Saya duduk di depan komputer sambil melahap roti keju yang masih panas baru keluar dari oven. Orang Jepang memang hebat, menemukan cara yang menurut saya aneh dalam membuat roti. Mereka (mudah-mudahan info ini benar) menciptakan tangzhong atau para bule menyebutnya water roux. Roux gaya Perancis menggunakan butter, ini menggunakan air dan susu, dimasak hingga membentuk konsistensi seperti pasta, seperti lem. Ini bisa memerangkap moisture sehingga hasil akhirnya menjadi sangat lembut, lebih empuk dan tahan menul menulnya lebih lama. Roti yang saya lahap seperti makan kapas!
Tadi sambil menunggu adonan berkembang, saya berpikir tentang satu hal yang terbaik dalam hidup. Sekarang sambil menikmati kopi dan roti, saya ingin melanjutkan dengan nomor 2. Kali ini menurut saya anugerah terbaik yang saya terima dalam hidup adalah relasi. Relasi telah menjadikan saya seperti saya sekarang ini. Bersyukur kepada semesta atau pencipta atas anugerah ini. Semesta mempertemukan saya ketika masih remaja di kampung dengan seseorang yang membukakan pintu kesempatan untuk belajar mengembangkan diri. Saya ambil kesempatan itu, lalu terbuka kesempatan-kesempatan lain, juga ada pribadi-pribadi lain yang berjasa sebagai bagian dari relasi yang terbentuk dengan berjalannya waktu, dan begitu seterusnya. Saya membayangkan wajah-wajah mereka satu demi satu. Mereka adalah malaikat-malaikat yang mendampingi saya selama hidup hingga sekarang.
Hari ke 23. Sahabat saya memulai kisahnya. Suaminya masih di rumah sakit setelah operasi otak. Sekarang sudah sedikit mampu bicara walau hanya beberapa kata, juga mulai memasuki panti rehab untuk kembali belajar jalan, belajar menggerakkan anggota tubuh dan lain-lain. Operasi otak meluluh-lantahkan banyak fungsi tubuh dan hidupnya. "He was the person I talked to the most for the past 27 years, and now he is behind glass, armored by sleep and silence. When he was unconcious, I talked to him constantly, out loud and in my mind. Now I wait, discourage, for him to say something, anything." Ungkap sang istri.
Saya membayangkan bagaimana mencekamnya perjalanan mereka berdua selama hampir 1 bulan lamanya. Ketika masih dalam kondisi tidak sadar, berharap keajaiban agar suami bisa membuka mata. Ketika akhirnya membuka mata, berharap agar dapat berkomunikasi. Begitulah relasi. Relasi tidak akan terbentuk tanpa komunikasi. Manusia bukan mahluk telepatik yang mampu membaca pikiran orang lain. manusia butuh gestur, butuh kata-kata untuk membangun relasi.
"Before I left, I said I wished I could give him a hug, and just as I turned away, he beckoned me in with a curled finger. He didn't hug me back, but it was something." Itu paragraf terakhir sebagai penutup kisah di hari ke 23.
Saya merasa sangat bersedih, disamping sedih membayangkan keadaan dua sahabat saya ini, saya juga sedih membayangkan hari ini persis 2 tahun yang lalu Nina berada di ICU, unit gawat darurat dimana tekanan darah sudah sangat rendah dan hampir menjadi garis lurus. Saya tidak tahan, lalu beranjak dari depan komputer, mengambil sepatu olahraga dan menyalurkan semua kegundahan saya dengan cara membakar 661 kalori hingga tubuh basah kuyup karena keringat bercampur dengan air mata. Relasi adalah salah satu hal terpenting dalam hidup, dan ketika relasi itu dipatahkan, siapa yang akan mampu hidup seimbang? Mungkin pada saatnya akan terbiasa, tapi hidup tidak akan lengkap lagi.
Lagi, saya bersyukur. Tadi bersyukur karena diberi anugerah kemampuan untuk menikmati, sekarang saya bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk terus membangun relasi dengan banyak sahabat dan pasangan hidup. Ini hal kedua yang terbaik dalam hidup saya.
There were bells on a hill
But I never heard them ringing
No, I never heard them at all
'Til there was you
There were birds in the sky
But I never saw them winging
No, I never saw them at all
'Til there was you
('Till There was you, Beatles)
Foto credit: bbc.co.uk