Mekar matahari hijau warna terangnya, baginya yang menatap dari bawah daun pisang. Mekar matahari putih warna terangnya, baginya yang menatap dari bawah daun kecubung. Mekar matahari hitam warna terangnya, baginya yang menatap dari bawah daun pintu.
Ketiganya saling memaksa warnanya untuk dianut bersama. Saling menimbang saling mengingatkan, saling menasihati saling mementahkan masukan, saling melengkapi yang sudah berlebihan. Selalu berlebihan dengan pemikiran, berkepanjangan dengan perkataan, berkekurangan dalam peMbuatan.
Lalu orang keempat, yang ada disana otot duduknya sedangkan berkelana otot pikirannya. Mencium aroma makanan, jiwanya menyatu kembali dengan raga. Melihat tiga rekannya saling beradu daun. Tanpa paham kronologi situasi ia bersabda,
"Kalau membuat pepes jamur bisa dibungkus daun pintu, menutup rumah dengan daun kecubung, dan mencocol daun pisang dengan bumbu rujak untuk dimakan. Lanjutkan pertikaian kalian. Kalau tidak bisa ditukar-tukar demikian, gantilah perselisihan itu dengan upaya kerjasama. Kerja bersama, sama-sama bekerja, bukan katasama, sama-sama berkata-kata. Berisik dan bikin pening sedunia, kontribusi gak ada pula.
Pun kalau pertukaran tadi benar hendak dijadikan. Maka baiklah aku yang pergi dari sini. Karena hilang sudah kewarasan kalian, memaksakan yang tidak sesuai peruntukan, menilai yang tidak seukuran, dan memperbandingkan yang tidak sebanding."
Keempatnya hening. Tak lama, melihat jam dinding dan menyadari sudah tengah hari. Melupakan semua kesusahan perdebatan barusan, semua bersatu padu memilih pesanan makanan dengan diskon promo terbesar dari aplikasi penyedia makanan daring. Pesan, datang, makan, pulang. Besok, kembali perselisihan berulang. Ditutup dengan pesan datang makan pulang. Berulang. Berpulang.