan? Saya berusaha menterjemahkannya dalam bahasa Indonesia yang indah tapi merasa seperti orang yang tersesat. "Saya menyusuri ketidakberadaanmu ... sampai di sini saya berhenti karena tidak tahu kata-kata indah seperti apa yang bisa saya gunakan.

Saya sungguh mengerti kalimat itu, hanya saja ketika mencari padanannya dalam bahasa Indonesia, karena kosa kata "indah" saya terbatas, menghadapi banyak kesulitan. Spaces artinya ruang, ruang kosong dan ada beberapa lainnya. Apakah seperti ini: Aku menyusuri ketidakberadaanmu di relung-relung dimana gelak tawamu pernah hadir, dan membiarkan gaungnya memenuhi saat-saat hampa. Seperti itu?

“I don’t know how to let go.”
menjadi:
“I carry you in my chest like a stone—
heavy, unyielding, and carved with the sharp edges of what once was.”

Aku membawamu di dalam dada laksana batu karang, berat, kokoh dan berpaterikan ujung-ujung tajam yang... (saya sulit menyelesaikannya)

Bagaimana dengan ini: “I wish it were different.

I water the garden of could-have-beens with tears, waiting for flowers that refuse to bloom.

Sampai di sini saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Betapa luar biasanya kekuatan imajinasi dan kata-kata. Sepertinya puisi itu bermula dari sebuah kata sederhana lalu menjadi sebuah percikan inspirasi dan imajinasi yang menggambarkan emosi yang dalam, sebuah proses kreatif yang sangat indah.

Bagi saya, yang hanya menempatkan diri sebagai penikmat, puisi itu bagaikan sebuah langkah-langkah dalam perjalanan yang sarat dengan eksplorasi, melanglang buana melalui banyak kenangan, emosi dan mengkaitkannya dengan suara, pemandangan dan peristiwa disekeliling kita. Setiap kata yang mereka gunakan bagaikan batu lompatan yang menuntun kita kedalam sebuah pemikiran dan perasaan yang dalam. Suatu bentuk penggunaan bahasa yang nyata tapi sekaligus artifisial karena merupakan kiasan-kiasan yang indah dari benda-benda sekeliling kita, bermain dengan ritme dan rhymes yang bagi saya seringkali mengejutkan, dan tidak saya sangka-sangka tapi sebuah hamparan arti yang indah dan luar biasa seolah-olah itu sebuah keheningan yang berbicara dan sesuatu yang sederhana berubah, bertransformasi menjadi suatu yang luar biasa.

Kalau teman-teman tidak mengerti dengan apa yang barusan saya ungkapkan, coba lihat ini:

"I'll be okay." Lalu dalam bentuk puisi digambarkan seperti ini: "I gather the shattered pieces of myself like broken glass, knowing someday, even scars can catch the light."

Luar biasa bukan? Seandainya saja saya mampu menulisnya.

Foto credit: jpl.nasa.gov

You May Also Like