Ketika bersiap masuk ke kelas lalu berjalan di lorong sekolah, terdengar suara murid sedang berdiskusi dengan salah satu guru. Nampak mereka sedang berdiskusi bahkan menuju berdebat perihal kenapa rambut tidak boleh panjang ketika bersekolah.
βSir kenapa rambut ga boleh panjang? Bukannya Nabi Muhammad juga rambutnya panjang ya?β
Memang saya juga pernah membaca ada beberapa hadis yang menunjukan perihal rambut Nabi Muhammad SAW yang menyentuh daun telinga. Bukan hanya menyentuh daun telinga, ada juga yang menunjukan Nabi Muhammad pernah menyemir ubannya dengan warna selain warna hitam. Hadis-hadis ini tentunya harus dicek juga oleh para pembaca apakah shahih (kuat) atau dhaif (lemah) riwayatnya.
Kembali lagi ke adegan perdebatan tadi yang pastinya membuat kita penasaran jawaban apa yang akan diberikan oleh sang guru. Sayang seribu sayang saya sebagai saksi hidup perdebatan ini sudah terlebih dahulu masuk ke kelas karena saya pun tidak mau tiba-tiba berhenti berjalan untuk terlibat di perdebatan ini.
Pertanyaan dari siswa ini terus terngiang di pikiran saya dan pada akhirnya saya coba putuskan bertanya ke Wakasek bagian kesiswaan sekolah. Beliau masih cukup muda dan juga berwawasan cukup luas baik tentang pengetahuan agama ataupun perihal pengetahuan umum, maka saya pikir cukup tepat saya bertanya ke beliau perihal pertanyaan siswa ini.
Jawaban beliau cukup nyeleneh namun masuk akal. βKenapa siswa rambutnya tidak boleh panjang padahal Rasulullah juga rambutnya panjang? Karena siswa tidak boleh lebih keren daripada gurunya! Kita juga pengen dong rambut panjang terus disemir warna, cuma kan guru di pandangan orang tua sekolah kita belum bisa berpenampilan begitu.β
Ada benarnya juga, saya yakin di lubuk hati paling dalam guru-guru ketika melihat John Lennon atau Keanu Reeves di film John Wick berambut panjang, berjas, sambil membawa pensil (tentu pensilnya tidak digunakan seperti cerita di filmnya) itu keren.
Dalam dunia pendidikan saya masih percaya suri tauladan adalah kunci utama dalam mendidik. Jangan heran siswa sampai jauh-jauh membawa nama Nabi Muhammad karena tentu di Sekolah Islam beliau adalah suri tauladan utama. Ketika guru mau membuat peraturan, hal yang paling pertama harus dipastikan apakah guru itu sudah bisa menjalankan aturannya itu sendiri? Kedua, apakah aturan ini tidak bertentangan dengan kenyataan yang siswa akan temui ketika bermasyarakat?
Sangat tidak mudah untuk merubah aturan-aturan yang kurang logis karena sekolah membuat aturan pun biasanya berdasarkan stigma yang ada di masyarakat atau yang diharapkan orang tua ada di sekolah anaknya. Pertanyaannya, sampai sejauh mana kita bisa menghapus peraturan yang ada? Akankah nurani kita cukup sebagai acuan dan menahan nafsu pribadi yang ingin menghapus peraturan tertentu?
Inilah salah satu tugas paling berat dari seorang guru, untuk mencontohkan sekaligus duduk berdiskusi bersama para siswa memastikan nurani tidak bercampur dengan nafsu pribadi. Ing Ngarso Sung Tulodo.
Pecah Telor. π³ππΌπ. Terima kasih kak Maul untuk esai pertamanya.
Alinea ini bagus ya. apakah guru itu sudah bisa menjalankan aturannya itu sendiri? Kedua, apakah aturan ini tidak bertentangan dengan kenyataan yang siswa akan temui ketika bermasyarakat?
Karena ada 3 sadar itu. Sadar Diri, Sadar Lingkungan dan Sadar Tujuan. ππΌπ
Betul Kak Andy, sepertinya 3 sadar ini bisa dijadikan acuan utama agar guru bisa jadi teladan yang baik hehe.