Pada bulan Juli, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan kondisi Rumah Sakit di Jakarta mulai menjadi lowong setelah penuh dengan pasien Covid-19. Kasus Covid-19 di Jakarta pun mulai menurun setelah terjadi kenaikan kasus di pertengahan Juni. Namun, rumah sakit tetap harus bersiaga dan warga tetap harus berwaspada dan menjaga protokol kesehatan agar kondisi tidak memburuk.
Kasus Covid-19 di Jakarta terlihat sudah mulai terkendali setelah mengalami kenaikan kasus di bulan Juli. Berdasarkan data di corona.jakarta.id, penambahan kasus harian pada tanggal 25 Juli 2021 tercatat sebanyak 5.393 kasus. Sedangkan pada tanggal 12 Juli 2021 ketika terjadi kenaikan kasus yang cukup tinggi tercatat sebanyak 14.619 kasus. Hingga Minggu (25/7/2021), Jakarta juga mencatatkan penurunan kasus aktif hingga 64 ribu, dibandingkan sebelumnya yang pernah di angka 113 ribu.
Kapasitas rumah sakit sudah mulai lowong. Dari data Dinas Kesehatan DKI Jakarta hingga Minggu (25/7/2021), ruang Rawat Inap terisi 73%, ICU terisi 89%, dan rumah sakit Darurat Wisma Atlet terisi 50%. Di beberapa rumah sakit pun tenda daruratnya juga sudah mulai kosong. Seperti pasien Covid-19 di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur, yang awalnya sempat dirawat di tenda darurat kini sudah dirawat di dalam gedung rumah sakit. Meskipun tidak ada pasien, tetapi tenda darurat tetap terpasang.
Tingkat keterisian rumah sakit di Jakarta juga mengalami penurunan. Kemenkes mencatat hingga Senin (26/7/2021), tingkat keterisian RS di Jakarta untuk perawatan Covid-19 kini sudah menurun hingga 65%. Tingkat keterisian RS yang paling tinggi yakni Jakarta Pusat 81%, Jakarta Barat 77%, Jakarta Selatan 76%, Jakarta Timur 66%, Jakarta Utara 54%, dan Kepulauan Seribu 33%. Pada 4 Agustus, Anies juga menyatakan keterisian tempat tidur bed occupation ratio atau BOR di rumah sakit saat ini sudah 56 persen dan ruang ICU 79 persen. Di saat pertengahan Juli lalu, keterisian tempat tidur di rumah sakit untuk pasien isolasi mencapai angka 94 sampai 95 persen. Sehingga kondisi saat ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kondisi pertengahan Juli lalu.
Dari data-data di atas kita bisa lihat kasus Covid-19 dan kondisi rumah sakit di Jakarta nampak sudah membaik. Namun sebenarnya apa yang membuat hal tersebut terjadi agar di kedepannya kita tetap bisa membuat situasi menjadi membaik. Menurut Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky, ada beberapa faktor yang dapat mendorong terjadinya penurunan kasus. Faktor pertama adalah sebagian sudah terpapar Covid-19 di awal pandemi sehingga memperoleh kekebalan. Data dari International Health Metrics menyatakan hampir 30 persen dari total penduduk Indonesia sudah terinfeksi sejak awal pandemi, dan pada puncak gelombang kedua yang terjadi di pertengahan tahun ini diperkirakan ada sekitar 10-15 persen penduduk yang memperoleh kekebalan setelah terinfeksi Covid-19. Lalu faktor keduanya adalah pengaruh dari vaksinasi. Meski pada puncak kedua cakupan vaksinasi masih berada di kisaran 20 persen, itu cukup berperan dalam mencegah meluasnya penularan. Faktor ketiga adalah keberhasilan PPKM dan faktor terakhir adalah kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan.
Sekarang, angka positif harian menjadi 118 kasus berdasarkan data corona.jakarta.go.id pada tanggal 5 November 2021. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito juga mengatakan positivity rate juga turun drastis mencapai 0,56 persen, dibandingkan dengan angka positivity rate yang sempat mencapai 26,76 persen pada puncak kedua. Angka positivity rate tersebut sudah dibawah rekomendasi ideal Badan Kesehatan Dunia (WHO) yaitu di bawah 5 persen.
Namun meskipun situasi sudah terlihat aman, protokol kesehatan tetap harus diterapkan dan pemerintah tetap perlu mengawasi PPKM bertingkat agar kondisi baik ini dapat terus dipertahankan. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono mewanti-wanti akan kenaikan kasus yang bisa saja terjadi jika tidak ada penguatan sistem. Seperti pada lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di Amerika dan Inggris meskipun hampir seluruh warganya sudah divaksinasi. Menurutnya rumah sakit harus disiagakan untuk menghadapi lonjakan-lonjakan kasus baru yang mungkin terjadi di beberapa tempat. Lalu menurut Dicky juga ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan kondisi. Hal pertama adalah meratakan distribusi vaksinasi, karena di dalam Jawa vaksinasi masih banyak di aglomerasi. Ia juga meminta pemerintah untuk terus meningkatkan kapasitas 3T (test, trace, and treat).
Dengan kasus Covid-19 yang menurun, kini rumah sakit yang mulai lowong, dan kondisi yang terlihat membaik di Jakarta, situasi tetap harus dijalankan dengan tetap menerapkan hal-hal yang perlu diterapkan selama pandemi dan selalu bersiap. Pastikan kondisi baik ini dapat dijaga selama mungkin dan tidak kembali memburuk.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Henlo, ini adalah artikel eksposisi yang saya tulis sebagai salah satu karya yang dibuat di semester kedua C: