AES17 Disambangi si Marah
matheusaribowo
Saturday March 26 2022, 8:25 PM
AES17 Disambangi si Marah

Beberapa hari ini saya mengijinkan si Marah untuk singgah. Tentu saja tidak lantas menjadikan rumah diri saya berubah menjadi rumah kemarahan. Rumah diri saya tetaplah rumah saya yang netral, tidak berubah karena siapa tamu yang datang. Saya tetap berusaha menjadi tuan rumah yang baik bagi tamu-tamu emosi saya. Si Marah pun saya persilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Dalam tiga tarikan napas, saya menemaninya berbincang, dan mencari tahu lebih dalam tentang asal dan alasan ia datang. Dengan hidangan wajah cemberut dan sesekali napas memburu, kami berbincang begitu akrab. Hingga larut malam tiba, si Marah menyerah dan memberitahu asal dan alasannya datang berkunjung kali ini.

Ternyata si Marah datang karena saya masih terganggu dengan lisan dan perlakuan orang lain di luar sana. Justru ia yang berbalik menanyakan alasan saya terganggu dengan hal itu. Untuk menjawabnya, saya seduh secangkir kerut di wajah. Sembari sesekali memicingkan mata. Saya menjadi bertanya-tanya pada diri sendiri. 

"Iya juga, ya. Mengapa saya terganggu dengan hal di luar diri saya? Padahal kata Gobin, manusia tak pernah bermasalah dengan hal di luar dirinya." 

Ternyata si Marah tahu yang saya pikirkan, ia menatap saya dengan ekspresi anak-anak yang kesal karena mainannya diambil orang. 

"Oh, jadi ini alasan si Marah datang. Karena saya masih terganggu dengan lisan dan perilaku orang lain."
Sekali lagi saya berucap dalam hati.

Perlahan-lahan, perbincangan mulai menemukan alurnya. Saya keluarkan kudapan berikutnya untuk si Marah. Sepiring bibir kering dan tatapan mata kekecewaan sudah terhidang di meja tamu. Tak tersembunyi lagi kekecewaan saya atas latihan-latihan diri selama ini. Diri ini begitu yakin tidak akan lagi terikat dan melekat pada hal di luar diri. Ternyata itulah asal muasal si Marah datang, karena masih ada kemelekatan di dalam diri saya. Kemelekatan yang melahirkan rasa memiliki, membuat saya marah ketika apa yang saya miliki terganggu. Padahal jika kita menyadari bahwa kita tidak memiliki apapun, bahwa segala hanya pemberian dan titipan Sang Hidup, maka tak ada kemelekatan. Dengan tidak adanya kemelekatan dan rasa memiliki, berarti takkan ada rasa kehilangan dan tak ada ketakutan atas hal yang dirasa dimiliki. 

Tepat pukul 00.11 tengah malam tadi, semua kudapan yang terhidang di meja tamu sudah habis. Si Marah tampak ingin segera ijin pulang dan pergi dari rumah diri saya. Dengan salam perpisahan dan ucapan terima kasih, saya mengantarnya ke beranda. Sekarang saya sudah tahu alasan dan asal muasal si Marah datang ke rumah diri saya. Dan pagi ini saya sudah bisa bangun tanpa ada tamu si Marah di rumah diri saya. Sehingga saya bisa kembali fokus membenahi sisi-sisi diri yang disampaikan oleh si Marah.