AES381 Kekuasaan (2)
leoamurist
Monday January 30 2023, 11:45 PM

Kesadaran kedua adalah bahwa situasi selalu akan tumbuh baik dan terbangun sebelum akhirnya tersendat dan runtuh. Bukan menyumpahi apalagi menyampahi, ini hanya membuka telinga untuk melihat dan menutup mata untuk menilai. Coba rasakan aromanya, bukankah sangat alamiah yang namanya pertumbuhan itu dimulai dari kelahiran dan diakhiri kematian. Malahan itulah perkembangan, sekali berarti setelah itu mati. Yang abadi itu namanya artifisial, yang seharusnya itu namanya superfisial, dan keinginan untuk mengabadikan dampak dengan berkeras pada keseharusnyaan itu namanya wajar. Tidak pernah ada yang namanya kemauan, hanya ada yang namanya kemampuan.

Demikianlah dasar kemenyadaran tahapan ini, yaitu menetapkan area keterikatan. Terlibat berarti terikat, bebas adalah perihal menentukan batasan, bukan soal alternatif konsekuensi malahan adalah soal alternatif konsekuensi. Semampu apa menanggung konsekuensi apa, itulah batas dari kebebasan saya. Saya bebas maka saya menang, bisa jadi itu maksud dari arahan untuk selalu memilih pertempuran yang hampir pasti selalu dimenangkan. Gol utama dari perang adalah hasil yang bertahan selama mungkin, maka pertempuran yang terjadi perlu dimenangkan semuanya dengan mutlak. Yaitu tanpa perlu bertempur, karena kekuasaan yang jelas dan penguasaan yang tegas sudah menghentikan langkah lawan sejak dalam pikirannya.

Perangkat terbaik adalah penentuan wujud mutlak yang terasa niscaya, baik oleh diri saya sendiri juga oleh orang lain bahkan yang baru mendengarnya pertama kali. Wujud pendukung-pendukung yang niscaya ada, wujud pemenuhan-pemenuhan yang niscaya terjadi, wujud pencapaian-pencapaian niscaya terlampaui, dan wujud-wujud pergerakan yang niscaya terkenali karena pemicu-pemicu yang terkendali. Buyarnya batas antara fakta, realita, dan wacana oleh pendalaman kekuasaan dan perluasan penguasaan, menciptakan keniscayaan pada tataran perasaan. Melampaui pertanyaan kapan, yang faktanya belum ada realitanya sudah ada dan wacana menjadi tidak pernah ada. Bukan sekadar mengkhayali, ini menghayati!

You May Also Like