AES 1571 PK 3: Kalbi
joefelus
Saturday February 28 2026, 8:31 PM
AES 1571 PK 3: Kalbi

Yang sekarang saya inginkan adalah semacam slow lifestyle. Saya menginginkan segala sesuatu yang saya nikmati dengan kualitas yang saya inginkan, bukan melakukan hal secepat-cepatnya, sebanyak-banyaknya, sepuas-puasnya dan hal-hal yang se---nya! atau yang ter.. Bukan! Saya ingin hidup yang berkualitas. Maksudnya adalah ingin melakukan segala sesuatu sesuai dengan yang diidamkan, dengan sadar-sadarnya. Agak terlalu muluk jika saya mengatakan hidup yang mindful, sebab sejujurnya tidak selalu begitu. Agak sulit menjabarkannya, namun pada intinya saya ingin menjalankan hidup dengan penuh kesadaran. Jika saya ingin hanya duduk membaca buku, ya saya jalani sebaik-baiknya; jika saya ingin membersihkan kebun, ya saya kerjakan dengan sepenuh hati. Tanpa ada tuntutan, tanpa ada paksaan, tanpa ada target yang harus dicanangkan. Seperti akhir-akhir ini, saya sedang banyak memasak, mengenang pengalaman-pengalaman bersentuhan dengan jenis makanan tertentu.

Menikmati hidup itu bukan dalam arti kemewahan materi. Harus dibedakan, sebab setelah sekian puluh tahun menjalani hidup, saya menyadari bahwa materi bukan lagi hal yang utama. Materi memang penting, tapi bukan yang utama. Adalah suatu kemewahan bahwa saya masih dapat memilih menjalani hidup yang saya inginkan. Waktu adalah kemewahan, banyak teman-teman saya yang sudah tidak diberi waktu untuk menjalani hidup mereka. Tidak tahu kapan waktu saya habis dan berakhir karena mungkin sudah saatnya mencapai garis finish. Tidak ada yang tahu. Oleh sebab itu saya ingin menjalani hidup yang berkualitas. Apa yang dapat membuat saya bahagia, itu yang saya jalani. Jika melukis bisa membuat bahagia, ambil kertas dan mulai melukis. Jika membaca buku membuat bagaia, cari sudut yang tenang dan nyaman dan mulai membaca.

Menikmati makanan dan memasak adalah kebahagiaan buat saya. Memasak adalah sesuatu yang membuat saya rileks. Ketika sedang diterpa berbagai masalah, dapur adalah tempat persembunyian yang sangat nyaman dan entah bagaimana, dapat menenteramkan, dan tidak jarang ide untuk menyelesaikan masalah muncul di sana. Mungkin karena pada saat seluruh pikiran tenang dan rileks, saya dapat melihat permasalahan dengan lebih jelas sehingga dapat menemukan jalan keluar yang baik.

Saya beruntung karena diberi kesempatan oleh Yang Kuasa untuk tinggal di sebuah negara yang penuh dengan imigran, tidak tanggung-tanggung, selama 18 tahun! Kenapa begitu? Karena saya dapat menikmati dan belajar pengalaman dari banyak masyarakat dari berbagai suku bangsa dan budaya. Itu yang pertama. Yang kedua, saya juga beruntung karena telah diberi kesempatan untuk bekerja di bidang yang saya cintai, yaitu makanan!

Saya adalah orang kampung, tidak banyak tahu tentang makanan hingga semuanya berubah ketika mulai merantau. Pekerjaan yang berkaitan dengan makanan bermula di kedai roti lapis pada tahun 1998. Itu pekerjaan pertama saya di rantau, dengan gaji sangat rendah, $4.15/jam. Saat itu memang saya sudah senang memasak. Sejak SD, saya senang menemani ibu ke pasar dan memasak di dapur. Sejak kecil, saya sudah belajar memasak, tetapi tetap makanan sederhana. Baru ketika di rantau semua pintu terbuka lebar. Saya saat itu masih kampungan, bekerja di hari pertama seperti seekor rusa tersesat di kota metropolitan. Bingung dan hampir dipecat karena dianggap bloon hahaha. Bagaimana tidak dianggap bloon kalau di hari pertama saya baru pertama kalinya tahu apa itu mayo! Saya ingat ketika supervisor yang mentraining saya menyebutkan mayo dan saya bengong karena tidak tahu benda apa itu. Mayonnaise bukan bahan makanan yang sering saya temui dan gunakan saat itu. Ya, namanya juga orang kampung yang kampungan. Dari titik itu, pengalaman di bidang kuliner saya berkembang pesat, dari tukang buat roti lapis hingga mengelola sebuah restoran besar.

Eniwei, di saat-saat awal masa petualangan saya di rantau, saya jatuh cinta pada satu jenis makanan Korea. Yaitu iga sapi yang dipotong tipis lalu dimarinasi dan dibakar, dikenal dengan nama galbi atau kalbi. Di Honolulu saya bisa menemukan sajian ini di mana-mana karena di sana mayoritas penduduknya orang Asia. Berbagai warung makanan menyajikan ini jika mereka memiliki menu barbekyu, dari restoran, warung makan sederhana hingga food truck, dari yang harganya murah hingga yang super mahal. Kalbi sendiri adalah rak iga utuh yang masih lengkap tulang-tulangnya, lalu dipotong melintang sekitar setengah hingga 1 sentimeter. Jadi, 1 lembar kalbi bisa berisi beberapa koin tulang dan dagingnya, lalu dimarinasi. Marinasinya biasanya adalah campuran antara kecap asin, gula, bawang putih, daun bawang, wijen dan minyak wijen, kadang diberi mirin, tapi yang pasti ada adalah buah pear Korea yang memberikan aroma buah, rasa manis yang khas dan juga sebagai pengempuk daging alami. Semuanya dihaluskan kecuali wijen dan daun bawang. Rasa utama marinasi kalbi ini adalah manis dan gurih. Biasanya iga tipis ini dimarinasi selama berjam-jam hingga semalam suntuk, lalu dipanggang secara cepat di atas bara api atau flat top sebelum disajikan panas-panas bersama hidangan pendamping seperti kimchi, daikon, salad kentang, salad macaroni, toge yang dimasak dengan minyak wijen dan sebagainya.

Kalbi ini, selain tersedia di kedai yang menyajikan menu barbekyu, juga hampir selalu ada di AYCE buffet dengan menu Korea. Jika mengunjungi Honolulu, saya dan keluarga selalu mengunjungi tempat seperti ini. Salah satu tempat favorit kami adalah McCully Buffet di Jalan McCully, Honolulu, yang saya barusan dapat kabar sejak tanggal 2 Februari kemarin tutup sementara dan sedang dalam proses renovasi untuk mempersiapkan konsep restoran Korea yang lebih modern.

Saya sangat menyukai makanan Korea karena menawarkan semua cita rasa makanan secara seimbang, well-balanced. Semua titik perasa saya dipuaskan karena saya dapat menjumpai rasa manis, asin, gurih, asam, bahkan rasa pahit. Silakan coba sendiri jika penjelasan saya kurang meyakinkan. Kalbi ditemani dengan sajian pendamping menawarkan semua rasa itu, ditambah rasa pedas dan asam dari kimchi. Lengkap! Kalbi dimasak secara cepat sehingga tidak kehilangan rasa dagingnya; teksturnya tetap dapat dipertahankan, ditambah ada proses karamelisasi karena larutan marinasi mengandung gula. Daging ini juga empuk dan sedikit berlemak sehingga, dengan paduan bahan makanan yang digunakan, memberikan keharuman yang sangat menggugah selera.

Saya tidak ingat dengan jelas di mana pertama kali mencoba kalbi, kemungkinan besar di salah satu food festival atau bahkan karnaval. Saya banyak mengunjungi food festival dan karnaval karena di tempat itu saya dapat memilih berbagai sajian. Cukup datang ke satu tempat dan saya dapat mencoba berbagai jenis makanan dari berbagai daerah. Setiap tahun di daerah saya tinggal ada karnaval, dan di sana saya pasti dengan mudah menemukan menu-menu makanan favorit hingga jajanan. Di sini daftar perbendaharaan makanan yang pernah saya coba bertambah dengan pesat. Food festival adalah momen yang selalu saya kejar di mana pun saya berada. Saya juga gemar mendatangi farmers market karena di sini saya dapat mencoba makanan khas. Cultural festival juga merupakan ajang yang tidak boleh dilewatkan jika ingin mencoba hal-hal baru.

Kalbi menjadi menu makanan yang sering saya cari ketika mengunjungi daerah tertentu. Saya agak putus asa di tahun-tahun awal ketika saya tinggal di Colorado karena saya tinggal di kota kecil yang penduduk Asia-nya minim. Baru beberapa tahun kemudian saya menemukan di Denver dan di tempat-tempat lain yang menyajikan makanan Korea dan Hawaii. Hampir semua sudah saya coba. Karena begitu cintanya saya pada kalbi, bahkan ketika saya mengunjungi Harvard, di daerah Cambridge dan Boston, di Massachusetts, saya menemukan sebuah kedai yang menyajikan kalbi, tentu saja tidak saya lewatkan! Hahaha..


Sebuah kebahagiaan yang pernah saya alami adalah musim semi 2024. Saat itu ada event di tempat kerja Kano. Saat itu juga saya masih berkarya di Colorado State University dan minta izin bos untuk jadi sukarelawan ikut membantu menyukseskan event itu. Sepulang kerja, saya ganti baju dapur lalu berdua bersama Kano membuat kalbi untuk sekian ratus mahasiswa yang makan malam. Tema event itu adalah makanan Asia-Pasifik. Momen seru yang sekaligus memberikan kebahagiaan dan kenangan indah bagi saya.

Foto credit: pressurecookrecipes.com