AES103 Guru untuk Siapa saja?
matheusaribowo
Monday August 31 2026, 12:52 PM
AES103 Guru untuk Siapa saja?

Berkesempatan hadir karena turut ter-undang dalam "konser batin" Abah Iwan Abdulracman di Dusun Bambu beberapa waktu lalu. Apa yang saya alami sangat sulit untuk bisa dirasakan juga oleh pembaca, tetapi ini ceritanya.

Sebab teramat banyak wejangan baik dalam seluruh rangkaian acaranya, jadi saya hanya mencoba memetik beberapa buah yang cukup menarik bagi saya. Ialah beberapa kata yang "paling" sering diucapkan oleh Abah Iwan kala ia menebar benih nasehat; pengalaman batin, tegak, lentur, tenang, dan rasa hormat (dignity).

Pengalaman batin, bahwa setiap syair dan lirik lagu-lagu karya Abah Iwan selalu dan hanya berdasar dari peng-alam-an batinnya. Dalam aktivitas, interaksi, dan perenungan yang sunyi bersama dan di alam terbuka. Sehingga ia selalu mengatakan bahwa pohon, tanah, bunga, bintang, angin, tebing, bulan, daun, matahari, burung, adalah gurunya, tempatnya belajar. 

Tegak, menjadi tegak yang berarti teguh pada nilai-nilai kebaikan. Kepada suluh spiritual baik agama maupun kepercayaan masing-masing. Di tengah segala hal yang bergeser, luntur, dan berubah, tetaplah tegak dan teguh pada kebaikan tersebut.

Lentur, tetap selaras dengan tegak, bukan berarti terbawa arus. Lentur berarti adaptif dan memiliki resiliensi terhadap derita atau kesulitan zaman. Pengalaman Abah Iwan, saat harus survival di tengah hutan, ketika kita bisa "lentur", menyesuaikan diri, memahami cara kerja alam (tumbuhan, tanah, air, hewan, udara, bintang, dll), justru alam yang merawat dan menjaga kita. Di luar hutan, menjadi lentur berarti "ngigelan zaman" / menari di atas arus zaman, tanpa terbawa arus (baik secara emosi, prinsip, dan nilai-nilai kebaikan).

Tenang, berarti memberi jeda dan waktu refleksi dari setiap peng-alam-an yang didapatkan. Hening, dalam keadaan batin yang tenang, akan mengundang jawaban untuk datang. Jawaban atau "insight" datang bukan saat kita sibuk mencari dan takut (kuatir). Justru saat kita mampu "Tenang dalam Gelombang".

Rasa hormat (dignity), ialah ketulusan yang mewujud dalam karya. Berkarya, berkreasi, mencipta segala sesuatu sesuai talenta kita masing-masing, dengan sepenuh hati. Karya menjadi jembatan yang mengantarkan nilai kebatinan kepada hati (makhluk hidup) lain. Seperti dalam kalimat Abah Iwan, "Dengerin lagu saya mah bisa di youtube, ge. Tapi tong saukur ngadenge, ngadengekeun! Kudu ngadengekeun!" Makna kata "Ngadengekeun" ini yang saya artikan sebagai proses transfer nilai dan peng-alam-an kebatinan dari Abah kepada pendengar. Yang dalam teknisnya, Abah menyuarkan gelombang, dan "telinga" setiap yang hadir (bergerak aktif) menghampiri, menyambut, dan menerima gelombangnya. Menjadi pendengar aktif yang dengan ini akan diterima dan disesuaikan dengan batin masing-masing pendengar, menjadi sangat personal (mengena).

Terima kasih kebaikan! Hatur nuhun sagala yang berperan untuk pertunjukkan indah ini.

You May Also Like