Pagi-pagi saya disuguhi sebuah bacaan mengenai self esteem. Saya tidak ingat siapa yang menulis karena tanpa sengaja esai yang dia tulis itu terhapus dari layar telepon genggam saya dan tidak dapat kembali ke bacaan itu. Sayang sekali, tapi lumayan ada satu hal yang masih nempel di kepala.
Ceritanya penulis itu duduk di cafe bersama istrinya untuk hanya sekedar menikmati kopi di pagi hari. Seperti hal-hal yang jaman sekarang normal terjadi, banyak pengunjung yang mengabadikan kopi yang akan mereka nikmati dengan kamera telepon mereka, lalu pembahasan mengenai fenomena itu dimulai. Katanya mereka yang senang membagikan pengalaman-pengalaman mereka di media sosial adalah mereka yang menghadapi masalah self esteem dan butuh validasi dari masyarakat. Semakin banyak like yang mereka peroleh, semakin baik self esteem mereka.
Hmm.. Saya jadi agak terpicu untuk berpikir. Apakah motivasi saya berbagi cerita pengalaman dan pemikiran karena alasan tersebut. Memang dalam bacaan tadi pagi ada banyak faktor lain, sayangnya karena terhapus, saya hanya sempat membaca beberapa hal saja terutama tentang self esteem ini. Wajar kalau serentak saya menepis pendapat itu. Saya tidak menyanggah bahwa memang benar ada orang yang ingin mendapat perhatian orang lain demi meningkatkan rasa percaya diri dan sebagainya, tapi bagi saya bukan ini tujuannya. Hahaha.. pagi-pagi saya sudah berdebat dengan dir sendiri. Tapi sejak awal memang saya sudah tahu bahwa saya banyak berbagi cerita bukan untuk orang lain. Memang benar bahwa forum dimana saya menulis adalah forum publik dan siapa saja dapat membaca, tapi tujuan utama saya adalah mengabadikan pengalaman hidup untuk diri sendiri dan kalau ada orang lain yang membaca, saya sama sekali tidak keberatan. Ada like atau tidak, bagi saya tidak penting karena tujuan menulis saya bukan untuk itu.
Menulis yang saya lakukan juga sebagai wahana untuk mengekspreskan diri. Itu ada benarnya karena seringkali dengan menulis keseimbangan emosi saya dapat dicapai. Berbagai kegalauan, kekhawatiran bahkan ketakutan kadang kala dapat diredam dengan cara mengekespresikannya dalam bentuk tulisan. Menurut saya itu tidak ada salahnya. Ada orang yang mampu menanggulangi kekhawatiran mereka dengan aktivitas tertentu, demikian juga saya dalam bentuk tulisan. Tentunya belum tentu masalah dapat diselesaikan, tapi dengan menulis, beban kekhawatiran saya dapat dikurangi lalu energi saya dapat lebih difokuskan pada pencarian solusi bahkan penanggulangan masalah. Sampai di situ saya semakin meyakini bahwa masalah aktualisasi diri bukan tujuan yang saya cari. Tidak jarang "berbicara" juga merupakan salah satu outlet untuk melepaskan berbagai keresahan. Dalam kelompok misalnya, berdiskusi dan berbagi tentang kekhawatiran bisa menjadi semacam cara untuk melepaskan banyak kegundahan, disamping itu kita juga merasa tidak sendirian, bahwa banyak rekan senasib dapat menjadi semacam hiburan. Misery loves company, katanya. Jadi tidak heran banyak bertebaran dimana-mana support group. Orang datang ke AA meeting untuk berbagi masalah, merasa mendapat dukungan orang lain dan bersama-sama menanggulangi masalah, Nah menulis bagi saya adalah cara yang jitu dalam menjabani kehidupan yang seringkali tidak mudah.
Menulis itu asyik, kok. Seperti akhir-akhir ini kondisi emosional saya sedang seru-serunya. Saya akhir-akhir ini menyadari dimana rumah saya yang sebenarnya. Nah mungkin akan membingungkan bagi mereka yang membaca, tak apa. Kadang pencerahan terjadi tanpa diharapkan dan waktunya terjadi begitu saja. Nanti tentang ini akan saya tulis dalam ocehan yang berbeda karena sangat sayang jika peristiwa-peristiwa semacam ini luput dan terlupakan. Nah itu yang bagi saya asyiknya menulis. Bayangkan saja seperti ketika kita sedang pergi liburan. Coba perhatikan, betapa sibuknya kita mengeluarkan kamera untuk mengabadikan berbagai momen yang sedang kita alami. Nah menulis bagi saya ada kesamaannya dengan mengabadikan persitiwa dalam bentuk foto walau tentunya ada banyak bedanya juga. Saya ingat teman kuliah saya yang beberapa minggu lalu mengunjungi Colorado lalu saya ajak keliling menikmati "hidup" di Colorado.
Teman saya ini saya suguhi liburan yang berbeda, bukan hanya mengunjungi tempat-tempat wisata, justru lebih banyak mengajak dia untuk mengalami bersama bagaimana hidup di negeri orang. Saya ajak blusukan ke desa, ke supermarket belanja kebutuhan sehari-hari, saya ajak menemani masak untuk acara kumpul-kumpul warga diaspora dan sebagainya yang tidak akan pernah dapat dialami jika ikut tour keliling dunia! Teman saya ini sangat terkesan sebab dia tidak hanya liburan tapi juga mengalami dan mengenal bagaimana para perantau hidup di negara orang. Nah, teman saya ini membuat ribuan foto. Hampir setiap pagi ketika saya jemput dia membuat foto di tempat yang sama, hari berbeda. Bagi saya agak aneh sebab apa sih asyiknya membuat foto di tempat yang sama? Bagi dia, setiap hari selalu berbeda, rutinitas tidak selalu sama. Semua itu dia abadikan dalam bentuk foto. Sementara saya mengabadikannya dalam bentuk tulisan!
Foto credit: shotkit.com