So, if the idea of every single event is part of the master plan, what is the point of living? Tiba-tiba pertanyaan ini muncul dalam benak saya. Orang selalu senang mengatakan bahwa sudah menjadi takdir, maka apapun yang terjadi dalam hidup akan mengarah pada satu titik yang sudah ditentukan. Pertanyaannya apakah memang begitu? Sekali lagi seperti yang sudah saya tuliskan di awal esai ini, jika setiap kejadian dalam hidup merupakan bagian dari sebuah rencana besar, lalu apa gunanya kita hidup? Apa gunanya kita terus berjuang dengan berbagai keinginan dan cita-cita jika akhirnya di ujung kehidupan kita memang sudah dicanangkan. Hmm... menarik bukan?
Saya suka kutipan dari sebuah film drama yang pernah saya tonton. Diawalnya saya suka karena menggambarkan musim dingin menjelang Natal di New York, tempat yang selalu digambarkan penuh keindahan di musim dingin. Kutipannya berbunyi begini: Life is not merely a series of meaningless accidents or coincidences, but rather, it's a tapestry of events that culminate in an exquisite sublime plan. Pada intinya segala sesuatu yang terjadi dalam hidup itu selalu punya arti, atau ada yang mengatakan segala sesuatu terjadi for a reason dan semuanya merupakan bagian dari sebuah rencana yang luar biasa. Hmm... lagi lagi begitu akhirnya. Apa betul?
Saya selalu percaya bahwa takdir dapat diubah. Entah keyakinan saya itu betul atau tidak, tapi saya tidak mudah begitu saja percaya bahwa takdir kita sudah ditentukan. Kalau memang sudah ditentukan logikanya apapun yang saya lakukan tidak lagi menjadi signifikan karena ujungnya pasti ke arah yang sudah dicanangkan. Lalu apa gunanya berjuang mati-matian? Kalau sudah pasti ke sana ya bermalas-malasan saja, atau asal-asalan saja. Tidak, menurut saya kita mempunyai keingan yang bebas, hasrat yang tinggi yang dapat menentukan berbagai pilihan yang kita bisa ambil.
Iseng saya cari tahu tentang fate dan destiny. Hal-hal ini sering iseng saya aduk-aduk dalam permenungan. Saya masih terus belajar mengerti tentang kehidupan, berusaha mencari berbagai arti dan makna hidup. Pendapat saya terus berubah, berkembang kadang malah penuh keragu-raguan, kadang begitu kuat dalam keyakinan. Yang saya peroleh seperti ini : Fate is often conceived as being divinely inspired. Fate is about the present, where every decision an individual has made has led them to their present scenario. However, Destiny is the future scenario, which cannot be determined by decisions an individual will make.
Membingungkan! Lebih parah lagi jika dalam bahasa Indonesia Fate dan Destiny diterjemahkan menjadi satu kata yang sama: Takdir! Hahaha... Kutipan barusan saya ambil dari wikipedia, mengatakan bahwa fate adalah tentang saat ini yang merupakan akibat dari keputusan-keputusan yang telah dibuat di masa lampau, sementara destiny membicarakan masa depan yang tidak dapat ditentukan oleh keputusan-keputusan yang akan diambil. Sakit kepala saya!
Apakah kita dapat mengatur takdir? ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Saya bahkan yakin bahwa ini adalah pertanyaan yang tidak mungkin dapat dijawab. Kalau takdir diibaratkan seperti hari yang dimulai dengan munculnya matahari di Timur dan berakhir dibarat, mungkin saya bisa mengerti. Tidak ada yang mampu menahan waktu, tidak ada yang bisa mengatur bumi berputar mengitari matahari. Yang dapat kita lakukan adalah bagaimana kita memandang fajar, menikmati warna dan kehangatan matahari, lalu bersyukur ketika matahari terbenam dan mengagumi keindahannya. Sepertinya tidak penting lagi saya memikirkan takdir, yang harus saya fokuskan adalah bagaimana saya menjalani hidup ini. Tidak peduli sudah diatur atau tidak, tidak masalah itu merupakan fragmen-fragmen yang merupakan bagian dari rencana luar biasa, yang penting bagaimana saya mendalami prosesnya, bagaimana mengapresiasi perjalanan hidup ini, karena itu yang sebetulnya merupakan the point of living! It is not the the destination where we are heading, but the experiences we are treasuring! That is the point of living!