"Pagi Oom." Kata seorang anak muda di depan gerbang rumah.
Saya sapa balik dan ngobrol sebentar. Pemuda ini masih berusia dibawah 30 tahun. Lulusan Teknik Industri Unpar dan memang merupakan orang yang saya sedang tunggu kedatangannya untuk ngobrol masalah disain dapur yang saya miliki.
"Oom lama di luar ya sepertinya." Kata Reza, nama pemuda itu. Dia sepertinya melihat sekeliling rumah yang sekarang sudah banyak foto-foto yang menghiasi dinding. Lalu kami ngobrol panjang lebar tentang kesempatan belajar di luar negeri dan pengalaman merantau sementara sambil ngobrol dia mulai mengukur.
"Kurang nasionalis, Oom. Banyak orang yang berpendapat begitu." Katanya tentang orang-orang yang bekerja di luar negeri menanggapi hastag yang sedang viral di dunia maya. "Kurang nasionalis gimana?" tanya saya.
Menjadi orang yang nasionalis menurut saya tidak harus berada di dalam negeri. Meskipun misalnya orang itu sudah berimigrasi, tidak berarti dia melupakan asal-usulnya. Nasionalisme secara umum didefinisikan sebagai identifikasi yang kuat seseorang terhadap suatu negara, mendukung suatu negara dan memiliki kebanggaan akan budaya, sejarah, nilai-nilai serta pola hidup suatu negara. Jadi jika ada seseorang yang pindah keluar negeri belum tentu dia kemudian melupakan negara asalnya.
Lalu saya memberikan beberapa contoh. "Coba dalam setahun ini, sudah berapa kali Reza menikmati kebudayaan Indonesia, tari-tarian misalnya?" Tanya saya yang disambut dengan gelengan kepala. Lalu saya cerita bahwa di Colorado kami memiliki klab gamelan yang berlatih setiap minggu. Tidak hanya itu kami juga setiap ada acara budaya menyajikan makanan khas, tari-tarian indonesia bahkan banyak sekali kami mengajak para bule untuk belajar dan bergabung bermain gamelan serta berlatih tari-tarian. Kami mengapresiasi kebudayaan Indonesia justru jauh lebih besar daripada ketika kami berada di Indonesia.
Reza mengangguk-angguk. Saya katakan juga bahwa mereka yang berpendapat bahwa orang-orang yang saat ini hidup di luar negeri dan menganggap nasionalisme nya kurang itu salah besar. Mereka berpendapat begitu karena tidak pernah mengenyam kehidupan di luar negeri. Itu saya jelaskan kepada Reza. Saya katakan juga justru kami yang tinggal di luar jauh lebih mencintai budaya, cara hidup bahkan nilai-nilai kehidupan Indonesia. Kami rela mengorbankan banyak hal demi menikmati "ke-Indonesia-an" kami.
Rasa memiliki dan komitmen terhadap Indonesia justru jauh lebih kental ketika orang-orang itu tinggal di tempat lain sebagai kelompok minoritas. Perbedaan suku, agama dan lain sebagainya justru pudar di sana. Di acara lebaran maupun Natal, misalnya kita semua kumpul, tidak peduli siapa menganut apa. Kita semua saling menghormati dan guyub. Kita semua bangga akan Indonesia dan berusaha memperkenalkan pada semua orang. Sederhana saja, semua teman-teman bule saya pernah mencicipi sate, gado-gado dan rendang. Mereka tahu kue lapis, pukis, tahu isi, tempe maupun martabak.
Nah bandingkan dengan yang tinggal di tanah air. Karena semuanya menjadi sangat biasa, maka apresiasinya juga biasa saja. Makan martabak sudah tidak aneh, lihat gamelan juga sudah sering. Beda dengan mereka yang dirantau, melihat orang bermain gamelan sambil mengiringi tari Bali, banyak yang terharu hingga menitikan air mata karena bangga apalagi yang main gamelan dan nari orang bule! Nah apakah seperti ini dianggap kurang nasionalismenya?
Contoh sederhana lain. Mereka yang bekerja keras di rantau, selalu tidak lupa mengirim sesuatu ke tanah air. Membanting tulang di sana, di kampung halaman membangun rumah. Mereka mengirimkan rejeki dan dibelanjakan di tanah air. Apakah semua itu kurang? Jadi saya setuju, Kabur aja dahulu, balik kemudian. Kaya saya! hahahahaha..
Foto credit: voi.id