Tulisan kali ini masih bercerita tentang pasar, seperti yang kutulis di AES sebelumnya.
Karena kenangan mengenai pasar begitu kuat melekat dalam ingatan, saat pulang ke kota kelahiran Desember lalu, aku sengaja mampir ke pasar dekat rumah masa kecilku. Seperti baru direnovasi, tampilan si pasar sangat-sangat berubah dibanding beberapa tahun lalu, sebelum pandemi. Lapak-lapak jualan banyak yang sudah berubah menjadi kios semi permanen, mirip di Pasar Cihapit. Tidak ada lagi penjual yang menggelar dagangannya di lantai, semua dagangan diletakkan di meja tinggi. Pasar itu menjadi lebih rapi dan tertata, tetapi aku merasa ada yang 'hilang'. Seperti bertemu kembali dengan seseorang yang begitu kita kenal setelah lama berpisah, namun tampak asing karena kita tidak mengenalinya lagi.
Pencarian pertama, tentu saja, jajan pasar! Duluuu, minimal ada dua penjual jajan pasar di sini. Yang pertama, jajan pasar basah. Campurannya yaitu lupis, cenil, dan jiwel. Aku biasa membeli lupisnya saja, atau sesekali bersama cenil. Seru sekali melihat tangan ibu penjual yang begitu lincah memotong lupis dengan benang. Setelah dipotong-potong, lupis (dan cenil) diletakkan di kertas koran beralas daun pisang, ditaburi kelapa parut dan gula merah cair. Penjual jajan pasar kedua, biasanya menjual gethuk, tiwul, horog-horog, gatot, jagung urap (bledus), dan ketan bumbu. Berbeda dengan jajan pasar basah, jajanan ini hanya ditaburi kelapa parut, tidak disiram gula merah. Khusus untuk ketan, cocolannya menggunakan bubuk koya kacang hijau, berbeda dengan di Bandung yang memakai bumbu kacang, oncom, atau serundeng. Jika beruntung, kadang ada penjual bubur sumsum dan candil yang sesekali saja berjualan di sana.
Nah, saat akhir tahun lalu aku ke pasar masa kecilku itu, aku hanya mendapati penjual jajan pasar kering. Penjual lupis sedang tidak berjualan hari itu, kata para pedagang lainnya. Jadilah aku membeli sebungkus jajan pasar berisi gatot, tiwul, horog-horog, dan bledus. Sayang, si ibu sedang tidak membuat gethuk. Senang sekali rasanya bisa membeli jajan pasar kesukaan, karena sudah lama aku tidak memakannya. Tapiii... kalau melihat si ibu penjual saat membungkus, mending tidak usah dibayangkan, deh. 🙈 Meskipun memakai centong ketika menyendok gatot dan teman-temannya, tetap saja tangannya ikut 'bekerja' tanpa sarung tangan 😅 Tak heran, dulu ibuku selalu mengingatkan untuk langsung menghabiskan jajan pasar yang baru dibeli, agar tidak keburu basi. Sekarang, saat dewasa dan menjadi seorang ibu, aku baru benar-benar menyadari alasannya.
Walaupun begitu, rasa jajanan pasar yang kubeli cukup mengembalikan ingatan masa lalu. Kapan-kapan, kalau pulkam lagi, aku akan sempatkan mencari jajan pasar lagi di sini!