Hiking ke Curug Dago
Curug Dago merupakan bagian dari kawasan hutan lindung Tahura dibawah KPH bandung Utara. Letaknya yang tersembunyi dari jalan utama Ir.H.Djuanda namun cukup dekat dari terminal angkot Dago. Curug Dago merupakan lokasi wisata alam yang sering saya kunjungi karena secara kebetulan letaknya tidak begitu jauh dari tempat saya tinggal. Aliran sungai Curug Dago berasal dari sungai Cikapundung yang mana hulu nya berada di kawasan Curug Omas yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Dari jalan Dago kita bisa menyusuri perkampungan warga. Jalan nya landai dan sudah berupa jalan yang di cor sehingga tidak begitu menyulitkan wisatawan yang berkunjung. Bagi yang ingin mengunjungi kawasan wisata Curug Dago anda harus kecewa karena di kawasan ini anda tidak dapat bermain air. Hal ini dikarenakan air dikawasan tersebut telah banyak tercemar limbah kotoran sapi maupun limbah rumah tangga. Selain anda bisa menikmati suasana alam dan air terjun yang mengalir meski tidak terlalu tinggi sekitar 12 meter, , ada satu lagi situs yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke kawasan Curug Dago. Situs tersebut ialah dua buah prasasti raja Thailand yang pernah berkunjung ke Curug Dago pada masa nya. Dua buah prasasti tersebut di letakkan dalam dua buah pondokan yang berada tak jauh dari Curug Dago. Oh iya, untuk mendekati ke air terjun nya perlu menuruni jalan yang telah di paving blok dengan tembok beton sebagai pegangannya. Kita harus tetap berhati – hati karena jalannya yang menurun dan ditutupi lumut menjadi pijakan sedikit licin. Sangat tidak disarankan mengunjungi kawasan ini di musim hujan karena letaknya yang dibawah tebing, dikhawatirkan terjadi longsor. Waktu yang tepat untuk mengunjungi kawasan wisata Curug Dago ini adalah pagi hari. Karena selain udara masih sangat segar juga air yang mengalir belum begitu tercemar sehingga tidak akan terlalu mengganggu penciuman anda. Saat saya berkunjung untuk yang ketiga atau empat kalinya, saya datang di waktu siang hari sehingga aroma air nya sangat menusuk. Meski tidak berwarna hitam namun aroma air bercampur limbah kotoran sapi dan limbah rumah tangga tetap saja mengganggu. Berbagai upaya telah dilakukan aktivis lingkungan baik swasta maupun pemerintah untuk membuat sungai Cikapundung kembali bersih namun tetap saja hasilnya belum memuaskan. Dan dari sekian banyak curug yang saya kunjungi, saya akui saya ciut nyali ketik mengunjungi Curug Dago sendirian. Saya tidak berani terlalu lama di kawasan ini karena merasa aura mistik nya sangat kuat. Sehingga membuat siapapun yang mengunjungi Curug ini akan merinding padahal lokasi nya tidak begitu jauh dari pemukiman warga. Tidak banyak yang dapat saya kemukakan mengenai hiking saya ke Curug Dago. Selain tidak sanggup berlama – lama dilokasi tersebut saya juga sangat terganggu dengan aroma air nya terlebih di siang hari. Untuk hiking, sebenarnya Curug Dago terbilang lumayan menguras keringat terlebih saat perjalan pulang. Karena jalan yang akan dilalui saat pulang adalah menanjak. Jarak dari rumah saya ke kawasan ini kurang lebih 1 km sehingga lumayan menguras keringat ditambah lagi saya selalu mengambil jalan yang agak memutar agar menambah jarak tempuh perjalanan saya ke lokasi ini demi menguras keringat.