AES950 Rasa Syukur yang Sejati
Andy Sutioso
Sunday July 12 2026, 9:28 PM
AES950 Rasa Syukur yang Sejati

Sedang cukup kerap memikirkan, merefleksikan dan membicarakan tentang rasa Syukur. Beberapa minggu lalu juga menutup TP21 lewat Syukuran spesial yang bisa dilaksanakan di Gambung. Catatannya ada di sini. 

Eh... kok pagi ini muncul video ini di timeline Youtube saya... Kebetulan? Hmm, saya sudah tidak percaya kebetulan. Ini sinkronisitas yang sedang kerap terjadi. Konten ini muncul untuk menggenapi proses belajar saya - dan tentunya kita semua di Rumah Belajar Semi Palar. Karenanya konten ini segera saya angkat di sini dan saya jadikan bahan tulisan saya malam ini. 

Lagi-lagi video ini menekankan tentang perbedaan atara olah rasa dan olah pikir. Sesuatu yang secara konsep perlu kita pahami, kemudian di sisi pengalaman, hal inilah yang perlu kita coba temukan di dalam dinamika kehidupan kita. Seperti halnya diri sejati, video ini juga menggaris bawahi bahwa ada rasa syukur yang semu. Di dalam tagline-nya : Rahasia Syukur Sejati yang Tak Terikat Pikiran. Ini juga menekankan bahwa rasa syukur yang sejati adalah juga sesuatu yang melampaui kerja pikiran. Video ini cukup menjelaskan apa dan bagaimananya. 

Mungkin saya ingin menambahkan satu ilustrasi. Pernahkah teman-teman merasakan rasa yang tidak terlukiskan dengan kata-kata. Perasaan di mana rasa yang ada betul-betul melampaui kemampuan kita untuk menggambarkannya? Perasaan kita meluap dan pada saat yang sama kita tidak mampu mengungkapkan apa-apa untuk menggambarkan, misalnya rasa syukur itu... Kalau pernah, menurut pendapat saya ini adalah gambaran rasa syukur yang sejati. 

Kata-kata, bahasa adalah produk pikiran. Karenanya hal-hal yang muncul dari ruang kesadaran, ruang batin seringkali tidak bisa dideskripsikan - didefinisikan lewat bahasa. Jadi sebetulnya, kalau konsep ini dipahami, cukup mudah untuk mengenali apakah pikiran atau rasa yang sedang bekerja. Apakah ini kerja pikiran atau olah rasa. Dari mana sesuatu di dalam diri ini muncul. Apakah dari benak kita, atau dari ruang kesadaran, dari ruang batin kita yang pada senantiasa hadir dalam keheningan. 

Yang jadi peer besar buat kita adalah membuka diri untuk membiarkan hal-hal seperti ini kerap muncul dalam diri kita. Membiarkan rasa itu keluar - saat kita bisa berjarak dari pikiran-pikiran kita yang tak pernah berhenti. 

Photo by Joni Lorraine: https://www.pexels.com/photo/grateful-text-printed-on-a-pillow-10266233/