Usia bagi saya seperti magnet yang terus tanpa henti menarik ke arah tertentu. Kalau magnet itu diidentikkan dengan kematian, maka saya ditarik menuju ke sana, jika magnet itu diidentikkan dengan kebijaksanaan, mungkin juga saya ditarik ke sana. Tergantung bagaimana kita memandang.
Dalam usia seperti saya sekarang ini, ada banyak sekali peristiwa-peristiwa kehidupan yang menjadi semakin terbuka dengan gambang. Saya mulai lebih sering terpapar dengan berbagai peristiwa kedukaan, teman-teman satu demi satu mulai berkurang hingga suatu waktu mungkin datang giliran saya. Tidak ada yang tahu, itu dalah misteri semesta.
Hari ini saya hanya iseng ingin ngobrol seuatu yang tidak membutuhkan pemikiran yang rumit. Hanya cerita pengalaman dan apa yang saya rasakan sesudah sekian lama dijalani. Itu saja. Apalagi beberapa waktu terakhir teman-teman di AES mulai mengungkit-ungkit masalah wellbeing ketika mulai menginjak usia tertentu. Itu sudah saya lewati lebih dari 1 dekade yang lalu, bahkan menjelang 2 dekade. Saya melalui kondisi serupa bahkan pernah saya tulis dalam salah satu obrolan.
Yang saya alami pada saat itu ketika sadar bahwa saya tidak lagi mampu membaca bahan-bahan yang tercantum dalam sebuah kemasan mie instan! Lucu ya? Sekarang saya katakan lucu, waktu itu saya merasa seperti terjaga dari sebuah mimpi panjang. Istri saya saat itu tidak boleh makan kentang dan karena dia suka mie Korea, saya berusaha mencari tahu apakah mie dalam kemasan itu mengandung tepung kentang atau tidak. Saya mengambil sebuah dan berusaha membaca tanpa hasil. Saya mencoba cara lain dengan mendekati chiller tempat keju dan mentega dimana ada lampu neon yang terang. Tetap saya tidak mampu membaca, yang terlihat hanya garis-garis tanpa bisa melihat satu huruf pun. Akhirnya saya minta tolong petugas supermarket untuk membacakan. Nah, saat itu saya sadar sudah harus mengenakan kaca mata baca! What a shocker!
Kaca mata hanyalah simbol. Saat itu saya mulai memasuki fase kehidupan yang lain. Dokter mata akhirnya memberitahu saya unuk mulai mengenakan kaca mata progresif. Tadinya normal, saya bisa lihat dekat maupun jauh, ternyata sesudah diperiksa, saya harus pakai kaca mata bifocal! Kaca mata jauh dan dekat, supaya tidak terlihat seperti opa-opa yang menggunakan kacamata dengan strip ditengah yang menunjukkan ada 2 jenis lensa, saya memilih progresive! Saat itu saya sadar sudah tidak muda lagi! Hahahaha
Anak saya masih di playgroup, biasanya jika mempunyai anak toddler, orang tuanya masih muda, keluarga baru. Saya punya anak setelah 12 tahun menikah. Menunggui anak sekolah dengan orang tua muda, saya selalu merasa muda, hingga saya harus pakai kaca mata. Apalagi saya kemudian disadarkan bahwa saya menunggu anak sekolah bersama-sama dengan orang tua yang dulu pernah menjadi murid saya! Nah di situ hidup saya berubah! Hahaha..
Persis seperti teman-teman yang berbagi cerita di AES tentang usia 40-an, saya saat itu mulai lebih concerned terhadap wellbeing. Kesadaran bahwa saat-saat puncak sudah mulai beralih going down hill, saya mulai memperhatikan banyak hal dengan lebih serius. Mempersiapkan masa depan anak-anak dengan lebih intensif, menjaga kebugaran tubuh, keseimbangan mental dan lain sebagainya.
Risiko terhadap masalah kesehatan semakin meningkat ketika usia mulai menapak di kepala 4. Saya mulai rajin berolahraga, bersama teman-teman rajin main squash, saya banyak berenang dan berlari. Memang tidak selalu begitu, ada pasang surutnya. Berhenti sekian bulan, lalu mulai lagi. Selalu begitu. Mulai belajar hidup sehat, menjauhi nikotin dan makanan yang kurang sehat saya lakukan juga. Kemudian ke gym. Sejak saat rajin ke gym, saya sadar bahwa seringkali menjaga kesehatan identik dengan rasa sakit! Saya tulis dalam sebuah esai yang kurang lebih temanya adalah penderitaan yang membahagiakan hahaha.. memang sangat kontradiktif tapi itu yang saya rasakan ketika rajin berolahraga, tubuh saya sakit sepanjang waktu tapi hati saya bahagia.
Intinya ketika mencapai usia tertentu kita mulai sadar bahwa secara fisik kita berubah, mulai masa transisi dalam banyak hal seperti menurunnya kemampuan tertentu semakin berusaha hidup dengan penuh awareness, banyak merenung, refleksi dan sebagainya karena kita tidak hanya concern terhadap kesehatan fisik tapi juga kesehatan mental. Nah untungnya selama lebih dari 10 tahun saya mencatat pengalaman-pengalaman itu sehingga saya tahu persis tentang perjalanan hidup di atas usia 40 tahun hehehe..
foto credit: goldenhillsoptometry.net