“anak seni” julukan itu seringkali muncul ketika ada orang yang menyukai hal hal yang tidak mencakup olahraga juga tidak mencakup akademik. namun apa sebenarnya arti dari kata seni itu sendiri? dalam AES ini aku akan menggambarkan bayanganku terhadap kata seni, hal pertama yang muncul ketika aku mendengar kata seni atau aku mengatakan kata seni yaitu warna coklat. entah mengapa seni di bayanganku identik dengan baju batik dengan motif beragam yang dibuat sesuai dengan keberagaman kultur. aku bukanlah anak yang begitu kepada seni namun aku bisa masuk ke dalam dunia seni tanpa rasa keberatan apapun. baru semalam adikku mendapat tugas untuk lapisan atmosfer, yang ada pop-upnya. dia mengeluh padaku dan pada ibuku bahwa itu buatannya yang sebelumnya membuahkan hasil yang begitu jelek baginya. aku diminta untuk melanjutkan tugasnya, sebenarnya bukan melanjutkan, dia menyuruhku untuk membuat baru. sebagai kakak yang begitu baik aku pun membantunya untuk membuat itu, namun aku pun menjadi emosi. aku sedang badmood parah dan dia menyuruhku seenaknya saja dan aku pun menurutinya, bodoh, jadi emosi sendiri kan. namun tadi pagi aku dan ayahku memberi tahu padanya bahwa karay seni yangs edang dia buat itu tidak membandang betapa sempurnanya karya itu, namun keunikan atau kekhasan yang ada pada karya itu. dia ngotot mau hasilnya sempurna tapi dia tidak mau kerja dia hanya menyuruhku dan ayahku untuk mengerjakan sesuai dengan ekspektasinya. aku teringat kembali, bahwa seni ini berbicara, seni itu bercerita. seni tak ada yang sempurna namun dia bisa dinilai sempurna karena ada makna yang begitu mendalam di dalamnya, mulai dari perjuangan sampai ide yang mungkin orang tak pernah terpikirkan.