Pagi di Smipa selalu memiliki rasa yang khas. Bila kamu memilih hidung sebagai cara memahaminya, coba indrai pagi di Smipa sebagai kepulan asap tipis yang segera muncul ketika kita membuka tutup penanak nasi. Dari jalur telinga, pagi di Smipa serupa ricik air di sungai yang dekat dengan mata air. Melalui peraba, kita bisa mengenal pagi Smipa dari tepuk atau usap lirih pada pundak yang seringkali tak sengaja tegang. Pada lidah yang menyesap kuah sop ayam buatan orang tercinta di kala dingin hujan bertemu hangat di badan, kita rasakan paginya Smipa. Lengkap dengan rasa bawang putih dan rempah yang menyapa lidah-lidah kelu. Melalui pandangan mata, paginya Smipa sering terlukis pada kanvas langit yang menaungi pemandangan pucuk-pucuk bukit berjajar di kawasan Bandung utara selepas hujan. Tarian awan mewujud kabut tebal-tipis menyelinap di antara pepohonan serta lembah dan puncaknya. Tak ada suara di sana, hanya ada perasaan yang tak bisa diterjemahkan dalam satu-dua kata bahkan kalimat-kalimat selain tanya.
Seperti pagi tadi. Langit lebih memilih memberi cahaya terang ketimbang mendung yang "harus" berarti murung. Jerit merdu tonggeret pun lebih dipilih menjadi latar suara ketimbang bunyi-bunyi klakson pengendara di jalanan kota yang entah mengapa selalu terburu-buru. Seorang anak berusaha menjaga sedihnya dari serbuan tanya-tanya rasa iba dan kepedulian teman-temannya. Tersiar kemudian, ia bersedih atas kematian kucing peliharaannya. Melihat air mata dan raut sedih yang tak terbendung, seorang teman berusaha menawar kesedihan sahabatnya dengan ringan tanpa niat apa-apa, "Nggak papa, nanti aku buatin makaroni yang enak biar kamu nggak sedih lagi."Β
Mungkin kita punya dosa terhadap rasa sedih. Seperti menyediakan beras kencur setelah meminum jamu pahitan (brotowali atau sambiloto). Kita senang menciptakan kutub dan "di antara" pada hal-hal yang semestinya bisa duduk bersama. Kita sering lupa bahwa rasa sedih berbeda dengan perasaan sedih. Bahwa rasa itu murni dan perasaan adalah olahannya. Bahwa kemurnian tidak selalu perlu diikuti oleh olahan yang tergesa. Maka jawab seorang anak yang tengah merasa sedih itu membuat saya menulis pagi ini, "Food can't replace sadness."Β
Bukan tentang apa yang menggantikan rasa sedihnya, bukan tentang kepedulian teman lain yang tentu saja layak atas apresiasi, namun lebih kepada menerima sedih sebagai sedih tanpa upaya segera "menggantikannya". Bahwa kembali dari rasa sedih bukanlah kepada rasa senang, namun keadaan netral, berada di antara, tidak pada kutub satu maupun salah satu lainnya. Mungkin ini yang dimaksud ungkapan Jawa, "Dadi wong iku ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan!"Β
"Jadilah manusia yang tidak mudah heran (exited) berlebih, tidak mudah kecewa, dan tidak mudah "kaget" dalam arti khawatir." Untuk memberi waktu pada segala sesuatu, sedari tetes demi tetes mata air membentuk sungai, bertemu muara, dan menjadi samudra rasa.Β
Bagus banget ini ceritanya kak Mamat. Terima kasih. ππΌππ€
Dengan senang hati, Kak Andy.