"Kak, kita mau ke Eropa Kecil, ya?" Celetuk semangat dari bibir mungil yang sedari tadi menganga menyimak penjelasan Kakak tentang kegiatan seru esok hari. Bisa dibayangkan kemudian, imajinasi dan penasaran yang membara di dalam pikiran dan hati Kawan Sajojo. Pagi merekah dengan riangnya, tas dan perlengkapan semua sudah tersedia di Longpus. Pemiliknya? Tentu saja tengah berlarian memanfaatkan sinar mentari pagi sebagai bahan bakar utamanya. Setelah semua siap, kami berangkat menuju Titik 0 Km Kota Bandung yang menjadi tempat pertama untuk kami mencari keterkaitan kota tempat tinggal kami ini dengan Eropa, atau Belanda pada khususnya.
Teriknya matahari yang mulai merangkak naik sama sekali tak melunturkan semangat Kawan Sajojo menyusuri eloknya Jalan Braga. Setelah menyaksikan kemegahan gaya art deco pada bangunan Hotel Savoy Homann yang adalah hotel pertama di Kota Bandung, Kawan Sajojo juga bersemangat menanyakan cerita dari Warenhuis De Vries (toserba pertama di Bandung). Plakat bangunan Apotek Kimia Farma, ornamen Kala, Stilasi Bandung Lautan Api yang bertuliskan lirik Lagu Halo Halo Bandung pun begitu menarik perhatian Kawan Sajojo. Lagu Halo Halo Bandung pun dinyanyikan dengan merdu di samping bangunan Denis Bank yang mirip dengan Savoy Homann. Duduk merasakan kursi De Majestic (eks Bioscoop Concordia) juga menjadi pengalaman tersendiri. Sembari membayang dahulu orang-orang Belanda menyaksikan film bisu di sana. Ya, disebut film bisu karena hanya video tanpa suara, suaranya dari komentator yang disewa untuk mengomentari jalannya film.
Perjalanan menyusuri Jalan Braga berlanjut dengan misi, mencari sebuah toko dengan aroma roti yang menyembul dari dalamnya. Berhasil! Kawan Sajojo menemukan pintu Het Snoephuis (ada yang tahu namanya sekarang apa?) di antara lukisan-lukisan seniman Braga yang berjajar di dinding toko. Tak perlu berlama-lama, semua Kawan Sajojo sudah berjajar di hadapan lemari roti. Rasa penasaran berlomba dengan perut lapar memperebutkan fokus dan perhatian. Alhasil, lapar menjadi pemenangnya. Dalam sekejap Kawan Sajojo sudah duduk manis menanti bitterballen dan es krim. Tak butuh waktu lama juga untuk menyisakan piring dan cangkir es krim di meja. Karena dihabiskan dengan Teman Silih dan sebagian ingat orang tua di rumah, sehingga cepat-cepat menyimpan di wadah bekal kosong. Masih banyak cerita seru di ujung Braga. Bekas toko buku Van Dorp, rel kereta api, gedung Bank Indonesia (eks Javasche Bank) yang berhasil diintip bunkernya, dan area taman di halaman Balaikota yang dulu menjadi area bermain siswa-siswa Kweekschool te Bandoeng (sekarang Mapolrestabes Bandung).
Sebelum makan siang bersama, Kawan Sajojo tertarik dengan patung dada Raden Dewi Sartika. Kini mereka tahu, pejuang pendidikan perempuan bukan hanya RA. Kartini. Tetapi juga Raden Dewi Sartika dengan membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pada tahun 1904, bahkan dianugerahi bintang jasa dalam bidang pendidikan oleh pemerintah Hinda-Belanda kala itu. Semoga semangat Raden Dewi Sartika terus menari di benak Kawan Sajojo.
Perjalanan pulang dari outing biasanya sepi karena semua tertidur kelelahan, berbeda dengan kali ini, sepanjang jalan masih saja Kawan Sajojo bercerita dan berbagi amatan tentang apa yang dilihat dan dirasakan selama bernostalgia di Jalan Braga. Oh iya, judul dan cerita-cerita dalam outing kali ini diambil dan terinspirasi dari buku Pak Sudarsono Katam dengan judul Nostalgia Bragaweg Tempoe Doeloe 1930-1950.
Sedikit cerita outing Kelompok Sajojo (SD3) Semi Palar ke Jalan Braga.
Dokumentasi oleh: Kak Ian
Terima kasih sudah jalan bareng anak-anak kak Mamat! Ceritanya aku share ke ortu Sajojo lain ya