Percaya atau tidak, ini adalah rekor terpanjang saya "tidak menulis"! Satu minggu penuh! Sebelumnya hanya 5 hari. Bukan hal yang membanggakan bagi saya, trus terang saja. Tapi saya punya alasan (hahahaha). Yaitu saya sedang tidak baik-baik saja, bahkan 3 hari terakhir saya demam hingga 102F, ya belum terlalu tinggi tapi itu berarti ada sesuatu yang perlu diwaspadai.
Apakah selama 1 minggu itu saya punya keinginan untuk menulis? Keinginan sebetulnya selalu ada, tetapi ketika sudah mulai duduk di depan komputer rasa tidak nyaman muncul kembali. Situasi saat ini sangat tidak baik dan saya selalu dirundung rasa amarah yang tinggi melihat banyak teman-teman saya yang terancam di luar negeri, semakin sering memantau situasi semakin membuat saya tidak senang. Jadi dengan suasana perasaan seperti itu, saya memilih untuk menghindari komputer dan tidak menulis.
Lalu bagaimana saya kembali menulis hari ini? Simpel kok, karena saya sibuk di dapur! Hahahaha... remedi atau obatnya ternyata sangat sederhana, menyibukkan diri di dapur. Sejak pagi saya bangun langsung menakar tepung, air, ragi dan minyak jaitun serta garam. Saya akan membuat banyak sekali focaccia bread karena besok ada teman-teman dari kantor Nina yang akan bertamu, mungkin sekitar 20 orang.
Nah, saya akhirnya benar-benar mengakui bahwa bekerja di dapur dapat mengubah mood. Awalnya memang biasa saja, begitu mulai mencampur ragi dengan semua bahan-bahan, mengaduk-aduk lalu mendiamkan selama sekian menit, aroma dapur menjadi sangat membius. Saya bekerja selama 8 tahun mengelola Bakeshop di CSU di Fort Collins sana. Setiap hari saya harus mengunjungi dapur tempat para koki membuat kue dan membakar roti sebelum kemudian saya bekerja di kantor saya sendiri yang gedungnya berlainan. Aroma adalah sesuatu yang sangat berkaitan dengan memori, jadi begitu mencium bau adonan roti saya langsung ingat masa-masa yang menyenangkan. Mood saya berubah drastis, kejengkelan saya akan situasi politik dan amburadulnya negara dimana Kano berada mulai berkurang bahkan sejenak terlupakan. Itu yang pertama.
Kemudian, pernah tidak ketika kita memiliki sebuah proyek lalu menyaksikan progresnya berjalan dengan sangat baik? Tentu pernah bukan? Dan bagaimana perasaannya? Nah itu yang saya rasakan ketika sesudah 30 menit saya lihat adonan mengembang dengan baik, lalu saya uleni setiap 30 menit dan dapat merasakan perbedaan tekstur dari yang masih agak liat hingga lembut, banyak gelembung udara dan harumnya luar biasa! Ada rasa puas yang sulit dijelaskan ketika menyentuh adonan yang halus itu. Keasyikan bermain dengan adonan "menyembuhkan" saya dari perasaan gundah gulana selama berhari-hari ini. 2 jam berlalu tanpa terasa ketika saya harus melakukan fold and strech untuk yang terakhir kalinya sebelum mengistirahatkan adonan itu di dalam lemari es hingga besok pagi ketika saya nanti harus mengeluarkannya, dan menjalankan proses terakhir dengan menaruh di loyang, lalu ini yang paling saya sukai, yaitu menekan-nekan dan menggoyang-goyangkan adonan itu di loyang yang lebar, istilah di bakeshop adalah dimple and jiggle, membuat permukaan itu penuh dengan lubang-lubang dan sesudah kemudian dibiarkan selama 2 jam akan muncul banyak gelembung-gelembung. Ini bagian yang sangat saya sukai.
Entah sudah berapa kali saya membuat focaccia ini, tapi sepertinya kali ini yang terbaik karena adonan mengembang begitu hebatnya. Saya sudah sangat tidak sabar menunggu esok hari ketika seluruh rumah akan tercium bau roti dengan aroma rosemary dan bawang putih yang nantinya akan saya buat roti lapis untuk teman-teman yang akan main ke rumah.
Foto credit: emmafontanella.com