AES 018 Yah, Jadi Kepancing
leoamurist
Wednesday October 13 2021, 8:45 PM

Tadinya, mau nulis tentang sukses karena siang ini pas lagi rehat perencanaan KPB sekilas denger podcast Jordan Peterson, Sadhguru, & Andrew Huberman. Semenit dua menit sih, cicil denger. Kalau keterusan bahaya, ketiduran.

Eh, pas scrolling nemu tulisan Pak Ahkam ini. Jadi kepancing pengen nerusin. Walaupun terusannya gak terlalu nyambung sih, malah cenderung beda arah. Walaupun pemicunya sama. Pernikahan. Hmmm... Perkawinan juga. Soalnya kemarin sempat lihat-lihat informasi Kursus Persiapan Perkawinan.

😂

"Menikahlah, kalau pasanganmu baik kau akan bahagia. Kalau pasanganmu tidak baik, kau akan menjadi Filsuf." Kata Sokrates kalau gak salah ingat.

Inilah yang bisa saja disambungkan dengan pandangan Jordan Peterson & Sadhguru sekelebat memang, karena saya parsial mendengar materi kuliah mereka. Sesuai dengan kebutuhan praktikal saja.

Baik itu bukan berarti sikap baik, saja. Bukan juga berperilaku baik, saja. Bukan good, saja. Justru baik itu adalah good at.

Okey, kalau menurut Alain de Botton baik itu good enough. Ini saya pun sepakat. Di sisi lain, kata Jordan Peterson bahwa baik adalah terrifically good at pun saya sepakat. Gimana dong.

Di sini lah saya sepakat dengan kata Sadhguru, bahwa baik itu adalah sukses! Eh ternyata nyambung ama keinginan saya nulis tentang sukses nih.

Sukses adalah saat seorang benar-benar menyatakan, merealisasikan, mengaktualisasikan, bahkan memutakhirkan potensi dirinya sampe penuh. Full fledge. Disinilah terrifically good yang good enough. Kepenuhan diri. Karena selalu ada batasan, yang justru mengafirmasi kebebasan.

Dalam rangka kepenuhan diri ini, dalam rangka optimasi diri ini, dalam rangka being human ini. Ada banyak cara yang salah satunya terlibat dalam perkawinan. Cara lain kan ada selibat, ada juga yang terikat kaul (sumpah).

Walau caranya beda, syaratnya sama. Sebelum terlibat atau selibat atau terikat, pastikan diri sudah terrifically good enough at something! Spesifik ke perkawinan, kalau syarat ini terpenuhi, oleh masing-masing individu. Barulah layak berpasangan, karena sudah memiliki nilai yang dipijak untuk mampu berdiri sendiri. Sehingga layak berpasangan.

Nikah kan gandengan, bukan gendongan. Ya kan, iya kaaan.. iyain dooong 🤣
maksa

mekso

moksa

😩 yaahh kemana-mana nih..
udah ah.