Sabtu, 30 April 2022 jam 06.30
.
Hari terakhir di bulan april. Rasanya malas bangun hari ini, berharap bisa rebahan agak siangan.Hp ku bergetar, kulihat ada 3 panggilan tak terjawab dari Ibu. SEdetik kemudian, panggilan Ibu masuk lagi. 'Baru bangun, Lind?' Kujawab 'Hm'. Anetrin Ibu kepasar ya, kemarin ada yang kelupaan'...Lima menit kemudian, aku sudah membonceng Ibu kepasar yang tak jauh dari rumah. Suasana pasar pagi itu masih cukip ramai. Suara riuh rendah orang berjual beli, tawar menawar harga, tersenyum, tertawa,berharap pulang membawa berkah bagi keluarga dirumah. Senang rasanya melihat keramaian menjelang hari raya ini. Tidak sekelam dua kali hari Raya di tahun tahun sebelumnya.
Tidak lama akudan Ibu berada dipasar. Mungkin hanya dua puluh hingga tiga puluh menit kami berada disana. Dan kebutuhan yang Ibu beli juga tidak terlalu banyak. Mendekati tempat parkir kendaraan, aku tertarik pada jajaran penjual bunga. Setelah aku mendekati nya, ternyata dia kawan masa kecilku dulu. Kami sempat satu kelas di sekolah dasar. Dia masih mengenaliku dengan baik, 'Linda ya? Yang dulu sekolah di SD Coblong? Masih inget ga sama Novi? Dulu waktu kelas 6 kita satu kelas. Agak ragu kujawab, 'lupa lupa ingat sih. heheh. Kamu apa kabar?' Sambil mengobrol dengan Novi, Ibu berbisik ditelingaku, 'Lind, Ibu mau bunga'. Kujawab,'Iya sok dipilih dulu'. Ibu memilih sebuah bunga Crysant warna kuning, katanya Ibu dirumah belum ada bunga warna kuning. Kulihat bunga bunga Novi masih cukup banyak, lantas aku pun membeli beberapa bunga Crysant lainnya. Ibu bilang ini kebanyakan, aku bilang tidak apa apa. Aku ingin rumah Ibu cantik. Kemudian Ibu berkata, 'kamu mah mau beli bunganya, ngerawat nya ga mau'. Usai berpamitan dengan Novi, aku kembali membonceng Ibu pulang.
Sepi rasanya saat tiba dirumah. Anak ku satu satu nya memilih ikut mudik ke Jambi, kota kelahiran adik iparku. Dipaviliun tinggal aku sendiri, maka aku pun memilih untuk menghabiskan waktu dirumah Ibu. Halaman rumah Ibu sedikit lebih cantik sekarang karena bunga bunga yang ada makin beragam warnanya. Namun semua bunga bunga nya ditempatkan dalam pot. Yaa...lahan dirumah Ibu tidak lagi mencukupi untuk bisa ditanami tanaman - tanaman besar. Kiri kanan depan belakang sudah diaspal dan ditembok. Beginilah kehidupan kami ditengah kota yang semakin terkurung tembok tembok beton rumah tetangga. Sebetulnya ada satu tanaman yang sangat ingin aku miliki, tanaman kemboja. Warna bunganya cantik dan yang paling menggoda adalah wangi khas nya. Aku sempat mengutarakan keinginan menanam bunga kemboja dirumah, namun ayah malah mengecilkan hatiku, 'mau ditanam dimana? Kemboja itu untuk ditanam ditaman bukan di pot'. Okay..sudah skip!
Sabtu, 30 April 2022 jam 09.30
Selesai mandi, aku melajukan kendaraan ku ke Cipageran Cimahi. Ada sedikit urusan dirumah Bapak dan Ibu Bimo. Sosok keluarga yang meskipun tajir melintir yang tinggal di rumah yang kusebut itu mansion karena luasnya dua kali lapangan bola, namun sikap dan keseharian mereka amatlah sangat sederhana. dari mereka aku belajar untuk tetap down to earth, low profile dalam situasi apapun. Usai bercakap cakap dengan Ibu hampir dua jam lamanya, aku pamit. Ibu memberiku satu kotak penuh paket lebaran yang terpaksa ku bongkar karena tak muat di motor. Isi paket lebaran tersebut aku susun dan rapihkan dalam tas ransel yang kubawa. Pikirku, kebetulan sekali bawa backpack yang bisa muat banyak. Selesai nge-pack, akupun pamit. Mengucapkan maaf lahir bathin kepada Bapak dan Ibu Bimo. Menyusuri jalan Cipageran, tak sadar aku telah sampai di alun alun kota Cimahi...Aaahhhh Tengah Kota lagi.
Melewati batas kota Cimahi dan memasuki kota Bandung, aku teringat salah satu sahabat lama yang tinggal di Nata Endah Kopo. Semalam dia mengabariku sudah ada di Bandung dan memintaku menemuinya di Kopo. Maka dari Cimahi aku melajukan motorku ke Kopo. Kalau kupikir pikir, jalanan hari itu tidak seramai dan sepadat biasanya. Begitupun saat melewati jalan Soekarno Hatta yang merupakan main road di Bandung sekaligus jalan lintas provinsi. Jalan layang di Soekarno Hatta hampir rampung, mungkin sudah sekitar tujuh puluh persen. Tepat melewati salah satu kolong jembatan untuk memutar, aku masih melihat para pekerja yang tengah bekerja. Ya mereka bekerja keras untuk menghidupi keluarga dirumah. Sama seperti aku, yang hingga saat ini masih terus berjuang meski sendirian. Tiga puluh menit melajukan kendaraan melintasi jalan Kopo, aku tiba di komplek perumahan Nata Endah, sebuah rumah modern minimalis dan dua kendaraan terparkir didalamnya. Umi keluar dari dalam rumah, menyambutku seperti bertemu anak perempuan, memelukku sambil terus berucap, 'MasyaAllah Lind...sekian belas tahun kamu menghilang, Ummi kangen.'Kujawab, iya Ummi, linda juga kangen Ummi. Dari balik pintu, sosok tinggi tegap berambut pendek muncul, 'Hi, dherr.' sapaku. Dia tak menjawab melainkan bergantian memelukku dengan Ummi.Matanya berkaca kaca. Lama aku dan Dherry berpelukan dihalaman rumahnya,sementara Ummi sudah masuk kembali kerumah. Dherry mengajakku masuk, tak henti menggenggam tangan sambil terus menatapku. sesekali dia membetulkan hijabku.
Dherry, begitulah sosok lelaki yang usianya tiga tahun lebih muda dari ku. kami bersahabat semenjak duduk di bangku kuliah. Lebih tepatnya sempat ada kisah kasih yang terjalin diantara kami belasan tahun silam. Yang kuingat dari Dherry adalah seberapa kesal dia atau semarah apapun dia kepadaku atau Ibu nya, Dherry tak pernah sampai hati memukul perempuan. Baginya perempuan adalah makhluk lembut yang harus dia lindungi. Bagi Dherry, dia lebih baik melukai dirinya sendiri daripada harus menyakitiku atau Ibunya. Jika dirunut kebelakang, hubungan kami tidaklah berakhir dengan kata putus, melainkan satu sama lain memilih pasangan hidupnya masing masing. Hingga awal tahun ini kudengar Dherry, memutuskan mengakhiri pernikahannya. Dherry memasuki kembali kehidupanku awal tahun ini, Instagram menjadi sarana kami berkomunikasi. Berungkali Dherry memintaku menemuinya namun aku selalu menolak dengan berbagai alasan. Bagiku yang terpenting saat ini hanyalah karir dan masa depan anakku. Dherry berusaha memahami itu, tapi usahanya untuk membujukku menemui gigih juga. Hingga sepekan lalu, tiba tiba sebuah panggilan tak dikenal masuk ke ponsel ku. Ketika kuangkat, suara Ummi terisak, meminta ijin untuk menemuiku. Hingga akhirnya, here I am!
Lama Dherry terdiam, aku tahu, hati kami sama sama menahan luka akibat ketololan belasan tahun lalu. Andai saja Dherry tak langsung mengandeng perempuan lain saat kami marahan saat itu, hingga membuat ku memutuskan menikah dengan laki laki yang baru kukenal beberapa bulan saja dan bertahan hanya untuk tiga tahun saja. Ahh sudahhhh....mengingat peristiwa itu, membuat diriku marah pada diriku sendiri.Dherry akhirnya membuka pembicaraan kami siang itu,dia bertanya seputar keluarga, anak dan hobby ku sekarang. Dia tak pernah berubah, mata yang menatapku lembut tak pernah berubah. Ahhh...Siallll, jangan sampai aku jatuh cinta!
Hampir pukul tiga ketika aku berpamitan pulang. Ummi menahanku untuk pulang karena diluar tengah hujan deras. Aku beralasan, ada keperluan lain yang harus kuselesaikan sebelum petang. Obrolan ku dan Dherry berakhir mengambang.
Tengah kota, 30 April 2022.
Hujan benar benar mengeluarkan seluruh energi nya sore itu.