Tidak ada peristiwa kebetulan... Mudah-mudahan tidak bosan mendengar atau membaca frasa ini dari saya. Karena di pekan Taki-taki ini, kejadian ini berulang lagi. Dan ini, saya yakini adalah sesuatu yang disebut-sebut sebagai sinkronisitas. Mestakung - kata orang-orang. Sefrekuensi, berresonansi dengan semesta. Ini ilmiah banget kan ya. Kalau kita memahami bahwa segala sesuatu di alam semesta ini adalah enerji (dan kesadaran) semata, ini adalah bentuk-bentuk resonansi dari frekuensi vibrasi semesta.
Saat mempersiapkan materi Taki-taki, saya mencari video yang bisa menjelaskan dengan singkat dan tepat - tentang tema besar yang saat ini diusung oleh Rumah Belajar Semi Palar, Sadar Kembali ke Akar. Alam semesta sedang berada dalam transisi besar di mana frekuensi vibrasi galaksi kita, planet bumi dan kita semua penghuninya sedang bergeser perlahan ke frekuensi yang lebih tinggi. Titik nadirnya sudah kita lewati di pertengahan tahun 2025 - berdasarkan perhitungan kalender masyarakat Hindu yang mengenal siklus ini dengan baik di dalam konsep siklus Yuga-nya. Saat ini kita semua sedang bergerak mendekat ke pusat orbit galaksi kita.
Kondisi inilah yang mengakibatkan segala kondisi yang kita lihat dan rasakan serba kacau di sekitar kita di mana-mana. Ya. Transisi besar sedang terjadi, seperti kendaraan yang sedang berbalik arah, ada perubahan momentum yang terasa. Di dalam perubahan yang serba cepat dan tak terprediksi, Kembali ke Akar menjadi salah satu yang masuk akal. Bukan karena ini harus dilakukan - karena sejatinya manusia sangat perlu pijakan yang kuat. Supaya grounded, napak dan tidak mudah jatuh. Sadar akan apa yang perlu dilakukan di tengah berbagai perubahan yang terjadi.