Viral, kata ini memang jadi hype sejak munculnya medsos. Terlebih sejak sesuatu yang viral mendatangkan keuntungan finansial. Bisa jadi cuan. Karenanya lah semua orang tua dan muda, miskin dan kaya berlomba untuk menciptakan sesuatu yang viral. Kalo ga viral, you are nobody.
Begitulah fenomena kehidupan modern, di mana semua orang berlomba-lomba menempatkan apapun ke ruang virtual. Karena di sanalah ruang untuk mendapatkan keviralan. Apapun yang dilakukan manusia modern dijadikan objek untuk didigitalkan dengan harapan bisa viral dan kemudian cuan mendapatkan keuntungan finansial.
Banyak tidak disadari bahwa dalam kehidupan manusia, banyak hal yang perlu kita jaga agar tetap sakral.
Saat ini bahkan relasi pribadi antara dua manusia juga sudah dijadikan komoditi untuk diviralkan. Semakin sensasional, semakin besar peluang untuk mendapatkan cuan. Karenanya banyak hal yang semestinya sakral kemudian bergeser menjadi diukur dengan uang. Dari yang sakral menjadi banal.
Bagi saya, mungkin pemikiran saya kolot, ini sangat memprihatinkan. Manusia yang sejati, kehidupannya yang utuh perlu dimensi yang sakral - karena di ruang itulah manusia bisa bersentuhan dengan dimensi yang spiritual. Dimensi yang menyimpan makna terdalam dari anugerah kehidupan manusia.
Dari sudut pandang ini mungkin bisa lebih dipahami kenapa Semi Palar bukan sebuah sekolah yang eksis di medsos. Karena pendidikan holistik, proses tumbuh kembang anak-anak kita menjadi manusia seutuhnya adalah sesuatu yang sangat sakral. Di dalam proses itulah kita menemukan dan menyadari bahwa keberadaan kita dan proses kita bertumbuh kembang adalah sesuatu yang perlu dijaga dan dikelola dengan sebaik-baiknya - dengan penuh kesadaran. Dalam proses yang berkesadaran itulah makna kehidupan bisa ditemukan. Dan saat hal itu bisa ditemukan dan kita sentuh, spiritualitas manusia mulai menyala lebih terang.
Hal-hal yang Viral dan yang Sakral saya kira berada di dua kutub yang berbeda. Hal ini sulit dipersatukan. Saya kira akan sangat sulit kita menemukan sesuatu yang sakral lewat hal-hal yang viral. Dari sini juga kita bisa paham kenapa hal-hal spiritual dan sakral ada di ruang-ruang yang hening, bukan di ruang keramaian atau keriuhan. Mudah-mudahan catatan kecil ini bisa membantu kita memahami juga proses tumbuh kembang anak-anak kita - secara holistik, di mana dimensi spiritualitas - yang salah satunya diterjemahkan melalui Sadar Diri, Sadar Lingkungan dan Sadar Tujuan - sebagaimana Tuhan menciptakan kita menjadi esensinya. Semoga.