AES 1327 Order Out Of Chaos
joefelus
Thursday January 16 2025, 10:36 AM
AES 1327 Order Out Of Chaos

Memasuki suatu ruang yang tidak saya kenal seringkali menciptakan sebuah perasaan gamang. Itu yang pertama kali saya rasakan ketika diajak oleh mbak @sanya ke longpus (kolong perpustakaan) untuk mencoba mandala. Pada awalnya saya kurang berminat, "Apa sih asyiknya memberi warna pada bidang simetrikal seperti itu?" Lalu dilanjutkan dengan pikiran yang agak sinikal, "Kaya anak TK saja!" Kalimat-kalimat yang muncul dalam pikiran saya itu akhirnya saya sadari sebagai bentuk keengganan memasuki ruangan yang tidak dikenal.

Eniwei, saya menantang diri sendiri untuk mulai mencoba. Saya memilih lembaran secara acak, memejamkan mata dan tidak mau membuang enerji berdebat dengan diri sendiri untuk memilih. Kedua memilih warna dari sekian variasi warna yang tersedia. Semakin sulit. Ketiga duduk dan memandang disain simeteris tanpa tahu harus berbuat apa. Proses brainstorming dan komunikatif antara saya dengan diri sendiri, saya dengan bidang gambar pun dimulai. Hal sederhana menjadi sangat rumit, disain simestris sederhana menjadi debat dan pertarungan antara ide bagus, ide nyeleneh plus ketidak tahuan akan apa yang harus dilakukan. Kepala saya penuh dengan suara yang berseliweran. Pikiran saya bermain dengan teori, dibumbui ketakutan akan prejudice pendapat orang lain karena saya melakukan sesuatu untuk pertama kalinya, kekhawatiran akan penilaian orang karena sebelumnya saya mendengar seorang rekan orang tua berkata:"Wah ini kak Ime banget. Ini pasti kak Andi." Saya lalu berkesimpulan bahwa mandala = judgment. Waduh!

Beberapa menit awal, saya hanya memandangi desain simetris dengan pandangan kosong. "Kalau diarsir, artinya apa? Bagaimana jika garis-garis diagonal?" Begini seriusnya kah Mandala? Bermenit-menit saya bergumul dengan berbagai pikiran. Berusaha mereka-reka pemikiran teoritis, bercampur dengan perasaan tidak nyaman. Ruwet, rumit dan chaotic!

"Ah persetan dengan pikiran-pikirian itu." Dan saya mulai menggoreskan garis yang pertama, dengan warna abu-abu muda, hampir tidak terlihat di kertas putih. Napas saya mulai teratur, detak jantung semakin tenang dan proses meditatif mulai terwujud. Rileks dan soothing. Saya mulai berjalan seiring dengan semesta.

Ini adalah medium. Itu kesimpulan saya dan mulai tidak peduli dengan hasil. Saya tidak menciptakan keindahan, melainkan keteraturan. Saya tidak menggambar, tapi bermeditasi. Mandala bagi saya adalah gemericik air yang mengalir yang mengarahkan saya pada keseimbangan. Menghadirkan keteraturan dari sebuah kekacauan.

Foto credit: philosophyoflife.info