Puluhan tahun yang lalu, apalagi jaman saya masih kuliah sebagai mahasiswa miskin yang kos-kosan di pelosok gang di pinggir sungai yang berbau minyak tanah (hahaha), kopi yang saya minum adalah kopi tubruk. Setiap bulan ketika gajian, saya menyisihkan sedikit uang untuk beli kopi bubuk dan gula. Mangkanya ketika nonton filem yang dibintangi Bruce Willis dimana di filem itu dia senang minum cappuccino yang foam nya nempel di bibir ketika menghirup kopi itu, saya begitu terpukau dan bertanya-tanya bagaimana rasanya secangkir cappuccino. Itu awal mula saya mulai terpikat kopi esspresso.
Bertahun-tahun yang lalu juga (asa geus kolot pisan ih) saya pernah berkumpul bersama teman-teman istri di perumahan menteri, kebetulan suami teman istri saya ini diangkat jadi menteri. Sekitar 50 orang teman-teman SMA yang hampir semuanya juga saya kenal seru ngobrol dan menikmati makanan. Ada wagyu steak dan makanan mewah lainnya. Tapi yang menarik perhatian saya hanya satu, cappucciono! Salah satu pengurus rumah tangga kementrian ternyata cukup handal membuat kopi jenis ini. Saya minum seperti orang panik, 4 cangkir kalau tidak salah. Hahaha..
Yang mengubah diri saya dalam urusan kopi sebenarnya karena hidup di rantau. Kopi saset menjadi tidak praktis lagi karena sulit diperoleh, tidak seperti di tanah air yang ada hampir di setiap warung pinggir jalan. Di rantau banyak pilihan juga tapi tidak saya kenal karena menggunakan bahasa dan aksara yang tidak saya mengerti. Kedua harga kopi espresso sangat terjangkau, kasarnya saya hanya perlu bekerja 1/2 jam dan saya sudah mampu membeli segelas cappucinno dari toko ritel yang terkenal. Jadi kenapa harus repot memasak air panas lalu dituang di thermos atau tumbler?
Pulang dari rantau ternyata kedai kopi di Bandung ada banyak bertebaran dimana-mana dengan harga yang sangat terjangkau. Mau kembali ke yang agak tradisional juga mudah karena tinggal ke warung kopi seduh dan di sana saya bisa menikmati kopi dengan gorengan. Tapi gaya hidup selama belasan tahun menjadi sebuah kebiasaan baru dan sulit sekali untuk kembali diubah. Kasarnya mah, default-nya sudah diganti. Kendalanya hanya satu, saya harus keluar rumah dan menerjang lalu lintas yang tidak bersahabat, kemudian setelah tiba di tujuan sulit mencari tempat untuk parkir. Nah ini masalah baru. Kedai kopi ada banyak sekali, tapi jumlah masyarakat yang tergila-gila kopi seperti saya juga sangat luar biasa banyaknya, jadi sulit menemukan tempat kopi yang enak yang mudah didatangi.
Pagi ini, setelah saya berolahraga dan membersihkan diri, saya bisa duduk dengan tenang menikmati kopi buatan sendiri dan membaca buku dengan tenang ditemani musik yang saya sukai. Saya bisa ke kamar kecil tanpa perlu khawatir meninggalkan laptop dan barang pribadi lainnya tanpa ada yang menjaga, jika lapar saya tinggal membuka lemari es dan melihat apa yang bisa saya makan. Tidak perlu sebentar-sebentar memindahkan kendaraan karena ada kendaraan lain yang akan keluar, bisa menghemat bensin, dan banyak lagi terutama saya tidak perlu menghadapi kemacetan!
Satu hal yang membuat saya gak khawatir. Apakah kehidupan jaman sekarang memang seolah-olah memaksa kita untuk lebih menjadi individualistis? Ataukah hanya saya saja yang begitu sebab kalau melihat sosial media, teman-teman masih banyak sekali yang berkumpul arisan dengan dress code segala, sementara saya sangat menikmati ketenangan di rumah tanpa harus kemana-mana. Memang benar komunikasi saya dengan orang lain masih berjalan dengan lancar, tapi semuanya berjarak karena mulai jarang berjumpa secara fisik. Nah, ini hal baru yang saya alami.
Saya selalu mengkabing-hitamkan kondisi kota besar. Saya lebih banyak menyendiri karena merasa kesulitan menghadapi kepadatan baik lalu lintas maupun dunia ramai. Di rantau karena kota kecil dan penduduknya kurang dari 200 ribu orang, kemanapun bisa dijangkau dengan mudah tanpa harus berhadapan dengan keruwetan jalan raya. Tempat parkir di kedai kopi sangat luas dan hampir dapat dipastikan selalu ada tempat duduk kosong untuk saya dapat duduk dan menikmati kopi sambil melakukan kesibukan pribadi. Bandung jauh berbeda dan saya masih sulit beradaptasi.
foto credit: nescafe.com