AES 1353 Menginspirasi
joefelus
Friday March 7 2025, 9:22 AM
AES 1353 Menginspirasi

Kalau ada yang bertanya pada saya siapa orang yang memberikan inspirasi dalam hidup, kemungkinan besar saya akan sangat sulit menjawab. Kenapa begitu? Karena pada dasarnya saya memiliki lebih dari satu orang yang benar-benar saya jadikan sosok yang bisa saya contoh. Paling mudah mungkin adalah orang tua. Banyak nilai yang saya comot dari orang tua. Ayah saya misalnya ketangguhannya, determinasinya, kerja kerasnya. Ibu saya, keramah-tamahannya, kesupelannya, kesetiaan serta kerelaanya dalam berkorban bagi orang lain. Nilai-nilai mulia semacam itu yang saya ambil. Apakah saya mencontoh semua yang orang tua ajarkan? Tidak! Saya juga melihat banyak kekurangan serta kelemahan mereka. Itu juga menjadi bahan pelajaran yang saya olah untuk tidak menjadi seperti itu. Belajar itu tidak hanya dari hal-hal positif, tapi juga dari hal-hal negatif.

Yang pasti jika saya ditanya dari mana semua nilai-nilai yang saya pegang teguh, saya akan menjawab dari banyak orang. Kesenangan saya ngobrol diambil dari ibu saya, hobi memasak? Dari ayah dan ibu! Ibu memang bertugas memasak, tapi ayah saya tidak kalah kualitasnya jika diminta memasak. Tepat waktu, kesetiaan, kesenangan menolong dan sebagainya saya ambil dari banyak orang. Satu dua dari A, yang lain dari B dan seterusnya. Di mata saya sejauh ini belum ada orang yang sempurna yang bisa saya tiru semuanya. Mungkin yang saya lakukan ini juga dilakukan oleh hampir semua orang.

Kita pandai menilai. Betul, bukan? Orang tua sendiri juga kita nilai. Ada hal-hal yang tidak mau kita tiru. Misalnya ayah saya senang sekali mengalah, saya tidak begitu. Bagi saya keterlaluan jika saya sedang berjalan kaki di jalur yang benar lalu ketika ada orang lain yang berpapasan, saya tidak akan memilih untuk turun ke jalan raya, tapi tetap pada pendirian saya bahwa saya berada di jalur yang benar. Ayah saya dulu tidak, beliau memilih mengalah. Pengalaman itu berbekas sampai sekarang. Itu jaman muda, saya orangnya keukeuh. Kalau benar maka saya akan labrak. Lama kelamaan saya mengerti mengapa ayah saya melakukan itu. I have to choose my battle! Ada waktunya untuk keukeuh tapi ada juga waktunya untuk mengalah. Ketika merasa benar belum tentu saya harus ngotot mempertahankan itu, karena kadangkala saya juga harus membiarkan karena jika terus ngotot hasilnya hanya buang-buang enerji dan waktu. Nah itu yang kemudian saya pelajari dan ketika mengkaitkan dengan pengalaman bersama ayah saya dahulu, sekarang saya mengerti.

Peran dalam hidup itu sangat penting dan kita harus selalu berusaha untuk mindful, apalagi ketika sudah memiliki anak. Pada saat itu saya mulai sadar bahwa segala tindak-tanduk, ucapan bahkan penerapan nilai-nilai dalam hidup harus benar-benar saya terapkan dengan sangat teliti dan mindful. Kenapa begitu? Peran saya sekarang berubah. Dulu saya memandang sosok orang tua, menilai dan meniru, sekarang saya dipihak yang berbeda. Saya harus selalu menunjukkan karakter yang mulia, tutur kata harus benar-benar diperhatikan, menjalankan nilai-nilai yang saya anut juga harus seksama. Ada seseorang yang melihat, memperhatikan, menilai dan meniru saya!

Ada yang bilang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, tapi saya harus sadar juga jangan sampai buah yang jatuh itu terlindas traktor misalnya hahahaha.. Nah itu gurauannya. Pada intinya segala hal yang saya lakukan tujuannya agar dapat menginspirasi Kano, misalnya. Ucapan seringkali tidak cukup, bahkan tidak jarang ketika kita mengkuliahi justru menimbulkan friksi dan berakhir dengan ketidaknyamanan. Kadang saya harus belajar untuk diam dan menunjukkan dengan aksi, dengan tingkah laku yang dapat dicontoh. Misalnya saya orangnya tepat waktu. Selama bertahun-tahun ke kantor saya hampir tidak pernah terlambat. Nah saya lakukan itu terus menerus dan Kano dapat melihat. Dia tidak buta, dan dia bisa meniru.

Foto credit: drprem.com

You May Also Like