“Selamat pagi,” ia melepas wajah, memasangkannya pada cermin.
“Pagi yang indah,” ia mengambil pasta, pengaroma, dan pewarna bagi tubuhnya.
“Apa kabar,” ia meletakan jiwa, pada kotak padat yang tertutup rapat, tak terkunci. Juga tak pernah bisa disingkirkan, mengganjal pintu depan.
“Kabar baik,” ia menutup mata, bersenyum tongkat penuntun arah, walau tak terarah. Menjalani yang di-seharusnya-kan terpenuhi, oleh kebingungannya.
“Senang bertemu dengan anda,” ia bertahan dengan menahan. Berjalan buta, mendengar yang biasa, menjawab karena etika.
“Senang bertemu dengan anda juga,” ia memberikan dari apa yang telah ia dapatkan dan ia mendapatkan dari apa yang ia berikan.
Saja dan hanya saja.
Apa benar kah atau dibenarkan saja lah.