Sepuluh tahun berlalu, kedua orang ini bertemu. Yang dahulu bersama di bangku kereta menuju jakarta orasi di depan gedung para penguasa. Yang sama-sama sadar yang dilakukan lebih banyak percuma namun dilaksanakan jua. Rekreasi sekalian mencoba rasanya jadi kerumunan.
Obrolan basa-basi keduanya, saat berpapasan sedang mengambil kopi dari meja kudapan, hanya begini;
"Hebat kamu, masih terus melawan, memegang idealisme, dan terus berusaha merealisasikannya, dengan perlawanan kepada sistem yang melembamkan keberdayaan manusia."
"Ah, tidak. Yang hebat justru kau, masih bertahan dalam tekanan sistem yang memperdayaimu, tetap hidup dan menikmatinya, malahan larut di dalamnya dan begitu bahagia."
There’s nothing wrong with the world.
Lalu keduanya membawa cangkir dan kue masing-masing, duduk di bangku masing-masing, mendengarkan narasumber memaparkan materinya. Kuliah umum, teknologi dan kebudayaan dalam proyeksi kemanusiaan di masa depan. Lima tahun mendatang dari pertemuan papasan di meja kudapan saat itu adalah sekarang.