AES 389 Three Big Steps (teenage edge)
leoamurist
Wednesday September 20 2023, 3:35 PM
AES 389 Three Big Steps (teenage edge)

Tiga fase besar dalam proses remaja:

1. Remaja awal - Berpikir Abstrak (13-14)
2. Remaja menengah - Personalitas (15-17)
3. Remaja akhir - Diri (18-20)

REMAJA AWAL - BERPIKIR ABSTRAK

Adanya kemampuan baru untuk berpegang pada kata-kata dan menikmati argumentasi logis. Ini adalah indikasi kesiapan badan dalam membangun logika dan cara berpikir sistemik mereka. Makanya wajar kalau, kata menjadi sangat penting bagi mereka karena membawa gambaran abstrak persepsi mereka mengenai dunia. Logika yang dipakai bisa jadi belum kuat secara konteks, tetapi kental dari sisi sebab-akibat saja.

Fasilitasi pada tahap ini perlu menekankan pada membangun keyakinan terhadap hal yang mereka ketahui. Argumentasi mempersoalkan kata-kata/perkataan dengan menggunakan logika mereka, seringkali terjadi karena rasa kurang yakin akan pengetahuan yang mereka miliki. Bukan secara rasio, masih secara perasaan. Sehingga secara alamiah, melawan yang ada di depan adalah cara untuk menguji seberapa meyakinkannya pengetahuan yang mereka miliki saat ini.

Salah satu ruang olahan menindak lanjuti situasi ini adalah penguatan kemampuan komunikasi mereka dan kita. Dengan panduan tiga pertanyaan untuk mereka, sebagai berikut.
1. Pesan apa yang hendak kamu sampaikan sebenarnya?
2. Peran apa yang kamu timpakan pada orang lain?
3. Peran apa yang kamu mainkan sekarang ini?
Sambil menyadari latar belakang yang membentuk pribadi mereka sekarang, seperti genetik, pengasuhan, lingkungan, pengalaman, dan teman-teman.

REMAJA MENENGAH - PERSONALITAS (15-17)

Perubahan adalah hal yang paling terlihat dari remaja di fase ini. Caranya merespon lingkungan, teman, orang tua, dan pemikirannya sendiri berubah signifikan dari sebelumnya. Tujuannya adalah untuk mengekspresikan apa yang terjadi di dalam dirinya. Sedemikian sehingga ada ruang kosong dalam dirinya, sebagai tempat untuk bertumbuhnya pemahaman dan kesadaran diri. Paham dan sadar ini berlangsung secara simultan dan saling memengaruhi.

Hal alami yang muncul adalah kecenderungan terhadap hal-hal baru, kebaruan bagi dirinya. Makanya wajar kalau teman akan berganti, gaya hidup juga berganti, hingga cara pandang hingga terkesan acak dan spontan. Namun yang jelas adalah arahnya, bahwa ini semua terjadi demi mengalami kebaruan. Konsekuensinya, banyak hal lama ditinggalkan dan seakan tidak berpengaruh lagi. Teman lama ditinggalkan dan cara lama tidak mempan. Hal-hal kecil jadi sangat berarti, kalau itu membawa kebaruan. Hal-hal besar akan diabaikan, kalau rasanya membosankan. Remaja mampu memetakan kecenderungan kita orang dewasa, sehingga pola yang itu-itu saja rasanya usang.

Salah satu ruang olahan menindak lanjuti situasi ini adalah penguatan kemampuan diri kita. Untuk mengidentifikasi ranah subkonsius yang dimiliki oleh mereka. Karena seringkali remaja menggabungkan area sub-konsius yang ada dalam ranah imajinasi mereka dengan area konsius yaitu realita yang sedang mereka jalani saat ini. Salah satu dampaknya adalah emosi yang menggebu, mudah tersulut, dan seringkali memulai respon dengan penolakan. Walaupun tidak tahu apa yang ditolak dan kenapa menolak. Apabila kita sebagai orang dewasa sebagai pembimbing mereka mampu melihat mana subkonsius dan konsius, relasi kita dengan mereka akan menumbuhkan idealisme (bukan ideologi) dalam dirinya.

REMAJA AKHIR - DIRI (18-20)

Remaja tidak lagi bermain di permukaan, seperti pada fase sebelumnya. Mereka sudah mulai masuk lebih dalam, melalui bantuan pemahaman dan kesadaran yang merangkai idealisme dengan pengalaman hidupnya. Terlihat jelas bahwa keragaman pengalaman di fase pertama dan kekayaan penyadaran di fase kedua, menggali kedalam dirinya untuk diselami dirinya sendiri di saat ini.

Kita akan melihat hal yang berlawanan dari diri mereka, tetapi ini bukan kontrakdiksi melainkan paradoks. Seperti, peningkatan kepercayaan diri soal kemampuan yang dimlikinya seiring dengan rasa khawatir dan cemas soal kecocokannya dengan realita dunia saat ini. Besarnya harapan yang hendak dicapai olehnya meningkat seiring juga dengan kecilnya hambatan-hambatan yang mengalahkannya untuk berjalan menuju harapan itu. Ingin badan yang segar tetapi sering begadang.

Salah satu ruang olahan menindak lanjuti situasi ini adalah dengan kualitas kedewasaan kita. Yang bisa menemukan jawaban atas pertanyaan mereka sendiri adalah mereka sendiri. Karena pada dasarnya dinamika ini adalah soal menemukan garis pembatas mana yang diri sendiri dan mana yang bukan dirinya. Makanya kehadiran orang lain dan batasan lingkungan adalah hal penting bagi keberadaan dirinya. Tidak akan ada diri sendiri kalau tidak ada yang bukan dirinya sendiri, tidak ada orang lain, tidak ada lingkungan yang membatasi. Kualitas wadah (yang bukan dirinya) ekuivalen dengan kualitas isi (dirinya).

You May Also Like